SOLOBALAPAN.COM – Pernah melihat orang yang kerjanya banyak, tetapi jarang membicarakan apa yang sudah dilakukannya? Ia tetap mengerjakan tugas, membantu orang lain, atau menyelesaikan tanggung jawabnya tanpa terlalu sibuk mencari pujian.
Dalam budaya Jawa, ada ungkapan yang menggambarkan sikap tersebut, yakni sepi ing pamrih, rame ing gawe. Ungkapan ini mengajarkan seseorang untuk tidak terlalu mengutamakan kepentingan pribadi ketika melakukan suatu pekerjaan, tetapi justru bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas.
Kalimat tersebut sekilas terdengar sederhana. Namun, maknanya masih bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk ketika orang semakin mudah menunjukkan pekerjaan dan pencapaiannya kepada orang lain melalui media sosial.
Apa Arti “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe”?
Ungkapan sepi ing pamrih, rame ing gawe terdiri atas beberapa kata dalam bahasa Jawa. Sepi berarti tidak banyak atau tidak ramai, sedangkan pamrih berkaitan dengan keinginan mendapatkan keuntungan atau kepentingan pribadi. Sementara itu, rame ing gawe menggambarkan keadaan yang banyak melakukan pekerjaan atau aktif bekerja.
Secara keseluruhan, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai sikap lebih mengutamakan pekerjaan dan pengabdian daripada mengejar kepentingan atau keuntungan pribadi. Dalam sejumlah kajian mengenai nilai budaya Jawa, ungkapan ini juga dikaitkan dengan sikap ikhlas, tanggung jawab, dan kesediaan bekerja tanpa menjadikan imbalan pribadi sebagai tujuan utama.
Namun, sepi ing pamrih bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki tujuan dalam hidup. Ungkapan tersebut lebih menekankan bagaimana seseorang menempatkan kepentingan pribadi ketika melakukan suatu pekerjaan.
Baca Juga: Sultan, Budak Korporat, hingga Kaum Mendang-Mending, Kok Istilah Ini Bisa Populer?
Bukan Berarti Harus Bekerja Gratis
Nah, bagian ini penting. Jangan sampai sepi ing pamrih justru dipahami sebagai ajakan untuk selalu bekerja tanpa mendapatkan hak.
Dalam kehidupan modern, seseorang tetap memiliki hak untuk memperoleh upah, penghargaan, atau apresiasi atas pekerjaannya. Seorang pekerja, misalnya, tentu berhak mendapatkan gaji sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.
Makna sepi ing pamrih lebih dekat dengan sikap tidak menjadikan keuntungan pribadi sebagai satu-satunya alasan untuk melakukan sesuatu.
Contohnya bisa ditemukan dalam kegiatan sederhana. Seseorang membantu menyelesaikan pekerjaan kelompok karena ingin pekerjaan tersebut selesai dengan baik, bukan hanya karena ingin dipuji sebagai anggota paling aktif.
Begitu pula ketika seseorang membantu teman yang sedang kesulitan. Ia tidak selalu membutuhkan unggahan di media sosial atau ucapan terima kasih yang panjang untuk merasa bahwa bantuannya berarti.
“Rame Ing Gawe” Berarti Banyak Kerja, Bukan Banyak Bicara
Bagian kedua dari ungkapan ini justru terdengar semakin relevan dengan kehidupan sekarang: rame ing gawe.
Secara sederhana, bagian tersebut menggambarkan orang yang aktif bekerja dan bersungguh-sungguh melakukan sesuatu.
Bukan berarti orang tersebut harus terlihat sibuk setiap saat. Rame ing gawe lebih berkaitan dengan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab.
Karena itu, orang yang banyak berbicara tentang rencana belum tentu sesuai dengan semangat rame ing gawe. Sebaliknya, seseorang yang tidak terlalu banyak membicarakan pekerjaannya tetapi benar-benar menyelesaikannya justru lebih dekat dengan nilai tersebut.
Ungkapan ini seolah mengingatkan bahwa hasil pekerjaan pada akhirnya lebih penting daripada sekadar bagaimana seseorang terlihat sibuk.
Baca Juga: Whimsy Lagi Tren di Kalangan Gen Z, Kenapa Banyak Orang Ingin Hidup Lebih ‘Ajaib’?
Di Era Media Sosial, Haruskah Semua Dipamerkan?
Sekarang, hampir semua aktivitas dapat dibagikan kepada orang lain. Ketika selesai mengerjakan proyek, seseorang bisa mengunggahnya. Ketika membantu kegiatan sosial, dokumentasinya dapat masuk ke Instagram atau TikTok. Bahkan pencapaian kecil pun dapat menjadi bagian dari personal branding.
Tidak ada yang salah dengan membagikan pekerjaan atau pencapaian. Masalahnya muncul ketika pengakuan dari orang lain justru menjadi tujuan utama.
Semangat sepi ing pamrih dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak selalu mengukur nilai pekerjaannya dari jumlah pujian yang diterima.
Misalnya, seseorang mengerjakan tugas kuliah dengan serius meskipun tidak ada yang melihat prosesnya. Atau seorang anggota organisasi tetap membantu menyiapkan acara meskipun namanya tidak tercantum sebagai orang yang paling banyak bekerja.
Ia mungkin tidak mendapatkan perhatian paling besar, tetapi pekerjaannya tetap memiliki manfaat.
Bekerja Sungguh-Sungguh Tanpa Sibuk Mencari Pengakuan
Pada akhirnya, sepi ing pamrih, rame ing gawe bukan ajakan untuk menjadi orang yang tidak memiliki ambisi.
Seseorang tetap boleh memiliki target, ingin berkembang, mengejar karier, mendapatkan penghasilan yang layak, bahkan merasa bangga terhadap hasil kerja sendiri.
Yang ditekankan adalah keseimbangan antara tujuan pribadi dan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaan. Jangan sampai keinginan mendapatkan pengakuan justru membuat seseorang melupakan tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Mungkin itu pula yang membuat ungkapan Jawa ini masih terasa relevan. Di tengah kebiasaan membagikan hampir semua hal kepada publik, ada kalanya seseorang memang tidak perlu terlalu sibuk menunjukkan bahwa dirinya sedang bekerja.
Cukup kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalau hasilnya baik, orang lain pada akhirnya dapat melihatnya.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berbagai sumber lain