SOLOBALAPAN.COM - Selama ini singkong lebih sering dikenal sebagai bahan makanan. Umbi tersebut dapat diolah menjadi beragam jajanan dan panganan tradisional. Namun, pemanfaatannya ternyata bisa lebih jauh. Singkong juga berpotensi diolah menjadi bahan dasar produk yang selama ini identik dengan plastik.
Salah satunya adalah sedotan. Bukan dalam bentuk singkong utuh, bahan tersebut terlebih dahulu diolah menjadi material tertentu agar bisa dibentuk dan digunakan sebagai sedotan.
Baca Juga: Laporan WMO: Kombinasi Gelombang Panas dan Karhutla Ancam Udara Global!
Kulit singkong bahkan dapat dimanfaatkan dalam proses tersebut. Tepung yang berasal dari kulit singkong dapat dicampurkan dengan bahan lain seperti kitosan, karagenan, dan gliserol untuk menghasilkan material sedotan yang dapat terurai secara hayati.
Pemanfaatan kulit singkong menjadi menarik karena bagian tersebut selama ini lebih banyak dianggap sebagai sisa pengolahan. Padahal, setelah melalui proses tertentu, material tersebut masih bisa digunakan untuk menghasilkan produk dengan fungsi berbeda.
Selain kulitnya, pati singkong juga menjadi bahan yang diteliti untuk pengembangan sedotan bioplastik. Dalam pengembangannya, pati dipadukan dengan sejumlah bahan pendukung untuk membentuk material yang lebih sesuai untuk digunakan sebagai sedotan. Pengujian dilakukan terhadap sejumlah karakteristik, termasuk ketahanan terhadap air dan kemampuan material untuk terurai.
Baca Juga: 5 Kreasi Rajut dengan Kancing sebagai Elemen Dekoratif
Persoalan ketahanan terhadap air menjadi salah satu tantangan. Material berbasis pati cenderung mudah menyerap air sehingga dapat memengaruhi kekuatan dan daya tahannya saat digunakan. Karena itu, berbagai bahan tambahan dicoba untuk memperbaiki karakteristik sedotan tersebut.
Pengembangan lain menggunakan pati singkong yang dipadukan dengan karagenan. Dalam pengujian laboratorium, komposisi bahan terbukti memengaruhi ketebalan, kemampuan mengembang, hingga tingkat biodegradasi sedotan.
Pada formulasi yang dinilai paling baik dalam penelitian tersebut, sedotan berbasis pati singkong dapat terurai sepenuhnya setelah 49,5 hari dalam pengujian menggunakan media tanah. Angka tersebut merupakan hasil pada kondisi penelitian, sehingga tidak bisa dianggap sebagai waktu pasti semua produk sedotan singkong untuk terurai di lingkungan.
Pemanfaatan singkong sebagai material alternatif juga tidak berhenti pada sedotan. Pati dari hasil samping pengolahan singkong telah dikembangkan menjadi film biodegradable. Material tersebut dapat dibentuk menjadi lembaran tipis dengan karakteristik tertentu setelah dicampurkan dengan bahan pendukung.
Artinya, singkong memiliki peluang untuk dimanfaatkan lebih luas. Kandungan patinya dapat diarahkan menjadi bahan pembentuk material, sementara bagian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan, seperti kulit dan hasil samping pengolahannya, juga dapat diberi nilai tambah.
Baca Juga: Nggak Cuma Buat Anak, 5 Playlist Disney Ini Bisa Jadi Teman Kerja, Belajar, hingga Tidur
Meski terdengar menjanjikan, produk berbasis singkong belum bisa menggantikan plastik dalam seluruh kebutuhan. Kekuatan, ketahanan terhadap air, karakteristik saat digunakan, hingga biaya produksi masih menjadi beberapa hal yang perlu diperhitungkan.
Pengembangan material berbasis singkong menunjukkan bahwa hasil pertanian tidak selalu harus berakhir sebagai bahan pangan. Dengan pengolahan dan formulasi yang tepat, komoditas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari itu dapat dikembangkan menjadi material untuk berbagai keperluan.
Dari bahan yang selama ini identik dengan makanan, muncul kemungkinan baru untuk menghasilkan produk alternatif. Sedotan hingga material biodegradable menjadi salah satu contoh bagaimana singkong dapat dimanfaatkan lebih jauh dari sekadar memenuhi kebutuhan pangan. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber