“JOMO” Mungkin Cocok Buat Upin Ipin, Ini Bedanya dengan FOMO yang Sering Dialami Gen Z

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:13 WIB
JOMO atau Joy of Missing Out menawarkan kenyamanan untuk tidak selalu mengikuti tren, layaknya kehidupan sederhana Upin dan Ipin.
JOMO atau Joy of Missing Out menawarkan kenyamanan untuk tidak selalu mengikuti tren, layaknya kehidupan sederhana Upin dan Ipin.

SOLOBALAPAN.COM – Pernah nggak sih melihat teman-teman sedang ramai pergi ke tempat yang lagi viral, tetapi kamu justru memilih rebahan di rumah? Atau ketika semua orang sedang membicarakan tren terbaru, kamu malah santai karena merasa, “Ya sudah, aku nggak ikut juga nggak apa-apa.”

Kalau pernah, mungkin kamu lebih dekat dengan JOMO daripada FOMO.

JOMO merupakan singkatan dari Joy of Missing Out, istilah yang menggambarkan rasa senang atau puas ketika tidak ikut dalam sesuatu yang sedang dilakukan orang lain. Sederhananya, kalau FOMO membuat seseorang takut ketinggalan, JOMO justru membuat seseorang nyaman dengan pilihannya sendiri.

Baca Juga: We Bare Bears Punya Kepribadian Berbeda, Kamu Lebih Mirip yang Mana?

Nah, kalau konsep ini diterapkan secara santai ke dunia kartun, Upin dan Ipin mungkin cocok disebut anak-anak yang nggak terlalu sibuk memikirkan apa yang sedang dilakukan orang lain.

Bukan berarti si kembar benar-benar memahami istilah JOMO, ya. Mereka memang masih anak-anak berusia lima tahun dalam cerita. Kehidupan mereka lebih banyak berkisar pada aktivitas sehari-hari bersama teman-teman, keluarga, dan lingkungan di Kampung Durian Runtuh.

Justru karena itulah konsep ini menarik untuk dilihat dari kehidupan mereka.

Baca Juga: Whimsy Lagi Tren di Kalangan Gen Z, Kenapa Banyak Orang Ingin Hidup Lebih ‘Ajaib’?

FOMO Bikin Takut Ketinggalan, JOMO Malah Santai

Sebelum melihat Upin dan Ipin, kita perlu mengenal “lawan mainnya” terlebih dahulu.

FOMO atau Fear of Missing Out biasanya menggambarkan rasa khawatir ketika melihat orang lain melakukan sesuatu yang menyenangkan, sementara kita tidak ikut. Misalnya, teman-teman pergi ke konser, mencoba restoran baru, atau menghadiri acara tertentu, lalu muncul pikiran, “Kok aku nggak ikut, ya?”

JOMO mengambil arah yang berbeda.

Seseorang yang merasakan JOMO tidak masalah ketika melewatkan kegiatan tertentu. Ia tetap bisa menikmati waktunya sendiri tanpa terlalu memikirkan keseruan yang sedang dilakukan orang lain. Cleveland Clinic menggambarkan JOMO sebagai kemampuan untuk fokus pada hal yang benar-benar membuat diri sendiri senang tanpa terlalu mengkhawatirkan apa yang dilakukan orang lain.

Jadi, JOMO bukan berarti anti-sosial atau tidak mau keluar rumah.

Lebih tepatnya, “Aku tahu orang lain sedang bersenang-senang, tapi aku juga nyaman dengan kesenanganku sendiri.”

Upin Ipin Nggak Terlihat Sibuk Mengejar Tren

Sekarang bayangkan kehidupan Upin dan Ipin.

Mereka tinggal di Kampung Durian Runtuh, bersekolah, bermain bersama teman-teman, membantu keluarga, dan terlibat dalam berbagai kejadian kecil yang muncul dalam keseharian. Memang ada banyak petualangan, tetapi cerita mereka tidak berpusat pada keharusan mengikuti sesuatu hanya karena sedang populer.

Mereka juga punya lingkaran pertemanan yang cukup ramai. Ada Ehsan, Fizi, Mail, Mei Mei, Jarjit, dan Susanti.

Tetapi keseruan mereka sering kali muncul dari hal-hal yang sebenarnya sederhana.

Bermain bersama? Bisa.

Makan bareng? Bisa.

Membantu teman? Bisa.

Bikin masalah kecil lalu kena marah Kak Ros? Ya... bisa juga.

Dunia Upin-Ipin tidak membutuhkan pesta besar atau pengalaman yang harus diunggah ke media sosial supaya terasa menyenangkan. Bahkan, banyak cerita mereka justru berangkat dari kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Doraemon dan Kawan-Kawan Kalau Jadi Anak Zaman Sekarang: Siapa Green Flag, Siapa Red Flag?

Nggak Ikut Bukan Berarti Kehilangan

Di sinilah konsep JOMO terasa cukup menarik kalau dibawa ke kehidupan sekarang.

Media sosial membuat kita sangat mudah mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain. Baru membuka Instagram atau TikTok beberapa menit, kita bisa melihat teman liburan, orang lain datang ke konser, restoran baru yang ramai, sampai tren yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan pun kadang terasa harus dilakukan.

“Semua orang sudah coba, masa aku belum?”

“Teman-teman pada pergi, masa aku di rumah?”

“Kalau nggak ikut, nanti ketinggalan nggak?”

Padahal, tidak semua hal harus diikuti.

JOMO justru mengajak seseorang untuk merasa cukup dengan pilihan sendiri. Tidak pergi ke tempat yang sedang viral bukan masalah. Tidak mengikuti tren terbaru juga bukan masalah. Bahkan, memilih menghabiskan waktu dengan keluarga, membaca, menonton serial favorit, atau sekadar tidur siang juga sah-sah saja.

Mungkin Gen Z Perlu Sedikit Belajar dari Upin Ipin

Tentu saja, bukan berarti Upin dan Ipin harus dijadikan guru kehidupan Gen Z. Mereka tetap karakter anak-anak yang sedang menjalani dunia mereka sendiri.

Namun, ada satu hal menarik yang bisa dilihat dari kehidupan si kembar.

Mereka tidak perlu selalu punya sesuatu yang spektakuler untuk merasa senang.

Bermain dengan teman sudah cukup. Makan bersama keluarga juga cukup. Menikmati waktu di lingkungan sekitar pun bisa menjadi bagian dari cerita yang menyenangkan.

Mungkin itu juga inti dari JOMO.

Bukan sengaja menghindari semua hal yang sedang ramai. Bukan pula merasa lebih baik karena tidak ikut tren.

Melainkan tidak merasa harus ikut hanya karena semua orang ikut.

Jadi, kalau hari ini teman-temanmu sedang ramai pergi ke tempat tertentu sementara kamu lebih memilih menikmati waktu sendiri, nggak perlu buru-buru merasa ketinggalan.

Bisa jadi kamu bukan sedang melewatkan keseruan.

Kamu cuma sedang menikmati JOMO. (Ina)

Editor : Inayah Choirunisa
Upin Ipin fomo tren jomok