SOLOBALAPAN.COM – Sekarang rasanya apa saja bisa dicuanin. Baju yang sudah tidak dipakai bisa dijual lagi. Sepatu yang jarang digunakan dapat masuk pasar preloved. Tas yang hanya tersimpan di lemari bisa berubah menjadi uang. Bahkan hobi, kemampuan, sampai pekerjaan yang dulu dianggap sekadar sampingan kini bisa menjadi sumber penghasilan.
Fenomena tersebut semakin mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Platform digital membuat orang tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga bisa menjadi penjual, penyedia jasa, pembuat konten, hingga perantara untuk mendapatkan penghasilan.
Semua aktivitas tersebut kemudian sering dirangkum dengan satu kata yang semakin akrab dalam percakapan sehari-hari: cuan.
Baca Juga: Bukan Cuma Gantungan Tas, Bag Charm Kini Jadi Cara Gen Z Tunjukkan Kepribadian
Sebenarnya, Cuan Itu Apa?
Dalam bahasa Indonesia, cuan berarti untung atau laba. Kata ini berasal dari bahasa Hokkien, salah satu bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Sinitik dan banyak digunakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Asia Tenggara.
Sejumlah kajian kebahasaan juga mencatat cuan sebagai istilah Hokkien yang berarti “untung”. Kata tersebut kemudian digunakan dalam percakapan masyarakat Indonesia dan melebur sebagai istilah untuk menyebut keuntungan, terutama keuntungan finansial.
Menariknya, penggunaan cuan kini sudah jauh melampaui konteks perdagangan yang menjadi salah satu lingkungan awal pemakaiannya. Istilah tersebut dapat ditemukan dalam percakapan tentang bisnis, investasi, pekerjaan sampingan, penjualan barang bekas, hingga aktivitas di media sosial.
Baca Juga: Pernah Ada Pajak Janggut, Pria di Rusia Harus Bayar agar Boleh Memelihara Janggut
Dengan kata lain, ketika seseorang berkata “yang penting cuan”, maksudnya kurang lebih adalah yang penting menghasilkan keuntungan.
Kenapa Sekarang Apa-Apa Bisa Dicuanin?
Perubahan cara orang memandang barang dan aktivitas menjadi salah satu hal yang membuat istilah cuan semakin sering terdengar.
Dulu, barang yang sudah tidak digunakan mungkin hanya disimpan atau diberikan kepada orang lain. Sekarang, barang tersebut bisa memiliki nilai jual kembali.
Baju yang sudah jarang dipakai, misalnya, dapat difoto kemudian ditawarkan melalui media sosial atau platform jual beli barang bekas. Begitu pula sepatu, tas, aksesori, perangkat elektronik, sampai barang koleksi.
Fenomena jual beli barang bekas secara daring bahkan masih berkembang pada 2026. Platform digital membuat proses menawarkan barang kepada calon pembeli menjadi lebih mudah karena penjual tidak harus memiliki toko fisik.
Barang yang bagi pemiliknya sudah tidak terlalu berguna pun bisa memiliki nilai bagi orang lain.
Hobi dan Kemampuan Juga Bisa Jadi Cuan
Bukan hanya barang yang mengalami perubahan nilai. Aktivitas dan kemampuan pribadi juga semakin sering dipandang sebagai sesuatu yang dapat menghasilkan uang.
Seseorang yang memiliki kemampuan desain dapat menerima pekerjaan lepas. Orang yang gemar memasak dapat menjual makanan. Hobi membuat video dapat berkembang menjadi pekerjaan sebagai kreator konten. Kemampuan mengambil foto, menulis, menerjemahkan, mengedit video, bahkan membuat kerajinan dapat ditawarkan sebagai jasa.
Begitu pula dengan pekerjaan informal yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai pekerjaan tambahan. Kehadiran platform digital membuat seseorang dapat menawarkan jasa atau produknya kepada pasar yang lebih luas.
Akibatnya, batas antara hobi, pekerjaan sampingan, dan usaha menjadi semakin tipis.
Dari “Sayang Dibuang” Menjadi “Lumayan Jadi Uang”
Fenomena tersebut juga mengubah cara orang melihat sesuatu yang mereka miliki.
Baju yang sudah tidak dikenakan tidak lagi hanya dipandang sebagai pakaian lama. Ia bisa menjadi barang preloved. Kemampuan membuat desain tidak hanya menjadi keterampilan pribadi, tetapi dapat ditawarkan sebagai jasa. Waktu luang pun bisa dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan tambahan.
Pada titik ini, “dicuanin” bukan hanya soal mencari keuntungan dari bisnis dalam skala besar. Istilah tersebut juga menggambarkan kebiasaan mengubah sesuatu yang dimiliki menjadi peluang ekonomi.
Karena itu, tidak mengherankan jika kata cuan semakin sering muncul dalam berbagai konteks. Istilah yang awalnya berkaitan dengan keuntungan tersebut kini terasa cocok untuk menggambarkan banyak aktivitas ekonomi sehari-hari.
Cuan Bukan Sekadar Kata, tetapi Cerminan Perubahan
Menariknya, perjalanan kata cuan menunjukkan bagaimana bahasa dapat mengikuti perubahan kehidupan masyarakat.
Sebuah kata dari bahasa Hokkien yang berarti “untung” kini digunakan secara luas oleh penutur bahasa Indonesia. Penelitian mengenai kosakata Hokkien di Indonesia juga menunjukkan bahwa sejumlah istilah seperti cuan telah digunakan dalam pergaulan sehari-hari, bahkan di luar komunitas penutur Tionghoa.
Sementara itu, makna yang dibawa kata tersebut terasa semakin relevan dengan kehidupan sekarang. Ketika barang bekas dapat dijual kembali, hobi bisa menghasilkan pendapatan, dan keterampilan dapat ditawarkan secara daring, peluang untuk mendapatkan keuntungan pun muncul dari berbagai sisi kehidupan.
Jadi, kalau sekarang terasa seperti apa-apa dicuanin, mungkin bukan hanya karena orang semakin suka mencari keuntungan. Cara masyarakat melihat nilai sebuah barang, keterampilan, waktu, dan aktivitas juga ikut berubah.
Dan ternyata, kata yang digunakan untuk menyebut keuntungan itu sendiri punya perjalanan panjang, cuan berasal dari bahasa Hokkien dan kini sudah begitu akrab dalam bahasa sehari-hari masyarakat Indonesia. (ina)
Editor : Inayah Choirunisa