Sultan, Budak Korporat, hingga Kaum Mendang-Mending, Kok Istilah Ini Bisa Populer?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 13:10 WIB
Populer di media sosial, istilah sultan, budak korporat, dan kaum mendang-mending menunjukkan adaptasi bahasa.
Populer di media sosial, istilah sultan, budak korporat, dan kaum mendang-mending menunjukkan adaptasi bahasa.

SOLOBALAPAN.COM – Pernah menyebut seseorang sebagai “sultan” karena baru membeli barang mahal? Atau melihat seseorang mengeluh soal pekerjaan lalu menyebut dirinya sebagai “budak korporat”? Bisa jadi kita tidak sadar bahwa bahasa sehari-hari terus melahirkan istilah baru untuk menggambarkan kebiasaan dan kondisi sosial.

Menariknya, sejumlah istilah tersebut tidak selalu berasal dari bahasa formal. Ada yang mengambil kata yang sudah dikenal, mengubah maknanya, lalu digunakan kembali untuk menggambarkan fenomena tertentu.

Istilah seperti sultan, budak korporat, hingga kaum mendang-mending menjadi contoh bagaimana bahasa berkembang mengikuti kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Doraemon dan Kawan-Kawan Kalau Jadi Anak Zaman Sekarang: Siapa Green Flag, Siapa Red Flag?

Sultan Bukan Lagi Sebatas Gelar

Kata “sultan” sebenarnya memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan gelar penguasa dalam tradisi Islam.

Namun, dalam percakapan sehari-hari di media sosial, maknanya dapat bergeser. “Sultan” sering digunakan untuk menyebut seseorang yang dianggap memiliki banyak uang atau mampu membeli sesuatu yang harganya mahal.

Ungkapan seperti “anak sultan” atau “sultan mah bebas” bahkan kerap digunakan sebagai candaan ketika seseorang terlihat memiliki gaya hidup yang dianggap mewah.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah kata dapat memperoleh makna baru ketika digunakan berulang kali dalam konteks yang berbeda.

Baca Juga: Apa Itu HYROX? Bukan Sekadar Lari dan Angkat Beban, Ini Penjelasannya

Kata yang awalnya memiliki makna berkaitan dengan gelar kemudian digunakan secara informal untuk menggambarkan kondisi ekonomi atau gaya hidup seseorang.

Budak Korporat, Julukan untuk Kehidupan Kantoran

Berbeda dengan “sultan”, istilah “budak korporat” justru menggunakan gabungan kata yang terdengar cukup ekstrem.

Secara harfiah, kata “budak” dan “korporat” memiliki makna yang berbeda. Namun, ketika digabungkan, istilah tersebut digunakan sebagai sebutan bernada humor atau sindiran untuk pekerja yang merasa kehidupannya sangat terikat dengan pekerjaan dan tuntutan perusahaan.

Istilah ini banyak digunakan dalam percakapan di media sosial, terutama ketika seseorang membicarakan rutinitas kantor, lembur, rapat, tenggat pekerjaan, atau perjalanan pulang-pergi setiap hari.

Penggunaan istilah tersebut juga memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjadi cara untuk menggambarkan pengalaman yang sebenarnya cukup serius dengan nada yang lebih ringan.

Alih-alih mengatakan “saya sangat lelah dengan pekerjaan”, seseorang cukup bercanda, “Beginilah nasib budak korporat.”

Kaum Mendang-Mending Suka Membandingkan

Kalau istilah “sultan” menggambarkan seseorang yang dianggap berkecukupan dan “budak korporat” berkaitan dengan kehidupan kerja, kaum mendang-mending menggambarkan kebiasaan lain yang sering ditemukan di media sosial.

Istilah tersebut biasanya digunakan untuk menyebut orang yang gemar membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Misalnya, ketika seseorang menunjukkan barang yang baru dibeli, kemudian muncul komentar, “Mending beli yang itu, lebih murah.”

Kata “mending” sendiri merupakan bentuk tidak baku yang bermakna “lebih baik”. Penggunaan berulang dalam pola “mendang-mending” kemudian berkembang menjadi sebutan untuk orang yang dianggap selalu memiliki pilihan pembanding.

Baca Juga: Apa Itu HYROX? Bukan Sekadar Lari dan Angkat Beban, Ini Penjelasannya

Menariknya, istilah ini tidak selalu digunakan dalam konteks serius. Di media sosial, “kaum mendang-mending” sering menjadi label bercanda bagi orang yang senang mempertimbangkan harga, kualitas, atau manfaat sebelum membeli sesuatu.

Dalam perkembangannya, istilah tersebut juga dapat digunakan untuk menyindir kebiasaan seseorang yang terlalu sering membandingkan pilihan orang lain.

Kenapa Istilah Seperti Ini Cepat Populer?

Ketiga istilah tersebut menunjukkan satu hal yang sama: bahasa mengikuti perubahan kehidupan masyarakat.

Ketika muncul fenomena baru, masyarakat membutuhkan cara yang praktis untuk menyebut atau menggambarkannya. Media sosial kemudian membuat istilah tersebut semakin mudah menyebar karena satu kata dapat digunakan berulang kali dalam unggahan, komentar, meme, hingga percakapan sehari-hari.

Tidak jarang, istilah yang awalnya hanya digunakan oleh kelompok tertentu akhirnya dipahami oleh masyarakat yang lebih luas.

Penggunaannya juga menjadi lebih menarik karena istilah tersebut sering membawa unsur humor. “Budak korporat”, misalnya, terdengar lebih ringan dibandingkan menjelaskan panjang lebar tentang seseorang yang merasa kehidupannya didominasi pekerjaan.

Begitu pula dengan “kaum mendang-mending”. Sebutan tersebut dapat mengubah kebiasaan membandingkan harga atau pilihan menjadi sesuatu yang mudah dikenali dan dibicarakan.

Pada akhirnya, bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi. Bahasa juga merekam kebiasaan, perubahan gaya hidup, hingga cara masyarakat melihat dirinya sendiri.

Mungkin itu sebabnya istilah seperti sultan, budak korporat, dan kaum mendang-mending terasa begitu dekat. Kita tidak hanya memahami artinya, tetapi juga bisa menemukan sedikit gambaran kehidupan sehari-hari di balik setiap istilah tersebut. (Ina)

Editor : Inayah Choirunisa
bahasa sultan istilah masyarakat