Lamalera Punya Tradisi Berburu Paus, tapi Ada Satu Jenis yang Tak Boleh Diburu

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:19 WIB
Tradisi penangkapan paus oleh masyarakat Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ada jenis paus yang justru tidak boleh diburu.(W.Commons)
Tradisi penangkapan paus oleh masyarakat Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ada jenis paus yang justru tidak boleh diburu.(W.Commons)

SOLOBALAPAN.COM - Lamalera di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, dikenal karena tradisi penangkapan paus yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Namun, di tengah tradisi tersebut terdapat aturan yang membuat satu jenis paus justru tidak boleh menjadi sasaran perburuan.

Paus tersebut adalah paus biru atau Balaenoptera musculus, salah satu mamalia laut terbesar di dunia. Di Lamalera, paus biru tidak diburu dan justru dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Baca Juga: Jepang Resmi Jadi Negara “Nggak”? Ini 8 Hal yang Sebaiknya Jangan Kamu Lakukan

Tradisi penangkapan paus di Lamalera dikenal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pesisir yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Kegiatan tersebut tidak dilakukan sembarangan, melainkan memiliki berbagai tahapan, ritual, serta aturan adat yang harus dipatuhi.

Salah satu aturan paling menarik adalah jenis paus yang boleh menjadi sasaran. Paus yang menjadi target utama masyarakat Lamalera adalah paus sperma atau Physeter macrocephalus, yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai koteklema.

Sementara itu, ketika paus biru melintas di perairan sekitar Lamalera, masyarakat tidak menjadikannya sebagai buruan. Penelitian mengenai tradisi koteklema di Lamalera mencatat bahwa paus biru memang kerap terlihat melintas di hadapan para nelayan, tetapi tidak pernah diburu.

Selain alasan menjaga kelestarian satwa laut tersebut, terdapat pula kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun bahwa masyarakat Lamalera dan Lembata pernah diselamatkan oleh paus biru pada masa lampau.

Baca Juga: IKL Fall 2026 Week 3 Day 4: RRQ Hentikan Rekor Sempurna DMT, BTR Masih Kokoh di Puncak

Kepercayaan tersebut juga dicatat oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores. Dalam keterangan resminya, paus biru disebut tidak boleh diburu karena dilindungi dan dipercaya mempunyai peran penting dalam sejarah masyarakat setempat. Ada kisah turun-temurun yang menyebut paus biru pernah menyelamatkan Desa Lamalera dari bencana besar.

Aturan dalam tradisi Lamalera tidak hanya berlaku untuk paus biru. Para nelayan juga memiliki pantangan untuk menangkap paus sperma betina yang sedang hamil, paus muda, maupun paus yang sedang kawin.

Pengetahuan untuk mengenali kondisi tersebut menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan dalam masyarakat Lamalera.

Tradisi penangkapan paus biasanya berlangsung pada musim Lewa, sekitar Mei hingga September. Sebelum melaut, masyarakat menjalankan berbagai ritual adat dan keagamaan. Nelayan kemudian menggunakan perahu tradisional yang disebut paledang dan alat tangkap bernama tempuling. Orang yang bertugas menggunakan tempuling disebut lamafa.

Baca Juga: Merayakan Hari Badak Sedunia, Badak Jawa Cuma Bisa Ditemukan di Satu Tempat

Paus yang berhasil ditangkap secara tradisional tidak sekadar menjadi hasil tangkapan untuk dijual. Dagingnya dibagikan kepada masyarakat dan secara tradisional digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup warga. Pembagian hasil tangkapan juga menjadi bagian dari hubungan sosial masyarakat Lamalera.

Karena itu, tradisi penangkapan paus di Lamalera memiliki aturan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar aktivitas berburu di laut. Ada ritual, pembagian peran, pengetahuan tentang laut, hingga pantangan mengenai jenis dan kondisi paus yang boleh ditangkap.

Di tengah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun tersebut, paus biru menempati posisi yang berbeda. Hewan laut raksasa yang mungkin dianggap sebagai salah satu target dalam tradisi penangkapan paus justru tidak boleh disentuh.

Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana hubungan masyarakat Lamalera dengan laut tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan hasil alam, tetapi juga dengan kepercayaan dan aturan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.(Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Labuan Bajo Flores
Lamalera paus biru ntt