“Alon-Alon Waton Kelakon”, Filosofi Jawa yang Bisa Jadi Penawar FOMO Gen Z

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 11:27 WIB
Ungkapan ini mengingatkan bahwa kesuksesan tak harus terburu-buru mengikuti ritme orang lain, melainkan tetap berproses secara konsisten.
Ungkapan ini mengingatkan bahwa kesuksesan tak harus terburu-buru mengikuti ritme orang lain, melainkan tetap berproses secara konsisten.

SOLOBALAPAN.COM – Teman sudah dapat kerja, kamu belum. Ada yang sudah lulus kuliah, sementara skripsi sendiri belum juga selesai. Belum lagi ketika membuka media sosial, hampir setiap hari ada saja orang yang membagikan pencapaian baru.

Melihat unggahan seperti itu terus-menerus bisa membuat seseorang bertanya, “Aku kok belum sampai sana, ya?”

Perasaan takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO) memang semakin mudah muncul ketika kehidupan orang lain bisa dilihat hanya melalui layar ponsel. Seolah-olah semua orang sedang bergerak maju, sementara diri sendiri berjalan di tempat.

Padahal, belum tentu begitu.

Setiap orang memiliki waktu, kondisi, dan jalan yang berbeda. Jauh sebelum istilah FOMO populer di kalangan anak muda, masyarakat Jawa sudah memiliki ungkapan yang mengingatkan seseorang untuk tidak terlalu sibuk mengejar kecepatan orang lain, yaitu “alon-alon waton kelakon.”

Baca Juga: “JOMO” Mungkin Cocok Buat Upin Ipin, Ini Bedanya dengan FOMO yang Sering Dialami Gen Z

Ketika Timeline Orang Lain Jadi Patokan

Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat begitu dekat.

Seseorang yang baru dikenal di Instagram bisa tiba-tiba muncul di beranda dengan kabar wisuda. Teman lama mengunggah pekerjaan barunya. Orang lain membagikan perjalanan ke luar negeri, membuka bisnis, atau menunjukkan berbagai pencapaian yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Tidak ada yang salah dengan membagikan kabar bahagia. Masalahnya muncul ketika unggahan tersebut kemudian dijadikan ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

Baca Juga: Upin Ipin Kayaknya Gak Bakal FOMO, 5 Kebiasaan Sederhana yang Justru Dicari Gen Z

Akhirnya, muncul dorongan untuk ikut melakukan sesuatu hanya karena takut tertinggal.

Teman-teman sudah mulai bekerja, jadi merasa harus segera mendapatkan pekerjaan apa pun. Orang-orang di sekitar mulai menikah, lalu merasa hidup sendiri juga harus segera mengikuti. Bahkan tren kecil di media sosial pun bisa terasa seperti sesuatu yang wajib diikuti agar tidak menjadi satu-satunya orang yang ketinggalan.

Padahal, hidup bukan lomba dengan garis waktu yang sama.

“Alon-Alon” Bukan Berarti Jalan Santai Tanpa Tujuan

Di sinilah alon-alon waton kelakon menarik untuk dibicarakan.

Ungkapan tersebut secara umum dipahami sebagai berjalan perlahan, tetapi yang penting tujuan akhirnya tercapai. Dalam konteks kehidupan sekarang, maknanya bisa menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus selalu bergerak dengan kecepatan yang sama seperti orang lain.

Namun, bukan berarti alon-alon adalah pembenaran untuk bermalas-malasan.

Ada perbedaan antara berjalan perlahan dan berhenti.

Seseorang tetap perlu berusaha mencapai apa yang diinginkan. Hanya saja, prosesnya tidak harus mengikuti timeline orang lain.

Kalau teman sudah lulus lebih dulu, bukan berarti kamu gagal hanya karena membutuhkan waktu tambahan. Kalau orang lain sudah mendapatkan pekerjaan impian, bukan berarti perjalananmu menjadi kurang berharga karena masih mencari kesempatan.

Baca Juga: Bikin Bingung? Ini Makna Istilah Fomo hingga Plenger yang Ramai di Media Sosial

FOMO Bikin Kita Ingin Cepat, Padahal Belum Tentu Siap

FOMO sering kali membuat seseorang ingin segera memiliki atau melakukan sesuatu hanya karena melihat orang lain sudah melakukannya.

Keinginan tersebut bahkan tidak selalu benar-benar berasal dari kebutuhan sendiri.

Misalnya, seseorang sebenarnya belum membutuhkan barang tertentu, tetapi ikut membelinya karena barang tersebut sedang ramai. Atau seseorang memaksakan diri mengikuti kegiatan tertentu karena takut merasa tertinggal dari lingkungannya.

Dalam urusan pencapaian hidup, efeknya bisa terasa lebih berat.

Melihat teman mendapatkan pekerjaan bisa membuat seseorang merasa harus segera bekerja. Melihat orang lain melanjutkan pendidikan bisa membuatnya mempertanyakan pilihannya sendiri. Padahal, keputusan yang tepat bagi satu orang belum tentu tepat untuk orang lain.

Alon-alon waton kelakon dapat menjadi cara pandang alternatif: tidak masalah kalau langkahmu berbeda selama kamu tetap bergerak menuju tujuanmu.

Boleh Punya Target, Nggak Harus Ikut Balapan

Menjalani hidup dengan lebih tenang bukan berarti harus kehilangan ambisi.

Gen Z tetap boleh punya target besar. Ingin lulus tepat waktu, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, membangun bisnis, melanjutkan pendidikan, atau mencapai target finansial tetap merupakan hal yang wajar.

Yang perlu diingat adalah target tersebut tidak harus dicapai hanya karena orang lain sudah lebih dulu mendapatkannya.

Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan bidang yang cocok. Ada yang harus mencoba beberapa pekerjaan sebelum mengetahui apa yang diinginkan. Ada pula yang memang memiliki kondisi berbeda sehingga prosesnya tidak bisa disamakan dengan orang lain.

Maka, daripada terus melihat siapa yang sudah berada di depan, mungkin sesekali lebih baik melihat apakah diri sendiri masih bergerak.

Hari ini mungkin baru menyelesaikan satu tugas. Besok mencoba satu hal baru. Minggu depan mengirim lamaran. Bulan berikutnya mungkin mendapatkan kesempatan yang selama ini ditunggu.

Langkahnya kecil? Tidak masalah.

Sebab alon-alon waton kelakon bukan mengajarkan seseorang untuk berhenti mengejar tujuan. Filosofi tersebut justru bisa menjadi pengingat bahwa cepat bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. (Ina)

Editor : Inayah Choirunisa
Sumber : kajian akademik unen-unen, Berbagai Sumber
waton kelakon fomo