The Lost Library: Kisah Mortimer dan Misteri Perpustakaan yang Terbakar

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 18:35 WIB
Ilustrasi cover novel "The Lost Library"
Ilustrasi cover novel "The Lost Library"

SOLOBALAPAN.COM — “Orang tua adalah sumber dari arah kehidupan? Jika hidup adalah garis yang mengarah ke suatu tempat, bukankah orang tua adalah titik awalnya?”

Kalimat itu menjadi salah satu pertanyaan yang mengiringi kisah dalam sebuah novel anak-anak tentang kehilangan, keluarga, persahabatan, dan sebuah misteri lama yang tersimpan di balik kebakaran perpustakaan.

Cerita bermula dari Martinville, sebuah kota yang kehilangan perpustakaannya beberapa tahun silam. Gedung perpustakaan yang terbakar kemudian dialihfungsikan menjadi balai kota. Namun, jejak buku-buku yang pernah memenuhi tempat itu ternyata belum sepenuhnya hilang.

Baca Juga: The King’s Warden, Kisah Raja Muda yang Terbuan

Di sudut kota berdiri sebuah perpustakaan kecil gratis yang dijaga seekor kucing bernama Mortimer. Di dekatnya terdapat plakat sederhana bertuliskan, “AMBIL BUKU, TINGGALKAN BUKU, ATAU DUA-DUANYA.”

Bagi Evan, tempat kecil itu justru menjadi pintu menuju misteri besar.

Evan mengambil dua buku secara acak. Salah satunya berjudul Cara Menulis Novel Misteri karya H.G. Higgins. Saat membuka buku tersebut, ia menemukan kartu peminjaman yang mencantumkan nama ayahnya, Edward McClelland. Yang membuatnya terkejut, tanggal peminjaman itu tepat pada hari terjadinya kebakaran Perpustakaan Kota Martinville.

Baca Juga: Minecraft Wilderness Bound Resmi Rilis, Bawa Bioma Baru Hingga Suasana Kamp Terbengkalai

Temuan tersebut memunculkan banyak pertanyaan. Mengapa ayahnya ada di perpustakaan saat kebakaran? Mengapa namanya tercatat dalam buku itu? Dan benarkah ayahnya memiliki hubungan dengan peristiwa yang selama ini membuatnya dicurigai?

Bersama sahabatnya, Rafe, Evan mulai menyelidiki misteri tersebut. Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, keduanya tidak berhenti mencari petunjuk. Buku Cara Menulis Novel Misteri bahkan menjadi semacam panduan bagi mereka dalam mengungkap teka-teki yang semakin rumit.

Dalam perjalanan itu, Evan menemukan sosok lain yang tidak kalah misterius: Al.

Al dan Perpustakaan Kecil Mortimer

Al tumbuh di panti asuhan dan tidak memiliki ingatan tentang orang tuanya. Berbeda dengan teman-temannya yang masih memiliki cerita tentang keluarga, Al hanya memiliki ruang buku sebagai tempat pelarian.

Ia gemar membaca dan menghabiskan banyak waktunya di perpustakaan panti asuhan. Kegemaran itu kemudian mempertemukannya dengan Ms. Scoggin, pustakawan di Perpustakaan Kota Martinville.

Bagi Al, Ms. Scoggin bukan sekadar pustakawan. Sosok tersebut perlahan dianggap seperti keluarga sendiri.

Namun, kebakaran perpustakaan mengubah semuanya. Ms. Scoggin tidak selamat dalam peristiwa tersebut.

Al kemudian tetap berada di sekitar perpustakaan dan hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Bahkan, ia percaya bahwa dirinya telah meninggal dan menjadi arwah seperti Ms. Scoggin.

Keyakinan itu semakin kuat karena selama ini ia hidup bersama arwah sang pustakawan. Ms. Scoggin perlahan menunjukkan tanda-tanda sebagai makhluk yang tidak lagi terikat dengan dunia manusia. Tubuhnya mulai tidak mampu menapak lantai hingga suatu malam melayang semakin tinggi.

Al berusaha menarik kakinya agar kembali turun. Namun, usahanya sia-sia.

Saat itulah ia menyadari sesuatu. Berbeda dengan Ms. Scoggin, tubuhnya tidak ikut melayang.

Al akhirnya mencoba melompat dan merasakan sakit ketika tubuhnya menghantam lantai. Rasa sakit itu justru menjadi jawaban yang selama ini tidak disadarinya.

Ia masih hidup.

Kesadaran tersebut sekaligus menjelaskan mengapa Evan bisa melihatnya.

Saat Misteri Ayah Evan Terbuka

Penyelidikan Evan dan Rafe akhirnya membawa mereka pada sosok H.G. Higgins, penulis buku Cara Menulis Novel Misteri yang menjadi petunjuk awal perjalanan mereka.

Nama itu ternyata bukan nama sebenarnya.

H.G. Higgins adalah nama samaran Edward McClelland, ayah Evan.

Fakta tersebut membuat misteri semakin dekat dengan keluarga Evan. Terlebih, ayahnya memang pernah menjadi karyawan magang di perpustakaan dan berada di lokasi ketika kebakaran terjadi. Kondisi itulah yang membuatnya sempat dicurigai sebagai orang yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut.

Namun, kebenarannya ternyata berbeda.

Kebakaran bukan disebabkan oleh tindakan Edward. Api bermula dari korek api yang berada di dekat tumpukan buku di ruang bawah tanah. Korek tersebut terbawa tikus dan kemudian tersenggol hingga memicu kebakaran.

Misteri yang selama bertahun-tahun menyelimuti perpustakaan akhirnya menemukan titik terang.

Lebih dari sekadar petualangan anak-anak memecahkan kasus, kisah ini membawa pembaca pada pertanyaan tentang keluarga dan kehilangan. Evan mencari kebenaran tentang ayahnya, sementara Al berusaha memahami siapa dirinya setelah kehilangan satu-satunya sosok yang ia anggap keluarga.

Di antara buku-buku yang selamat dari kebakaran, keduanya menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar jawaban sebuah misteri: pemahaman bahwa keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama.

Ada yang lahir dari hubungan darah, ada pula yang tumbuh dari pertemuan, kepedulian, dan cerita yang dibagikan melalui buku.

Dan seperti sebuah buku yang tetap hidup meski perpustakaannya telah terbakar, kenangan dan kebenaran pun tidak selalu benar-benar hilang. Kadang, keduanya hanya menunggu seseorang datang untuk membuka kembali halaman yang lama tertutup. (adhima aulia)

 

 

 

 

Editor : Kabun Triyatno
adhima aulia teen lit The Lost Library buku novel