SOLOBALAPAN.COM - Potong tumpeng sering menjadi bagian dari acara syukuran. Di balik potongan pertama yang diberikan kepada seseorang, ternyata ada makna penghormatan dan doa yang melekat dalam tradisi tersebut.
Pemandangan itu cukup familiar. Setelah doa selesai, seseorang maju membawa pisau dan mengambil bagian tumpeng. Potongan pertama kemudian diserahkan kepada orang tua, anggota keluarga, atau sosok yang dianggap penting dalam acara tersebut.
Baca Juga: YNTKTS hingga Gercep, Ternyata Ada Istilah “Versi Bule”-nya
Pemilihan orang tersebut bukan tanpa alasan. Memberikan potongan pertama menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua atau seseorang yang dianggap berjasa. Dari sini, potong tumpeng tidak hanya menjadi bagian dari acara, tetapi juga menjadi cara untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih.
Namun, makna tumpeng ternyata tidak berhenti pada potongan pertamanya. Bentuk nasi yang menjulang seperti kerucut juga memiliki cerita tersendiri.
Dalam tradisi Jawa, bentuk tersebut kerap dikaitkan dengan gunung. Gunung dipandang sebagai sesuatu yang tinggi dan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat. Bentuk tumpeng kemudian menjadi gambaran harapan dan ungkapan syukur kepada Tuhan.
Bagian yang semakin kerucut kecil di atas juga kerap dimaknai sebagai harapan agar kehidupan terus bergerak menuju keadaan yang lebih baik. Karena itu, tumpeng hadir dalam berbagai acara yang berkaitan dengan syukuran.
Kalau diperhatikan lebih jauh, bagian bawah tumpeng juga tidak pernah benar-benar kosong. Berbagai lauk biasanya ditata di sekeliling nasi.
Baca Juga: We Bare Bears Punya Kepribadian Berbeda, Kamu Lebih Mirip yang Mana?
Lauk tersebut bukan hanya pelengkap agar hidangan terlihat lebih lengkap. Sejumlah jenis makanan dalam tumpeng memiliki makna simbolis. Ikan teri, misalnya, sering dikaitkan dengan kehidupan berkelompok dan kebersamaan. Ayam juga memiliki tafsir yang berkaitan dengan pengendalian diri.
Sayuran yang digunakan sebagai urap pun memiliki makna tersendiri. Meski begitu, makna setiap lauk dapat berbeda-beda sesuai dengan tradisi yang berkembang. Tidak semua tumpeng harus memiliki susunan lauk yang sama.
Ada pula tumpeng yang dilengkapi dengan tujuh macam lauk. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu, yang kemudian dikaitkan dengan pitulungan atau pertolongan.
Baca Juga: YNTKTS hingga Gercep, Ternyata Ada Istilah “Versi Bule”-nya
Makna tersebut menjadikan tujuh lauk sebagai simbol harapan agar seseorang mendapat pertolongan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Namun, jumlah tujuh bukan aturan yang berlaku untuk semua tumpeng karena bentuk dan kelengkapannya dapat menyesuaikan dengan tradisi maupun acara.
Cara mengambil tumpeng pun dalam sejumlah tradisi memiliki penafsiran tersendiri. Tidak selalu bagian puncak menjadi bagian pertama yang diambil. Ada pula cara mengambil dari bagian bawah dan kemudian bergerak menuju bagian atas.
Cara tersebut dikaitkan dengan gambaran hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus kebersamaan. Setelah potongan pertama diberikan, tumpeng kemudian dibagikan dan disantap bersama.
Di bagian inilah makna tumpeng kembali pada hal yang sederhana. Satu hidangan yang diletakkan di tengah akhirnya dinikmati oleh banyak orang.
Baca Juga: Whimsy Lagi Tren di Kalangan Gen Z, Kenapa Banyak Orang Ingin Hidup Lebih ‘Ajaib’?
Jadi, memotong tumpeng bukan sekadar mengambil nasi lalu membagikannya. Di balik bentuk kerucut, lauk yang mengelilingi, jumlah tertentu, hingga potongan pertama, terdapat pesan tentang syukur, penghormatan, harapan dan kebersamaan.
Tradisi tersebut membuat tumpeng tetap memiliki tempat dalam berbagai perayaan. Meski zaman berubah, satu tumpeng yang dibagi bersama masih membawa pesan yang sama: sesuatu yang disyukuri akan terasa lebih bermakna ketika dinikmati bersama. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber