Menjelajahi Fenomena "Dreamcore": Ketika Nostalgia, Mimpi, dan Musik Berpadu Menjadi Satu

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:30 WIB
Ilustrasi Dreamcore (gemini AI)
Ilustrasi Dreamcore.(gemini AI)

SOLOBALAPAN.COM - Di era digital saat ini, batasan antara seni visual dan audio semakin lebur melahirkan berbagai subkultur baru. Salah satu yang paling menarik perhatian generasi muda di internet adalah Dreamcore.

Meskipun awalnya lahir sebagai estetika visual surealis yang menggambarkan ruang-ruang liminal (liminal spaces) serta kenangan masa kecil yang abstrak, kini Dreamcore juga merambah ke ranah musik dan membentuk identitas sonik tersendiri.

Secara historis, estetika Dreamcore mulai menarik perhatian luas di internet sekitar tahun 2018 melalui forum daring seperti 4chan sebelum akhirnya viral di platform seperti TikTok dan Tumblr.

Baca Juga: Rahasia Kulit Kencang dan Bebas Minyak: 5 Manfaat Masker Telur untuk Perawatan Wajah Alami

 Estetika ini mencoba memvisualisasikan bagaimana sebuah mimpi terasa: akrab namun asing, memicu nostalgia yang hangat sekaligus rasa gelisah yang samar (anemoia).

Ketika diterjemahkan ke dalam bentuk audio atau musik, para kreator dan musisi independen berusaha menangkap esensi psikologis yang sama.

Musik Dreamcore seringkali bersinggungan erat dengan genre ambient, chillwave, hypnagogic pop, hingga dream pop. 

Baca Juga: Motif Polkadot Kembali Tren di 2026: Tampil Lebih Modern, Segar, dan Jauh dari Kesan Kuno

Berdasarkan analisis dari berbagai komunitas seni digital dan pengamat musik independen, lagu-lagu bernuansa Dreamcore biasanya memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut:

Penggunaan Efek Reverb dan Delay yang Tebal: Instrumen terutama gitar melodi dan synthesizer diberi ruang gema yang luas untuk menciptakan kesan bahwa suara tersebut datang dari tempat yang sangat jauh atau dari alam bawah sadar.

Baca Juga: Debut di Asian Games Langsung Medali, Ini Sosok Luluk Diana yang Bawa Pulang Perunggu

Sentuhan Lo-Fi dan Suara Analog sering kali disisipkan audio sampling bernuansa retro, seperti derau piringan hitam (vinyl crackle), suara pita kaset rusak, melodi kotak musik jadul, atau dengung samar lampu neon.

Vokal yang Mengawang: Karakter vokal cenderung lembut, berbisik, atau dibuat tenggelam di balik lapisan instrumen (reverberated vocals), memberikan kesan hampa dan rapuh.

Dualisme Emosional: Musik ini mampu membuat pendengarnya merasa sangat tenang dan bernostalgia pada masa lalu, namun di saat bersamaan memunculkan sedikit rasa kesepian atau keasingan.

Di sisi lain, dalam kancah musik alternatif yang lebih spesifik, istilah "dreamcore" sempat pula diasosiasikan secara informal sebagai gaya persilangan antara musik bertempo cepat dengan atmosfer melodi yang melayang (ethereal).

Karena bukan merupakan genre konvensional yang lahir dari industri musik arus utama, pembuatan musik Dreamcore sangat bergantung pada eksperimen pribadi para musisi di kamar tidur (bedroom producer).

Baca Juga: Sebelum Jadi Sorotan karena Dugaan Kekerasan, Leo si Kucing Pengamen Blok M Pernah Viral karena Hal Ini

 Mereka memanfaatkan perangkat lunak audio digital untuk meracik memori masa kecil dan ilusi mimpi menjadi sebuah pengalaman pendengaran yang hipnotis.

Bagi para penikmatnya, mendengarkan musik Dreamcore bukan sekadar menikmati melodi, melainkan sebuah bentuk pelarian singkat ke dimensi waktu yang kabur antara nyata dan khayalan. (adhima aulia) 

 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia dreamcore dreampop musik