Perayaan Onde, Tradisi Tionghoa yang Sudah Dikenal Sejak Dinasti Han, Ada Makna Keluarga di Baliknya

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 06:59 WIB
Onde atau tangyuan menjadi sajian khas yang kerap hadir dalam perayaan Dongzhi atau Tang Cik dalam tradisi Tionghoa.(NineVibe)
Onde atau tangyuan menjadi sajian khas yang kerap hadir dalam perayaan Dongzhi atau Tang Cik dalam tradisi Tionghoa.(NineVibe)

SOLOBALAPAN.COM - Onde atau tangyuan menjadi salah satu hidangan yang kerap hadir dalam perayaan Dongzhi atau Tang Cik. Makanan berbentuk bulat ini tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga menyimpan makna yang berkaitan dengan kebersamaan keluarga.

Dongzhi merupakan perayaan yang telah dikenal dalam kebudayaan Tionghoa sejak masa Dinasti Han, sekitar 202 SM hingga 220 M. Perayaan tersebut berkaitan dengan titik balik musim dingin dan menjadi salah satu penanda penting dalam kalender tradisional Tionghoa.

Baca Juga: Sebelum Jadi Sailor Moon, Ternyata Usagi Bukan Tokoh Utama Pertama!

Pada perkembangannya, Dongzhi tidak hanya dimaknai sebagai pergantian musim. Tradisi berkumpul bersama keluarga, memberikan makanan, hingga melakukan penghormatan kepada leluhur turut menjadi bagian dari perayaan di sejumlah komunitas.

Di Indonesia, Dongzhi dikenal pula dengan sebutan Tang Cik. Salah satu makanan yang kemudian lekat dengan perayaan tersebut adalah tangyuan, yang dalam masyarakat Indonesia juga kerap disebut onde.

Bahan utamanya berupa tepung beras ketan. Adonan dibentuk menjadi bulatan kecil, kemudian direbus hingga matang dan umumnya disajikan bersama kuah bercita rasa manis.

Bentuk dan isi onde bisa berbeda sesuai tradisi yang dijalankan. Ada yang dibuat polos tanpa isian, sementara beberapa jenis lainnya menggunakan wijen hitam, kacang, atau pasta kacang merah sebagai isi.

Baca Juga: Bikin Geram Netizen! Pria Arogan Tiba-Tiba Tendang Wanita Hingga Tersungkur di Mal Senayan City

Warnanya juga beragam. Selain putih, onde dapat dibuat menggunakan warna merah dan warna lainnya sesuai kebiasaan masyarakat atau keluarga yang merayakannya.

Di balik bentuk tersebut terdapat makna yang membuat onde tidak sekadar menjadi hidangan. Bulatan pada tangyuan sering dikaitkan dengan gagasan keutuhan, persatuan, dan berkumpulnya anggota keluarga.

Dalam sejumlah tradisi, tangyuan juga dikaitkan dengan istilah tuanyuan yang memiliki arti berkumpul atau reuni. Karena itu, menyantap makanan berbentuk bulat tersebut bersama keluarga menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan Dongzhi.

Momen kebersamaan bahkan dapat dimulai sebelum makanan disajikan. Di beberapa keluarga, proses membuat tangyuan dilakukan bersama-sama, mulai dari menyiapkan adonan hingga membentuknya menjadi bulatan kecil.

Aktivitas sederhana tersebut membuat perayaan tidak hanya berlangsung saat makanan disantap. Proses menyiapkan hidangan juga menjadi kesempatan bagi anggota keluarga untuk berkumpul dan menjalankan kebiasaan yang telah diwariskan.

Baca Juga: Buka Rahasia Pendalaman Karakter, Bae Suzy Andalkan 'Intuisi Emosional' Menjelang Peluncuran Dua Proyek Besar

Selain memiliki makna dalam kehidupan keluarga, Dongzhi juga berkaitan dengan fenomena astronomi. Perayaan ini berlangsung pada saat titik balik musim dingin di belahan bumi utara, ketika durasi malam mencapai salah satu titik terpanjang dalam setahun.

Setelah titik tersebut, waktu siang perlahan kembali bertambah. Perubahan itu membuat Dongzhi, yang sejak lama tidak hanya dipandang sebagai pergantian musim, juga dipandang sebagai momentum yang memiliki arti dalam kehidupan masyarakat.

Cara merayakan Dongzhi pun tidak seragam di setiap wilayah. Tangyuan lebih dikenal sebagai makanan khas Dongzhi di wilayah selatan Tiongkok, sedangkan masyarakat di wilayah utara memiliki hidangan tradisional lain, salah satunya jiaozi.

Perbedaan makanan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan Dongzhi dapat mengikuti kebiasaan lokal. Meski bentuk perayaannya beragam, unsur kebersamaan dan berkumpul bersama keluarga tetap menjadi bagian yang menonjol.

Baca Juga: Sejarah! Persib Kalahkan FC Seoul 1-0, Pecahkan Rekor 30 Tahun Klub Indonesia Tak Pernah Menang atas Tim Korea

Di Indonesia, tradisi tersebut kemudian berkembang di tengah komunitas Tionghoa dengan kebiasaan yang dapat berbeda antara satu keluarga dan yang lainnya. Onde menjadi salah satu makanan yang masih hadir dalam perayaan tersebut.

Bentuknya memang sederhana, hanya berupa bulatan kecil dari tepung ketan. Namun, dalam perayaan Dongzhi, onde membawa cerita yang lebih panjang tentang perubahan musim, tradisi keluarga, dan kebiasaan berkumpul yang terus diwariskan.

Karena itu, onde dalam perayaan Tang Cik tidak hanya ditempatkan sebagai makanan penutup atau sajian pelengkap. Kehadirannya menjadi bagian dari tradisi yang mempertemukan keluarga sekaligus menjaga kebiasaan lama tetap dikenal hingga sekarang.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com
hanifatuz zahra perayaan onde dongzhi tangcik tradisi tionghoa