SOLOBALAPAN.COM – Tanggal muda, saldo rekening masih terlihat aman. Rasanya bisa bernapas lega karena uang bulanan baru saja masuk.
Namun, coba cek lagi beberapa minggu kemudian. Uang yang awalnya terasa banyak tiba-tiba berkurang tanpa terasa. Padahal rasanya tidak pernah membeli barang mahal.
Kalau pernah mengalami hal tersebut, bisa jadi masalahnya bukan pada satu pengeluaran besar, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Konsep frugal living sebenarnya bukan berarti harus hidup serba kekurangan atau tidak boleh menikmati hasil kerja. Salah satu prinsipnya adalah lebih sadar dalam menggunakan uang dan membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dengan sesuatu yang hanya diinginkan.
Bagi anak kos, beberapa pengeluaran berikut mungkin terlihat sepele, tetapi kalau dilakukan berkali-kali bisa membuat uang bulanan lebih cepat habis.
Baca Juga: Selisih Harga Pertamax-Pertalite Tembus Rp5.950, Pekerja UMR di Solo Raya Siasati BBM Selang-Seling
1. Ngopi karena Diajak Teman
Kopi seharga Rp20 ribu mungkin tidak terasa mahal. Apalagi kalau hanya sesekali.
Masalahnya, bagaimana kalau dalam seminggu ajakan ngopi datang beberapa kali?
Pengeluaran untuk kopi bukan berarti harus dihapus sepenuhnya. Anak kos tetap boleh menikmati kopi atau nongkrong bersama teman. Namun, bisa mulai menentukan batas, misalnya memilih waktu tertentu untuk membeli kopi dan membuatnya sendiri ketika sedang tidak ingin mengeluarkan uang.
Dengan begitu, ngopi tetap menjadi hiburan tanpa berubah menjadi kebiasaan yang menguras uang.
Baca Juga: Kenapa Uang Lebih Nyaman Disimpan dalam Bentuk Emas?
2. Jajan “Cuma Sepuluh Ribu”
“Cuma Rp10 ribu.”
Kalimat tersebut terdengar tidak berbahaya. Namun, coba kalikan dengan beberapa kali pembelian dalam sehari atau selama satu minggu.
Jajan setelah makan, membeli minuman ketika sedang berjalan, atau membeli camilan karena melihat teman makan bisa menjadi pengeluaran yang tidak direncanakan.
Bukan berarti semua jajanan harus dihindari. Masalahnya adalah ketika pengeluaran kecil tersebut dilakukan otomatis tanpa pernah diperhitungkan.
3. Gratis Ongkir yang Bikin Checkout
Gratis ongkir memang menyenangkan, tetapi jangan sampai kata “gratis” membuat kita lupa bahwa barangnya tetap harus dibayar.
Melihat promo marketplace sering membuat seseorang merasa sedang berhemat karena mendapatkan potongan harga. Padahal, kalau barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan, uang tetap keluar.
Sebelum menekan tombol checkout, coba tanyakan kepada diri sendiri: kalau tidak ada diskon, apakah barang ini tetap akan dibeli?
Kalau jawabannya tidak, mungkin barang tersebut memang belum perlu dibeli.
Baca Juga: Bukan Tak Mampu, Banyak Orang Kini Memilih Menunggu Sebelum Membeli Gadget
4. Pesan Makanan karena Malas Keluar
Tinggal di kos membuat layanan pesan-antar makanan terasa sangat praktis. Ketika hujan, sedang lelah, atau malas berjalan keluar, membuka aplikasi memang jauh lebih mudah.
Namun, selain harga makanan, ada biaya lain seperti ongkos kirim dan biaya layanan.
Sesekali memesan makanan tentu tidak masalah. Tetapi jika hampir setiap kali lapar langsung membuka aplikasi, pengeluaran makan bisa membengkak tanpa disadari.
Menyimpan beberapa makanan sederhana di kamar atau memilih tempat makan yang masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki dapat menjadi alternatif.
5. Pengeluaran karena FOMO
Diajak nongkrong, ikut acara teman, mencoba tempat makan baru, atau membeli sesuatu karena sedang ramai di media sosial.
Kadang kita mengeluarkan uang bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut ketinggalan.
Inilah yang sering disebut fear of missing out atau FOMO.
Tidak semua ajakan harus ditolak. Namun, belajar mengatakan “tidak dulu” ketika kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan juga menjadi bagian dari hidup hemat.
6. Langganan yang Jarang Dipakai
Pernah berlangganan aplikasi karena ingin mencoba, kemudian lupa membatalkannya?
Nominalnya mungkin tidak terlalu besar. Namun, pembayaran otomatis yang terus berjalan untuk layanan yang jarang digunakan tetap menjadi pengeluaran.
Coba periksa kembali layanan digital yang sedang aktif. Jika ada yang sudah jarang digunakan, pertimbangkan untuk menghentikannya.
7. Belanja Kecil untuk “Menghibur Diri”
Hari sedang melelahkan, akhirnya membeli makanan favorit. Besok stres karena tugas, membeli sesuatu yang sudah lama masuk keranjang. Minggu berikutnya merasa butuh reward, lalu kembali belanja.
Memberikan hadiah untuk diri sendiri sebenarnya tidak salah.
Namun, jika setiap rasa bosan, lelah, atau stres selalu diselesaikan dengan belanja, kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan.
Cobalah memiliki bentuk hiburan lain yang tidak selalu membutuhkan uang, seperti berjalan-jalan, menonton film yang sudah dimiliki, membaca, atau sekadar menghabiskan waktu bersama teman di kos.
Frugal Living Bukan Berarti Tidak Boleh Jajan
Hidup hemat sering kali disalahartikan sebagai tidak boleh membeli apa pun.
Padahal, frugal living lebih dekat dengan kebiasaan menggunakan uang secara sadar. Artinya, anak kos tetap bisa ngopi, nongkrong, jajan, atau membeli sesuatu yang disukai selama pengeluarannya sudah dipertimbangkan dan sesuai kemampuan.
Jadi, daripada berusaha menghilangkan seluruh pengeluaran kecil, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menyadari ke mana uang sebenarnya pergi.
Sebab terkadang bukan satu pembelian besar yang membuat saldo menipis.
Bisa jadi justru kopi, jajanan, ongkir, biaya layanan, dan berbagai “cuma sepuluh ribu” yang diam-diam menghabiskan uang sebelum akhir bulan. (ina)
Editor : Inayah Choirunisa