SOLOBALAPAN.COM - Nama kopi Arabika Gayo mencuri perhatian di tingkat dunia. Kopi yang tumbuh di dataran tinggi Aceh itu masuk dalam lima besar jenis biji kopi terbaik dunia dalam pemeringkatan 2026.
Arabika Gayo menempati posisi kelima. Di atasnya terdapat kopi dari Kolombia, Arabika Ethiopia, Jamaican Blue Mountain, dan Robusta Kongo. Pemeringkatan tersebut disusun berdasarkan penilaian pengguna dari berbagai negara.
Meski demikian, keistimewaan Arabika Gayo tidak hanya terletak pada posisinya dalam daftar tersebut. Kopi ini memiliki karakter yang terbentuk dari kondisi alam tempatnya tumbuh hingga proses pengolahan yang dilakukan setelah buah kopi dipanen.
Baca Juga: Goceng Berapa Rupiah? Ternyata Istilah Ini Berasal dari Bahasa Hokkien
Perkebunan Arabika Gayo berada di kawasan dataran tinggi di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Sebagian besar tanaman kopi tumbuh pada ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut.
Udara sejuk dan kondisi geografis kawasan pegunungan penting dalam membentuk biji kopi Gayo. Lingkungan tersebut membuat tanaman kopi Arabika dapat berkembang dengan baik dan menghasilkan biji dengan cita rasa khas.
Saat diseduh, Arabika Gayo memiliki rasa khas dengan tingkat keasaman yang cenderung rendah. Cita rasanya dapat menghadirkan sentuhan herbal, rempah, dan nuansa tanah yang menjadi salah satu keistimewaannya.
Baca Juga: Gen Z Mulai Meninggalkan Pakem Pernikahan Serba Putih dan Lebih Berani Bikin Konsep yang Personal
Cita rasa tersebut juga dipengaruhi oleh metode pengolahan yang banyak digunakan di wilayah Sumatra, yakni giling basah atau wet hulling. Berbeda dari proses pengolahan kering yang umum digunakan di sejumlah daerah penghasil kopi, metode ini membuat kulit tanduk kopi dilepas ketika kadar air biji masih cukup tinggi sebelum kemudian dikeringkan.
Cara pengolahan tersebut menjadi salah satu faktor yang membentuk ciri khas kopi Sumatra yang dikenal memiliki rasa yang lebih kuat dan khas.
Kopi Arabika Gayo juga memiliki perlindungan Indikasi Geografis. Sertifikat tersebut diberikan pada 2010 dan menjadi bentuk perlindungan terhadap nama serta karakter kopi yang berasal dari kawasan Gayo.
Perlindungan Indikasi Geografis penting karena kualitas dan karakter suatu produk tidak dapat dilepaskan dari wilayah asalnya. Dalam hal ini, nama Arabika Gayo melekat pada kopi yang dihasilkan dari kawasan tertentu dengan kondisi alam dan proses produksi yang menjadi bagian dari identitasnya.
Baca Juga: Salah Satu Tradisi Unik di India, Peserta Saling Bertumpuk untuk Pecahkan Pot Gantung
Pengakuan terhadap kopi Gayo juga telah menjangkau pasar Eropa. Produk ini tercatat sebagai salah satu produk Indikasi Geografis Indonesia yang mendapatkan pengakuan di kawasan tersebut.
Tidak berhenti pada pengakuan asal wilayah, kualitas kopi Gayo juga telah dibuktikan melalui berbagai pengujian cita rasa. Sejumlah sampel Arabika Gayo dalam penelitian mengenai kualitas kopi memperoleh nilai lebih dari 80 dalam uji cupping, yang menunjukkan karakteristiknya masuk dalam kategori specialty coffee.
Masuknya Arabika Gayo ke dalam lima besar kopi terbaik dunia pun semakin memperlihatkan bahwa kopi Indonesia memiliki karakter yang mampu bersaing di tingkat global.
Di balik secangkir Arabika Gayo, ada dataran tinggi, kondisi alam, teknik pengolahan, serta tradisi budidaya yang membentuk cita rasanya. Hal-hal tersebut membuat kopi asal Aceh ini tidak hanya dikenal karena namanya, tetapi juga karena karakter yang dibawanya dari tanah Gayo. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber