Kenapa Flash Sale Tengah Malam Bikin Orang Rela Begadang? Ini Alasannya

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 11:58 WIB
Ilustrasi seseorang melihat promo flash sale di ponsel pada tengah malam. Hitungan mundur dan harga diskon menjadi daya tarik yang dapat membuat pembeli terdorong mengambil keputusan dengan cepat. (Pinterest)
Ilustrasi seseorang melihat promo flash sale di ponsel pada tengah malam. Hitungan mundur dan harga diskon menjadi daya tarik yang dapat membuat pembeli terdorong mengambil keputusan dengan cepat. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM – Tengah malam biasanya menjadi waktu untuk tidur dan beristirahat. Namun, bagi sebagian orang, pukul 00.00 justru bisa menjadi waktu yang ditunggu-tunggu karena munculnya flash sale di berbagai platform belanja online.

Tidak sedikit orang yang rela memasang alarm, menunggu hitungan mundur, bahkan membuka aplikasi beberapa menit sebelum promo dimulai. Padahal, barang yang ingin dibeli belum tentu benar-benar dibutuhkan.

Baca Juga: Sosok Wakasek Ahmad Taoji Diamankan Dugaan Kasus Pelecehan, Ribuan Siswa SMAN 1 Pamanukan Gelar Aksi Protes

Lalu, kenapa flash sale tengah malam bisa membuat orang rela begadang?

Salah satu alasannya berkaitan dengan rasa takut kehilangan kesempatan. Flash sale biasanya memberikan potongan harga dalam waktu terbatas. Ada pula promo yang membatasi jumlah barang yang bisa dibeli dengan harga tertentu.

Kondisi tersebut menciptakan kesan bahwa kesempatan untuk mendapatkan barang murah hanya tersedia sebentar. Ketika waktu terus berjalan, pembeli bisa merasa harus segera mengambil keputusan sebelum promo berakhir atau stok habis.

Penelitian mengenai perilaku konsumen dalam flash sale menunjukkan bahwa batas waktu dan jumlah barang yang terbatas dapat meningkatkan gairah atau dorongan seseorang ketika berbelanja. Kondisi tersebut kemudian dapat mendorong pembelian yang sebelumnya tidak direncanakan.

Baca Juga: Alasan Dibalik Peminjaman Saddil Ramdani ke Bajul Ijo, Persaingan Winger Maung Bandung Ketat?

Hal ini membuat pengalaman flash sale terasa berbeda dibandingkan belanja online biasa. Saat mencari barang pada hari normal, seseorang masih punya waktu untuk membandingkan harga, membaca ulasan dan mempertimbangkan apakah barang tersebut memang diperlukan.

Ketika flash sale dimulai, proses mengambil keputusan bisa menjadi jauh lebih cepat.

Apalagi jika layar menampilkan hitungan mundur. Angka yang terus berkurang seolah memberi sinyal bahwa kesempatan semakin dekat dengan akhir. Dalam situasi seperti ini, harga murah bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian. Ada pula dorongan untuk tidak melewatkan kesempatan.

Fenomena tersebut dikenal dalam perilaku konsumen sebagai pembelian impulsif, yaitu keputusan membeli yang muncul secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.

Penelitian terhadap pengguna marketplace di Indonesia juga menemukan bahwa faktor seperti keterbatasan waktu, keterbatasan jumlah barang, informasi, hiburan dan manfaat ekonomi dapat memengaruhi gairah serta kesenangan saat mengikuti flash sale. Faktor-faktor tersebut kemudian berkaitan dengan kemungkinan terjadinya pembelian impulsif.

Baca Juga: Cara Bikin Shopee Wrapped 2025 yang Lagi Viral di TikTok, Cek Total Uang yang Kamu Habiskan Setahun Ini

Itulah sebabnya seseorang bisa saja awalnya hanya berniat melihat-lihat promo. Namun setelah melihat harga yang turun drastis dan waktu yang tersisa hanya beberapa menit, muncul pikiran, “Kalau tidak dibeli sekarang, nanti keburu habis.”

Terlebih jika barang tersebut memang sudah lama diincar.

Waktu tengah malam juga memberikan suasana tersendiri. Pada siang hari, seseorang mungkin sibuk bekerja, kuliah atau melakukan aktivitas lain. Ketika malam tiba, perhatian terhadap ponsel bisa menjadi lebih besar sehingga notifikasi promo atau hitungan mundur flash sale lebih mudah menarik perhatian.

Meski begitu, tidak semua orang yang mengikuti flash sale otomatis melakukan pembelian impulsif. Ada juga konsumen yang justru sudah merencanakan barang yang ingin dibeli dan menggunakan flash sale untuk mendapatkan harga lebih rendah.

Karena itu, flash sale sebenarnya tidak selalu berarti seseorang membeli barang yang tidak dibutuhkan. Perbedaannya terletak pada bagaimana keputusan pembelian dibuat.

Jika barang memang sudah direncanakan sebelumnya dan harga promo menjadi alasan untuk membeli pada waktu tersebut, pembelian bisa saja tetap menjadi keputusan yang dipertimbangkan.

Sebaliknya, jika seseorang awalnya tidak memiliki rencana membeli apa pun lalu tiba-tiba checkout hanya karena takut promo berakhir, situasinya lebih dekat dengan pembelian impulsif.

Menariknya, strategi seperti ini bukan hanya digunakan pada flash sale tengah malam. Konsep batas waktu dan jumlah terbatas juga banyak ditemukan dalam berbagai bentuk promosi digital.

Kalimat seperti “tinggal beberapa menit”, “stok terbatas” atau “harga kembali normal setelah promo berakhir” memiliki fungsi yang sama, yaitu membuat konsumen merasa harus segera mengambil keputusan.

Pada akhirnya, alasan orang rela begadang demi flash sale bukan hanya karena harga murah. Ada kombinasi antara kesempatan mendapatkan keuntungan, rasa takut kehilangan promo, tekanan waktu dan sensasi ketika berhasil mendapatkan barang yang diincar.

Jadi, kalau pernah berniat tidur tetapi malah menunggu pukul 00.00 demi sebuah flash sale, perilaku tersebut sebenarnya cukup mudah dijelaskan. Bukan berarti seseorang tidak bisa menahan diri untuk berbelanja, tetapi sistem promo memang dirancang untuk membuat kesempatan terasa singkat dan berharga.

Yang perlu dilakukan pembeli adalah berhenti sejenak sebelum menekan tombol checkout dan bertanya pada diri sendiri: barang ini memang sudah dibutuhkan, atau baru terasa penting karena harganya sedang turun?

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
flashsale 9.9 diskon