O.M Kacau Balau, band asal Klaten yang membawa warna berbeda dalam musik orkes. (Facebook)SOLOBALAPAN.COM - Kalau ngomongin band asal Klaten yang punya konsep musik berbeda, nama O.M Kacau Balau layak diperhitungkan. Bukan karena namanya saja yang terdengar nyeleneh, tetapi juga karena mereka membawa musik orkes dengan racikan yang tidak biasa.
O.M Kacau Balau atau Orkes Mursal Kacau Balau dibentuk pada 2018. Grup ini berasal dari Klaten, Jawa Tengah, dan menjadikan orkes sebagai dasar bermusik. Namun, warna musiknya kemudian dipadukan dengan sentuhan surf rock, rock, punk, hingga unsur musik etnik Nusantara.
Baca Juga: Tari Remo Branjang Kawat, Inovasi Tari Remo yang Menghidupkan Kembali Remo Tobong dan Remo Teropan
Perpaduan tersebut membuat musik O.M Kacau Balau terdengar berbeda. Irama orkes tetap menjadi bagian utama, tetapi pengaruh dari berbagai genre lain membuat lagu-lagu mereka tidak terdengar seperti orkes dalam bentuk yang umum dikenal.
Keunikan itu juga terlihat dari liriknya. Mereka menggunakan humor dan sindiran untuk membicarakan berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di balik lirik yang terdengar ringan, terdapat kritik mengenai persoalan sosial dan politik.
Salah satu contohnya adalah lagu “Oknum”. Lewat lagu tersebut, O.M Kacau Balau menyampaikan kritik sosial dengan gaya yang tetap jenaka. Ada pula “Ternyata Di Mana-mana” yang membawa nama Klaten dalam lirik dan dikemas dengan gaya khas mereka.
Karya-karya tersebut kemudian dikumpulkan dalam album penuh pertama mereka, Party Akhir Zaman. Album yang dirilis pada April 2025 itu berisi delapan lagu dengan berbagai cerita dan keresahan yang menjadi ciri khas O.M Kacau Balau.
Judul-judul seperti “Slolo 3X”, “Ali Ditodong”, “Oknum”, “Barkobar”, “Berat”, dan “Ternyata Di Mana-mana” menjadi bagian dari album tersebut. Dari judul hingga liriknya, mereka tetap mempertahankan gaya bercanda yang menjadi identitas grup.
Karakter O.M Kacau Balau tidak hanya terlihat dari musik dan lirik. Penampilan mereka di atas panggung juga dibuat tidak biasa. Dalam salah satu pertunjukan pada 2025, vokalis mereka tampil menggunakan penutup wajah berbentuk kepala mastodon.
Baca Juga: “Veronika Bluetooth” Viral sampai Malaysia, Siapa Verry Klau dan dari Mana Lagu Ini Berasal?
Gaya tersebut menjadi bagian dari cara mereka membangun pertunjukan. Penonton tidak hanya disuguhi musik, tetapi juga tampilan panggung yang mengikuti karakter O.M Kacau Balau.
Dari Klaten, O.M Kacau Balau membawa musik orkes dengan cara mereka sendiri. Dangdut dan orkes tidak hanya digunakan untuk mengajak penonton berjoget, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan cerita, humor, dan sindiran tentang kehidupan di sekitar. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com