Mengenal Koaʻe Kea, Burung yang Terekam Terbang di Atas Semburan Lava Kīlauea

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 10:47 WIB
Seekor koaʻe kea atau white-tailed tropicbird terbang di depan semburan lava Gunung Kīlauea, Hawaiʻi, saat Episode 28 erupsi pada 9 Juli 2025. (Instagram @tomkualiiphotography)
Seekor koaʻe kea atau white-tailed tropicbird terbang di depan semburan lava Gunung Kīlauea, Hawaiʻi, saat Episode 28 erupsi pada 9 Juli 2025. (Instagram @tomkualiiphotography)

SOLOBALAPAN.COM – Sebuah foto yang memperlihatkan seekor burung terbang di depan semburan lava Gunung Kīlauea, Hawaiʻi, menarik perhatian di media sosial. Dengan tubuh putih dan ekor panjang, burung itu tampak seolah melintas tepat di atas lautan lava yang sedang memancar dari kawah gunung api.

Namun, burung dalam foto tersebut bukan burung laut biasa. Satwa itu adalah koaʻe kea, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai white-tailed tropicbird atau burung tropik ekor putih.

Momen tersebut terjadi saat Gunung Kīlauea kembali mengalami erupsi pada 9 Juli 2025. Aktivitas vulkanik berlangsung di kawasan kawah Halemaʻumaʻu, di bagian puncak Kīlauea, Hawaiʻi.

Baca Juga: One Piece Masih Jadi Anime Favorit, Apa yang Bikin Ceritanya Nggak Bosen Ditonton?

Erupsi dimulai sekitar pukul 04.10 waktu setempat dan berlangsung selama kurang lebih sembilan jam. Pada puncak aktivitasnya, semburan lava dari ventilasi bagian utara mencapai ketinggian sekitar 365 meter. 

Foto burung yang kini kembali menjadi perhatian tersebut diabadikan fotografer Tom Kūaliʻi. Dokumentasi itu memperlihatkan kontras yang cukup dramatis: seekor burung putih dengan ekor panjang terbang tenang, sementara di belakangnya semburan lava berwarna merah-oranye membumbung dari dalam kawah.

Lantas, burung apakah sebenarnya koaʻe kea?

Koaʻe kea merupakan burung laut asli kawasan tropis yang dapat ditemukan di berbagai kepulauan Pasifik, termasuk Hawaiʻi. Burung ini memiliki ciri khas berupa tubuh berwarna putih, garis hitam pada bagian dalam sayap, topeng hitam di sekitar mata, paruh berwarna jingga, serta dua bulu ekor tengah yang memanjang.

Pada individu jantan, bulu ekor tersebut dapat mencapai panjang hampir 40 sentimeter. Bulu ekor panjang inilah yang menjadi salah satu ciri paling mudah dikenali dari koaʻe kea. 

Meski dikenal sebagai burung laut, koaʻe kea tidak selalu berada di atas laut. Burung ini juga kembali ke daratan untuk berkembang biak. Uniknya, salah satu lokasi yang menjadi habitat dan tempat berkembang biaknya berada di sekitar kaldera Kīlauea.

Baca Juga: Pokémon Horizons Kembali September Ini, Liko dan Roy Hadapi Pertarungan Besar

Koaʻe kea diketahui membuat sarang di tebing, dinding kawah, maupun celah-celah batu yang terlindung. Di kawasan Kīlauea, keberadaan burung tersebut bahkan telah lama menjadi bagian dari lanskap gunung api.

Karena itulah, kemunculan koaʻe kea di sekitar semburan Kīlauea sebenarnya bukan kejadian yang sepenuhnya tidak biasa. Burung tersebut memang kerap terlihat terbang di atas kaldera dan kawasan kawah di sekitar gunung.

Yang membuat foto ini istimewa adalah waktunya.

Koaʻe kea terlihat melintas ketika aktivitas vulkanik sedang berlangsung dan semburan lava memancar dari kawah. Pemandangan tersebut membuat burung yang biasanya identik dengan lautan justru tampak seperti terbang di atas kobaran api.

Ada alasan ilmiah mengapa burung ini mampu terbang di lingkungan seperti itu.

Koaʻe kea merupakan penerbang yang sangat baik. Di sekitar Kīlauea, burung tersebut dapat memanfaatkan arus udara panas atau thermal yang terbentuk di sekitar kawasan vulkanik untuk membantu memperoleh daya angkat.

Baca Juga: Siapa yang kangen Conan? Detektif cilik ini kembali dengan kasus besar yang bikin Jepang geger

Fenomena tersebut dikenal sebagai thermal soaring, yakni teknik terbang dengan memanfaatkan udara hangat yang bergerak naik. Dengan cara itu, burung dapat tetap melayang tanpa harus terus-menerus mengepakkan sayap.

Dokumentasi mengenai perilaku tersebut juga pernah muncul dalam pengamatan aktivitas Kīlauea. Koaʻe kea beberapa kali terlihat terbang di sekitar semburan lava, termasuk saat episode erupsi lainnya pada 2025.

Bagi koaʻe kea, kawasan sekitar kawah bukan sekadar tempat yang berbahaya. Area tersebut juga merupakan bagian dari habitat alaminya.

National Park Service mencatat bahwa burung ini dapat ditemukan terbang di atas kaldera Kīlauea maupun di dekat kawah-kawah di kawasan Kaʻū Desert. Setelah perubahan besar pada kawasan puncak Kīlauea akibat aktivitas vulkanik pada 2018, koaʻe kea bahkan kembali terlihat berputar di sekitar kawah untuk mencari lokasi sarang baru. 

Koaʻe kea juga memiliki pola kehidupan yang menarik. Burung ini lebih banyak menghabiskan waktu di laut dan mencari makanan seperti ikan, siput, serta kepiting. Namun, ketika memasuki masa berkembang biak, mereka kembali ke daratan dan memanfaatkan tebing atau dinding kawah sebagai lokasi bersarang. 

Dengan demikian, foto koaʻe kea yang terbang di depan semburan lava Kīlauea bukan sekadar gambar dramatis antara burung dan gunung berapi.

Foto tersebut justru memperlihatkan hubungan unik antara satwa dan lingkungan vulkanik Hawaiʻi. Di satu sisi, lava menunjukkan kekuatan geologi yang terus membentuk permukaan bumi. Di sisi lain, seekor burung laut memanfaatkan lanskap dan arus udara yang tercipta di kawasan tersebut untuk mempertahankan penerbangannya.

Erupsi Kīlauea pada 9 Juli 2025 sendiri menjadi salah satu episode erupsi yang cukup besar. Semburan lava berlangsung selama sembilan jam, dengan sekitar delapan jam di antaranya berupa aktivitas semburan tinggi. 

Di tengah aktivitas vulkanik itulah, koaʻe kea muncul sebagai sosok kecil yang justru mencuri perhatian.

Bukan karena burung tersebut terbang menembus lava, melainkan karena ia menunjukkan bahwa bahkan di salah satu lingkungan paling ekstrem sekalipun, kehidupan tetap menemukan caranya untuk bertahan dan beradaptasi.

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
Burung Koaʻe Kea Hawai'i viral