Mahasiswa UGM Ciptakan Pasir Kucing yang Bisa Berubah Warna, Bantu Deteksi Dini Penyakit Saluran Kemih

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:31 WIB
Mahasiswa UGM mengembangkan Felyhart, pasir kucing dari ampas tebu untuk deteksi dini gangguan saluran kemih. (ugm.ac.id)
Mahasiswa UGM mengembangkan Felyhart, pasir kucing dari ampas tebu untuk deteksi dini gangguan saluran kemih. (ugm.ac.id)

SOLOBALAPAN.COM - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan pasir kucing dengan fungsi yang tidak biasa. Bernama Felyhart, pasir ini dapat berubah warna setelah terkena urine dan perubahan tersebut bisa menjadi petunjuk awal untuk memantau kondisi urine kucing.

Perubahan warna itu berasal dari indikator pH yang terdapat dalam Felyhart. Melalui indikator tersebut, pemilik kucing dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi keasaman urine hewan peliharaannya.

Baca Juga: Sultan, Budak Korporat, hingga Kaum Mendang-Mending, Kok Istilah Ini Bisa Populer?

Dengan begitu, pasir kucing tidak hanya berfungsi sebagai media untuk menampung urine. Perubahan yang terlihat pada pasir dapat menjadi informasi tambahan bagi pemilik saat memantau kondisi kucing sehari-hari.

Felyhart dikembangkan oleh lima mahasiswa UGM, yakni Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, Pratiwi Putri Hasibuan, Rayhan Farel Ramadhani, dan Humairo Labiiba. Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K), di bawah bimbingan Dr. drh. Madarina Wassisa dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Dalam penggunaannya, urine yang mengenai Felyhart akan membuat gumpalan pasir menunjukkan warna tertentu. Perbedaan warna tersebut berkaitan dengan kondisi pH urine, termasuk ketika berada dalam kondisi asam, basa, maupun normal.

Meski dapat memberikan petunjuk mengenai perubahan pH, Felyhart bukan alat untuk memantau penyakit tertentu pada kucing. Fungsinya lebih sebagai sarana pemantauan awal terhadap perubahan urine.

Baca Juga: Magma Menyembur dari Lubang Sedalam 1 Km, Fenomena Aneh Gunung Krafla Pada 8 September 1977

Jika ditemukan perubahan yang tidak biasa atau kucing menunjukkan gangguan saat buang air kecil, pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter hewan tetap diperlukan.

Untuk memudahkan pemantauan, Felyhart juga terhubung dengan sistem berbasis situs web. Pemilik dapat menggunakan kode QR yang tersedia pada produk untuk mengakses layanan tersebut dan membantu membaca perubahan warna pada pasir.

Foto gumpalan pasir yang berubah warna dapat digunakan untuk pemantauan melalui inovasi tersebut. Dengan sistem ini, pemilik tidak hanya mengandalkan pengamatan warna secara langsung.

Menariknya, fungsi pemantauan tersebut hadir dalam pasir kucing yang bahan dasarnya berasal dari limbah ampas tebu. Bahan tersebut dimanfaatkan sebagai alternatif untuk menghasilkan pasir kucing yang lebih mudah terurai.

Baca Juga: BREAKING NEWS! Persebaya Surabaya Resmi Bajak Saddil Ramdani dari Persib Bandung

Pemanfaatan ampas tebu juga berkaitan dengan persoalan limbah pasir kucing berbahan bentonite yang sulit terurai. Tim Felyhart mencoba mengolah limbah pertanian tersebut menjadi produk bernilai baru.

Selain ampas tebu, Felyhart dilengkapi dengan natrium propionat. Bahan tersebut digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga produk juga memiliki fungsi antimikroba.

Perpaduan bahan dan fungsi tersebut menjadi keunikan Felyhart. Pasir kucing ini tidak hanya dirancang untuk kebutuhan kebersihan, tetapi juga dilengkapi indikator pH dan sistem digital yang membantu pemilik memantau perubahan pada urine kucing.

Melalui inovasi tersebut, limbah ampas tebu diolah menjadi produk yang memiliki fungsi tambahan. Bagi pemilik kucing, perubahan warna pada pasir dapat menjadi informasi awal untuk lebih memperhatikan kondisi urine hewan peliharaan. (hanifatuz zahra)

 

Editor : Kabun Triyatno
Felyhart ampas tebu kesehatan kucing pasir kucing mahasiswa ugm