SOLOBALAPAN.COM - Benda berukuran kecil sering kali dianggap sepele. Gantungan tas, boneka mini, photocard, figur karakter, hingga blind box mungkin tidak punya fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, bagi sebagian anak muda, benda-benda tersebut justru bisa menjadi barang koleksi yang rela diburu dan dibeli berkali-kali.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan di media sosial. Koleksi kecil tidak lagi hanya disimpan di dalam laci, tetapi sengaja dipajang di meja kerja, rak kamar, tas, bahkan dibawa bepergian.
Baca Juga: Airport Fashion Renjun NCT DREAM Jadi Sorotan, Tampil Mewah dengan Chanel saat Bertolak ke Guangzhou
Barang yang awalnya hanya dibeli karena bentuknya lucu akhirnya berkembang menjadi bagian dari gaya dan identitas pemiliknya.
Salah satu yang paling mudah ditemui adalah blind box. Sistem penjualan ini membuat pembeli tidak mengetahui karakter yang akan didapat sebelum kotaknya dibuka.
Karakter seperti Labubu, Sonny Angel, dan Smiski menjadi contoh collectible toys yang banyak menarik perhatian generasi muda. Good Housekeeping pada 2026 bahkan menyoroti kebiasaan Gen Z mengoleksi mainan dan menyebut action figure, blind box hingga squishies sebagai bagian dari tren tersebut.
Daya tariknya bukan hanya terletak pada bentuk yang menggemaskan. Ada sensasi kejutan ketika membuka blind box, keinginan mendapatkan karakter tertentu, serta kepuasan ketika berhasil melengkapi satu seri.
Baca Juga: Kilas Balik 'Trigger the Fever', Anthem Epik FIFA U-20 yang Jadi Cerminan Ambisi Muda NCT Dream
Peneliti dari University of Florida juga menjelaskan bahwa unsur ketidakpastian dalam blind box menjadi salah satu bagian yang membuat pengalaman membeli terasa lebih menyenangkan.
Kebiasaan mengoleksi tersebut juga mulai masuk ke urusan dekorasi. Pinterest dalam Hobbies Trend Report 2026 menyebut fenomena ini sebagai “Curated Clutter”, yaitu koleksi benda-benda kecil yang sengaja ditata sebagai bentuk ekspresi diri.
Pencarian untuk ide rak pernak-pernik atau “trinket shelf” bahkan meningkat 852 persen. Pencarian untuk memajang koleksi keychain naik 68 persen, sementara ide menyimpan photocard K-pop dalam binder meningkat 54 persen.
Artinya, barang koleksi kini bukan cuma soal memiliki benda sebanyak mungkin. Cara menata dan menampilkannya juga menjadi bagian dari kesenangan.
Baca Juga: Satu Dekade NCT 127, Menorehkan Jejak "Neo" di Industri K-Pop
Rak kamar dapat dipenuhi figur anime, meja kerja dihiasi karakter favorit, sementara tas diberi berbagai gantungan yang menunjukkan selera pemiliknya.
Hal ini sejalan dengan perubahan cara anak muda melihat barang-barang personal. Sesuatu tidak harus mahal atau memiliki fungsi besar untuk dianggap berharga. Karakter favorit, kenangan dari sebuah fandom, atau sekadar bentuk yang dianggap lucu bisa membuat sebuah benda memiliki nilai emosional tersendiri.
Menariknya, tren ini juga memperlihatkan bagaimana Gen Z menggunakan benda-benda kecil untuk menunjukkan siapa diri mereka.
Koleksi K-pop, anime, karakter kartun, mainan vintage, hingga keychain dapat menjadi semacam “kode” yang memperlihatkan minat seseorang tanpa harus menjelaskannya secara langsung.
Pinterest juga mencatat bahwa tren mengoleksi kini berkembang menjadi “styled identity statements”, ketika koleksi benda kecil sengaja diatur agar terlihat dan mencerminkan kepribadian pemiliknya.
Jadi, jangan heran jika melihat seseorang rela mengeluarkan uang untuk boneka berukuran beberapa sentimeter atau memenuhi tas dengan berbagai gantungan.
Bagi pemiliknya, benda tersebut bukan sekadar barang kecil yang lucu. Bisa jadi, di balik satu figur atau keychain terdapat karakter favorit, kenangan, fandom, atau sekadar kesenangan sederhana yang membuat hari terasa lebih menyenangkan. (Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber