7 Cara Pandang dari Jepang untuk Membantu Menjaga Kesehatan Mental

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 19:10 WIB
Ilustrasi 7 cara pandang Jepang yang berkaitan dengan ketenangan diri dan kesehatan mental.(Marketeers)
Ilustrasi 7 cara pandang Jepang yang berkaitan dengan ketenangan diri dan kesehatan mental.(Marketeers)

SOLOBALAPAN.COM - Pikiran yang penuh tidak selalu datang karena pekerjaan yang menumpuk. Kadang, satu hal kecil yang terus terbayang juga cukup membuat kepala sulit tenang.

Keadaan seperti ini cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada hal yang ingin dikendalikan, ada yang sebenarnya perlu dilepaskan, dan ada kalanya tubuh hanya butuh waktu untuk berhenti sejenak.

Baca Juga: Sebelum Merah Putih One for All, Indonesia Sudah Punya Si Huma Sejak 1983

Menariknya, beberapa cara pandang dari Jepang justru dekat dengan persoalan yang sering kita hadapi, seperti menerima keadaan, mengambil jeda, dan belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan.

Istilahnya mungkin terdengar asing. Namun, ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, maknanya tidak serumit namanya.

1. Shoganai

Tidak semua hal berjalan sesuai keinginan. Shoganai mengajarkan untuk menerima keadaan yang memang berada di luar kendali, lalu memusatkan perhatian pada hal yang masih bisa dilakukan.

Dari menerima keadaan, perhatian kemudian bisa diarahkan pada hal yang sering terlupakan saat sibuk, yaitu kondisi tubuh.

Baca Juga: Bikin Konten Tak Senonoh Berkedok 'A Day In My Life', Dua Pria Gay di Bogor Diringkus Polisi

2. Choshin

Kesibukan membuat orang sering lupa akan kondisi tubuh sendiri. Choshin dalam tradisi Zen berkaitan dengan menata dan memperhatikan tubuh, termasuk postur.

Tubuh sudah diperhatikan, kini giliran pikiran yang perlu diberi sedikit ruang untuk bernapas.

Baca Juga: Isu Reshuffle Kabinet Memanas usai OTT KPK di Kementerian ATR/BPN! Nasib Menteri Nusron Wahid di Ujung Tanduk?

3. Ma 

Tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas. Ma menggambarkan ruang atau jeda di antara berbagai hal, sehingga waktu berhenti tidak selalu berarti waktu yang terbuang.

Jeda juga bisa berarti mengambil jarak dari sesuatu yang sedang dihadapi.

4. Enryo

Ada kalanya tidak langsung merespons atau ikut campur justru menjadi pilihan yang lebih baik. Enryo berkaitan dengan sikap menahan diri dan mempertimbangkan keadaan sebelum bertindak.

Setelah mengambil jarak, salah satu cara sederhana untuk melepas penat adalah menghabiskan waktu di luar rutinitas.

Baca Juga: Buntut Insiden Penutupan GKPI Tangerang Oleh Pemuda Pembawa Sajam, Kemenag Turun Tangan Minta Utamakan Dialog

5. Shinrin-yoku

Berjalan di antara pepohonan atau sekadar menikmati suasana alam bisa menjadi cara untuk mengambil jeda. Di Jepang, aktivitas tersebut dikenal sebagai shinrin-yoku atau “mandi hutan”.

Sejumlah penelitian menemukan manfaat jangka pendek terhadap kondisi psikologis, terutama berkaitan dengan kecemasan, meski bukti yang ada masih memiliki keterbatasan.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Cuaca Berawan Hingga Hujan Dominasi Mayoritas Wilayah Indonesia

Selain suasana sekitar, cara melihat diri sendiri juga bisa memengaruhi bagaimana seseorang menjalani keseharian.

6. Wabi-sabi

Tidak semua hal harus berjalan sempurna. Wabi-sabi sering dikaitkan dengan cara melihat keindahan dalam kesederhanaan, ketidaksempurnaan, dan perubahan.

Dari menerima kekurangan, seseorang juga bisa belajar memperbaiki diri tanpa harus menuntut perubahan besar sekaligus.

Baca Juga: Tuai Gelombang Kritik Soal Video Mindfulness 'Diet Berita', Maudy Ayunda Akhirnya Minta Maaf Secara Terbuka

7. Kaizen

Perubahan tidak harus langsung besar. Kaizen merupakan gagasan tentang perbaikan yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus tetap menjadi bagian dari proses untuk menjadi lebih baik.

Tujuh konsep tersebut memang berasal dari latar budaya Jepang. Namun, persoalan yang dibicarakan sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Dewa United Kudeta Puncak Klasemen Super League! Persib Bandung Tembus Lima Besar

Ada saatnya menerima sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, memberi ruang untuk berhenti, menikmati alam, atau sekadar mengingat bahwa tidak semua hal harus sempurna.

Istilahnya mungkin berasal dari Jepang, tetapi maknanya bisa ditemukan dalam keseharian. Tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus dan tidak semua keadaan harus dipaksakan berjalan sesuai keinginan.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra inspirasi jepang budaya jepang kesehatan mental