Zaman Sekarang Jangan Cuma “Nrima Ing Pandum”, Orang Jawa Juga Punya Filosofi untuk Terus Berjuang

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:38 WIB
Filosofi nrima ing pandum kerap disalahpahami sebagai kepasrahan. (Radar Majapahit/Sofan Kurniawan)
Filosofi nrima ing pandum kerap disalahpahami sebagai kepasrahan. (Radar Majapahit/Sofan Kurniawan)

SOLOBALAPAN.COM – Pernah gagal mendapatkan sesuatu yang sudah diusahakan mati-matian, lalu ada yang bilang, “Wes lah, nrima ing pandum”? Ungkapan Jawa tersebut memang sering dipakai untuk mengajak seseorang menerima hasil yang sudah didapat.

Masalahnya, nrima ing pandum kadang dipahami sebagai ajakan untuk pasrah dan berhenti mengejar apa yang diinginkan. Padahal, filosofi ini tidak sesederhana itu. Dalam pemaknaan yang lebih utuh, menerima hasil justru tidak dapat dipisahkan dari usaha yang dilakukan sebelumnya.

Baca Juga: Menjaga Pakem Tari Jawa di Tengah Perubahan Zaman

Nrima Ing Pandum Bukan Berarti Cuma Pasrah

Dalam Kamus Bahasa Jawa-Indonesia, nrima ing pandum dimaknai sebagai “menerima apa adanya”. Kata nrima berarti menerima, sedangkan pandum berkaitan dengan sesuatu yang menjadi bagian atau pemberian yang diterima seseorang.

Karena itu, seseorang yang menerapkan nrima ing pandum bukan berarti harus selalu mengatakan “ya sudah” setiap kali keinginannya tidak tercapai.

Justru, ada nilai penerimaan terhadap kenyataan di dalamnya. Ketika hasil yang diperoleh ternyata tidak sesuai harapan, seseorang diajak untuk tidak terus-menerus terjebak dalam penyesalan, iri, atau rasa kecewa.

Misalnya, seseorang sudah belajar berbulan-bulan untuk mendapatkan nilai tinggi, tetapi hasil ujian ternyata masih di bawah target. Nrima ing pandum bukan berarti sejak awal ia tidak perlu belajar karena toh hasilnya akan diterima juga.

Ia tetap belajar, berusaha, memperbaiki kesalahan, kemudian menerima hasil yang memang sudah diperoleh.

Baca Juga: Kethoprak Radio hingga TV: Rahasia Sutradara Menghidupkan Lakon Tanpa Menghilangkan Pakem

Di Balik “Makaryo Ing Nyoto” 

Pemahaman tentang nrima ing pandum menjadi lebih menarik ketika disandingkan dengan ungkapan “makaryo ing nyoto”.

Dalam kajian tentang filosofi Jawa, makaryo ing nyoto dimaknai sebagai bekerja atau berusaha secara nyata. Dengan demikian, nrima ing pandum, makaryo ing nyoto menggambarkan sikap menerima hasil setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh.

Jadi, kalau diterapkan dalam kehidupan sekarang, kurang tepat rasanya jika nrima ing pandum hanya diterjemahkan menjadi “terima saja nasibmu”.

Ada dua bagian yang berjalan bersama: berusaha semaksimal mungkin dan menerima hasil dengan lapang dada.

Konsep ini juga menjadi penting karena nrima ing pandum memang kerap disalahpahami sebagai sikap pasif. Kajian dalam Jurnal Psikologi Ulayat pada 2026 bahkan secara khusus membahas pertanyaan apakah nrima ing pandum merupakan bentuk penerimaan atau justru kepasrahan. Kajian tersebut menempatkan filosofi ini sebagai bentuk penerimaan terhadap kenyataan hidup yang juga dapat berfungsi sebagai strategi menghadapi tekanan.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Mitoni dalam Adat Jawa, Ini Rangkaian Ritual dan Maknanya

Zaman Sekarang Tetap Harus Berani Berjuang

Coba lihat kehidupan sehari-hari. Ada orang yang ingin mendapatkan pekerjaan tertentu, mengejar beasiswa, membangun usaha, menyelesaikan kuliah, atau sekadar ingin hidup lebih baik dari sebelumnya.

Kalau baru sekali gagal kemudian mengatakan, “Mungkin memang bukan rezekiku, nrima ing pandum,” sebenarnya tidak ada yang salah. Namun, kalau kalimat tersebut justru dipakai untuk membenarkan keengganan mencoba lagi, maknanya menjadi berbeda.

Filosofi Jawa tidak harus ditempatkan sebagai lawan dari ambisi. Seseorang tetap boleh punya target, bekerja keras, mencoba lagi setelah gagal, bahkan mengubah strategi ketika cara sebelumnya tidak berhasil.

Yang perlu dikendalikan adalah keinginan untuk menguasai hasil sepenuhnya.

Sebab, ada bagian dalam hidup yang memang berada di luar kendali manusia. Setelah usaha dilakukan, hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan rencana. Pada titik itulah nrima ing pandum menjadi penting.

Dalam kehidupan modern yang penuh perbandingan, konsep ini justru bisa menjadi pengingat agar seseorang tidak terus merasa kurang.

Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat setiap hari. Teman sudah bekerja, orang lain mendapat beasiswa, seseorang membeli rumah, sementara kita mungkin masih berada di tahap mencari arah. Kalau terus membandingkan hasil, rasanya hidup tidak pernah cukup.

Nrima ing pandum dapat menjadi cara untuk menerima posisi saat ini tanpa menganggapnya sebagai alasan untuk berhenti berkembang. Penelitian tentang filosofi ini juga mengaitkannya dengan sikap syukur, sabar, dan penerimaan diri.

Jadi, nrima bukan berarti menyerah.

Kalau ingin sesuatu, tetap perjuangkan. Kalau gagal, evaluasi dan coba lagi. Kalau akhirnya hasilnya tetap berbeda dari harapan, barulah belajar menerimanya.

Mungkin justru di situlah makna nrima ing pandum yang masih relevan sampai sekarang: manusia tetap harus berusaha, tetapi juga perlu tahu kapan harus berdamai dengan hasil yang berada di luar kendalinya. (Ina)

Editor : Inayah Choirunisa
Sumber : Berbagai Sumber
Nrima Ing Pandum menerima Hasil