12 Bekantan Mati Terpanggang, Ternyata Monyet Berhidung Panjang Ini Punya Perut Mirip Sapi

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 13:27 WIB
Bekantan menjadi korban karhutla di Desa Balimau, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.(Pinterest)
Bekantan menjadi korban karhutla di Desa Balimau, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.(Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Kabar memilukan datang dari Kalimantan Selatan. Sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan mati setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda habitat mereka di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Bekantan yang ditemukan dalam kondisi mati tersebut merupakan satwa liar yang hidup di kawasan terdampak kebakaran.

BKSDA Kalimantan Selatan menyebut lokasi tersebut merupakan bagian dari wilayah jelajah bekantan, meskipun habitatnya sudah terfragmentasi dan terpisah oleh jalan.

Baca Juga: 4 Orang Kepercayaannya Kena OTT! Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Berpotensi Diseret KPK

Kejadian itu pertama kali dilaporkan pada Minggu, 13 September 2026. Tim BKSDA kemudian melakukan pengecekan dan menemukan 12 bekantan yang mati, selain satu ular piton dan satu king kobra yang juga terdampak kebakaran.

Bekantan sendiri bukan sekadar monyet dengan hidung panjang yang sering menjadi ikon Kalimantan. Satwa dengan nama ilmiah Nasalis larvatus ini merupakan primata endemik Pulau Kalimantan. Artinya, secara alami bekantan hanya ditemukan di wilayah Kalimantan.

Ciri yang paling mudah dikenali tentu saja hidungnya. Pada bekantan jantan, hidung dapat terlihat sangat panjang dan menggantung. Bentuk tersebut membuat penampilan bekantan berbeda dari kebanyakan jenis monyet lainnya.

Namun, hidung panjang ternyata bukan satu-satunya hal yang membuat bekantan menarik. Ada bagian tubuh yang jauh lebih tidak biasa, yaitu sistem pencernaannya.

Bekantan termasuk dalam subfamili Colobinae dan mempunyai sistem pencernaan yang mirip dengan hewan ruminansia atau hewan pemamah biak.

BKSDA Kalimantan Timur menjelaskan bahwa perut bekantan berukuran sangat besar, bahkan sekitar dua kali lipat dibandingkan monyet lain dari subfamili yang sama.

Baca Juga: Thomas & Friends Bukan Cuma Soal Kereta, Kenapa Setiap Karakternya Punya Sifat Berbeda?

Yang lebih menarik, perut tersebut terbagi menjadi empat bagian. Di dalamnya terdapat bakteri yang membantu melakukan fermentasi terhadap makanan sehingga bekantan dapat memperoleh energi dari dedaunan yang dimakannya.

Jadi, meskipun bekantan merupakan primata, cara tubuhnya mengolah makanan memiliki kemiripan dengan hewan pemakan tumbuhan yang mempunyai sistem pencernaan khusus untuk mencerna makanan berserat.

Keunikan tersebut berkaitan dengan kebiasaan makan bekantan. Satwa ini merupakan herbivora yang memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan sebagai sumber makanan. Habitatnya juga banyak berkaitan dengan kawasan di sekitar sungai, rawa, hutan riparian dan mangrove.

Karena memiliki habitat yang spesifik dan menghadapi berbagai tekanan terhadap lingkungan hidupnya, keberadaan bekantan menjadi perhatian dalam upaya konservasi.

Baca Juga: Dari Mana Asal Nama “Stasiun”, “Depo”, dan “Peron”? Ternyata Berasal dari Bahasa Asing

Di Indonesia, bekantan termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018. Bekantan juga tercatat berstatus Endangered atau Terancam Punah dalam daftar IUCN serta masuk Appendix I CITES.

BKSDA Kalsel mencatat populasi bekantan di Kalimantan Selatan pada 2025 mencapai 3.757 individu yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, 1.281 individu tercatat berada di 12 kawasan konservasi.

Karhutla di Balimau pun menunjukkan bahwa ancaman terhadap bekantan tidak hanya datang dari perburuan atau aktivitas manusia secara langsung.

Ketika habitat yang mereka gunakan terpecah menjadi bagian-bagian kecil, satwa menjadi semakin bergantung pada area yang terbatas untuk mencari makan dan berpindah.

Dalam kasus di Balimau, BKSDA menemukan habitat bekantan berada di kawasan penggunaan lain yang terdiri dari tanah desa dan lahan milik masyarakat. Kedua kawasan tersebut terpisah oleh jalan.

BKSDA juga masih melakukan pemantauan untuk mengetahui apakah ada bekantan lain yang selamat dan membutuhkan penyelamatan atau evakuasi.

Kematian 12 bekantan tersebut akhirnya bukan hanya menjadi kabar tentang satwa yang menjadi korban kebakaran. Di balik hidung panjang yang menjadi ciri khasnya, bekantan ternyata mempunyai sistem pencernaan yang begitu unik hingga disebut menyerupai hewan ruminansia.

Keunikan itulah yang membuat bekantan menjadi salah satu satwa khas Kalimantan yang keberadaannya perlu dijaga, terutama ketika habitatnya semakin menghadapi berbagai ancaman.(Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
karhutla Bekantan karhutla kalimantan hewan kalimantan