Micin Bikin Bodoh? Mitos dari Amerika yang Masih Dipercaya sampai Sekarang

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 19:05 WIB
MSG atau micin yang kerap dikaitkan dengan anggapan dapat membuat bodoh.(BisnisStyle)
MSG atau micin kerap dikaitkan dengan anggapan bahwa MSG atau micin membuat bodoh.

SOLOBALAPAN.COM - “Kebanyakan micin bikin bodoh” masih sering terdengar dalam percakapan sehari-hari di Indonesia. Ungkapan tersebut biasanya digunakan sebagai candaan ketika seseorang melakukan kesalahan. Namun, anggapan bahwa MSG dapat memengaruhi kecerdasan ternyata memiliki sejarah panjang yang bermula dari perdebatan mengenai makanan China di Amerika Serikat.

Awalnya, isu tersebut muncul pada 1968 melalui istilah Chinese Restaurant Syndrome. Pada 4 April tahun itu, New England Journal of Medicine menerbitkan surat dari Robert Ho Man Kwok berjudul Chinese-Restaurant Syndrome.

Baca Juga: Lapas Cibinong Punya ‘Kluster Mewah’, Kok Jadi Ingat Film 'Ghost in the Cell?'

Kwok menceritakan beberapa keluhan yang dialaminya setelah makan di restoran China, seperti mati rasa di bagian belakang leher, tubuh terasa lemas, dan jantung berdebar. Ia tidak menyimpulkan MSG sebagai penyebabnya. Dalam surat tersebut, MSG hanya disebut sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan, bersama garam dan alkohol.

Meski belum disertai bukti eksperimen yang membuktikan penyebabnya, istilah tersebut kemudian menarik perhatian dan memunculkan berbagai laporan mengenai dugaan reaksi setelah mengonsumsi MSG. Dalam perkembangannya, MSG semakin sering dikaitkan dengan keluhan seperti sakit kepala, pusing, mual, dan rasa tidak nyaman setelah makan.

Perdebatan tersebut juga berkembang dalam situasi ketika makanan China di Amerika Serikat kerap dipandang sebagai sesuatu yang asing. Kajian sejarah mengenai isu MSG menunjukkan bahwa stereotip terhadap makanan China ikut memengaruhi cara masyarakat memandang bahan yang digunakan dalam masakan tersebut.

Baca Juga: Update Hari Ke-17 Pencarian KM Virgo Transport 8: 5 Jenazah Kembali Ditemukan, 64 Korban Masih Hilang!

Stigma itu kemudian berpengaruh pada bisnis restoran. Sejumlah restoran memasang label “No MSG” untuk meyakinkan pelanggan. Di sisi lain, label tersebut ikut membuat MSG semakin identik dengan bahan yang dianggap berbahaya, meskipun hubungan MSG dengan berbagai keluhan kesehatan masih menjadi persoalan yang terus diteliti.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan bahwa laporan seperti sakit kepala dan mual memang pernah diterima. Namun, hubungan sebab-akibat antara MSG dan gejala tersebut belum berhasil dikonfirmasi secara konsisten.

FDA juga menyebut sebagian orang yang sensitif dapat mengalami gejala ringan sementara setelah mengonsumsi MSG dalam jumlah besar, terutama sekitar 3 gram atau lebih tanpa makanan. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kadar MSG yang umumnya terdapat dalam satu porsi makanan.

Baca Juga: Bukan Cuma Motorik Halus, Ini Manfaat Sensory Play dalam Pembentukan Kesadaran Spasial Tubuh Anak

MSG sendiri merupakan garam natrium dari glutamat. Senyawa glutamat juga secara alami terdapat dalam berbagai bahan makanan, termasuk tomat dan keju.

Ketika perdebatan mengenai MSG menyebar ke berbagai negara, istilahnya berkembang sesuai budaya setempat. Di Indonesia, MSG lebih dikenal sebagai micin. Kata tersebut kemudian digunakan sebagai bahan candaan untuk menyebut orang yang dianggap bodoh atau melakukan kesalahan.

Dari sinilah ungkapan “kebanyakan micin” semakin dikenal dalam percakapan sehari-hari. Pengulangan dalam candaan dan budaya populer membuat hubungan antara micin dan kebodohan terdengar seperti sebuah fakta.

Baca Juga: Hitung-hitungan Peluang Timnas Indonesia Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 usai Ditahan Imbang Malaysia!

Padahal, surat Robert Ho Man Kwok pada 1968 tidak pernah membuktikan bahwa MSG menyebabkan seseorang menjadi bodoh. Perjalanan isu tersebut justru menunjukkan bagaimana dugaan yang belum terbukti dapat berkembang menjadi persepsi yang bertahan selama puluhan tahun. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
bahan pangan hanifatuz zahra MSG micin mitos