SOLOBALAPAN.COM - Bagi yang tumbuh sebelum permainan di ponsel menjadi bagian dari keseharian, petak umpet mungkin menjadi salah satu permainan yang tidak pernah terasa membosankan.
Bermodal beberapa orang teman, tempat untuk bersembunyi, dan satu orang yang bertugas mencari, permainan sederhana ini bisa membuat anak-anak berlarian ke sana kemari sampai lupa waktu.
Menariknya, rasa seru ketika bermain petak umpet ternyata bukan hanya karena kita senang berlari atau bersembunyi. Di balik permainan yang terlihat sederhana itu, ada berbagai kemampuan yang ikut terlibat ketika anak mencoba mencari tempat persembunyian, menunggu agar tidak ditemukan, sampai menebak lokasi teman.
Baca Juga: Siapa yang Masih Ingat Si Entong? Ternyata Kartun Ini Awalnya Bukan Animasi
Petak umpet pada dasarnya membuat anak harus memikirkan strategi. Anak yang bersembunyi perlu memperhatikan tempat mana yang tidak mudah terlihat, sementara anak yang mencari harus mengingat lokasi yang sudah diperiksa dan memikirkan kemungkinan tempat teman-temannya bersembunyi.
Proses sederhana tersebut membuat anak menggunakan konsentrasi, kemampuan memecahkan masalah, dan cara berpikir yang fleksibel. UNICEF juga memasukkan permainan mencari dan menemukan sebagai salah satu bentuk bermain yang dapat membantu kemampuan kognitif anak.
Ada hal lain yang membuat petak umpet terasa berbeda dari permainan seorang diri. Permainan ini melibatkan teman, sehingga anak belajar berinteraksi, mengikuti aturan, menunggu giliran, sekaligus merasakan kegembiraan ketika berhasil menemukan atau tidak ditemukan oleh orang lain.
Dalam penelitian mengenai permainan sembunyi-sembunyian, aktivitas tersebut juga dikaitkan dengan perkembangan sosial dan emosional anak.
Permainan ini memberikan kesempatan bagi anak untuk merasakan pengalaman “menghilang” dan “ditemukan” dalam lingkungan sosial yang menyenangkan.
Bahkan, permainan sembunyi-sembunyian dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mulai memahami bahwa orang lain belum tentu mengetahui hal yang sama dengan dirinya. Ketika memilih tempat bersembunyi, misalnya, anak harus membayangkan dari mana temannya akan mencari dan tempat mana yang mungkin belum terpikirkan oleh orang lain.
Penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa permainan semacam ini dapat menjadi konteks untuk mengamati berkembangnya pemahaman anak terhadap pengetahuan, keyakinan, dan sudut pandang orang lain.
Itulah mungkin alasan mengapa petak umpet dulu bisa terasa begitu seru meskipun permainannya sederhana. Tidak ada karakter digital, tidak ada level yang harus diselesaikan, bahkan tidak membutuhkan alat khusus.
Yang ada hanya teman-teman, lingkungan sekitar, dan imajinasi untuk menentukan tempat persembunyian terbaik.
Semakin banyak teman yang ikut bermain, semakin ramai pula suasananya. Satu orang menghitung sambil menutup mata, sementara yang lain berusaha mencari tempat paling aman.
Ada yang bersembunyi di balik pintu, di balik pohon, di sudut halaman, atau bahkan berusaha menahan tawa ketika mendengar langkah si pencari semakin dekat.
Petak umpet juga membuat lingkungan sekitar terasa seperti tempat bermain yang luas. Halaman rumah, gang, taman, sekolah, hingga ruangan di dalam rumah bisa berubah menjadi arena permainan
Benda-benda yang sebenarnya biasa saja mendadak memiliki fungsi baru karena anak menggunakan imajinasi mereka untuk menjadikannya bagian dari permainan.
UNICEF menjelaskan bahwa bermain membantu anak mengembangkan kemampuan intelektual, sosial, emosional, dan fisik.
Permainan juga menjadi salah satu cara anak belajar berhubungan dengan orang lain serta menghadapi berbagai tantangan dalam lingkungan mereka.
Jadi, kalau dulu kita bisa betah bermain petak umpet berulang kali tanpa merasa bosan, mungkin ada alasannya. Permainan tersebut bukan hanya tentang siapa yang paling pandai bersembunyi atau siapa yang paling cepat menemukan teman.
Di dalamnya ada gerakan, strategi, rasa penasaran, interaksi, tawa, dan pengalaman bersama teman.
Kini, ketika petak umpet mungkin sudah jarang dimainkan seperti dulu, kenangan tentang permainan tersebut justru bisa terasa semakin kuat.
Sebab bagi banyak orang, petak umpet bukan sekadar permainan masa kecil, tetapi bagian dari masa ketika halaman rumah dan lingkungan sekitar sudah cukup untuk membuat satu sore terasa menyenangkan. (Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : UNICEF