SOLOBALAPAN.COM-Rambut rontok sebenarnya bagian dari siklus pertumbuhan rambut.Namun jika jumlahnya banyak dari biasanya,kondisi tersebut tentu bisa membuat khawatir.Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan kerontokan rambut adalah stres.
Benarkah stress bisa menyebabkan rambut rontok?
Bisa.Stres fisik maupun emosional dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut dan menyebabkan kerontokan.Salah satu kondisi yang paling sering yaitu kerontokan sementara yang terjadi ketika banyak folikel rambut yang masuk ke fase istirahat secara bersamaan.
Baca Juga: SAYONARA, Tahun Ini Ternyata Sudah Tak Jumpa Mereka Lagi
Bagaimana stres bisa menyebabkan rambut rontok?
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan merespons dengan meningkatkan sejumlah hormon, termasuk kortisol. Jika stres berlangsung cukup berat atau berkepanjangan, perubahan tersebut dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut.
Dalam kondisi normal, rambut melewati beberapa tahap, yaitu fase pertumbuhan, fase istirahat, dan fase kerontokan. Ketika tubuh mengalami tekanan tertentu, lebih banyak folikel rambut dapat berpindah ke fase istirahat lebih cepat. Beberapa waktu kemudian, rambut-rambut tersebut akan mengalami kerontokan.
Baca Juga: Apa Itu Situationship? Istilah yang Lagi Booming di Kalangan Gen Z
Kerontokan akibat stres biasanya tidak langsung terlihat ketika seseorang sedang mengalami masalah. Rambut bisa mulai rontok lebih banyak beberapa bulan setelah pemicu stres terjadi. Karena jedanya cukup panjang, seseorang terkadang tidak menyadari bahwa kerontokan yang dialami berkaitan dengan kejadian sebelumnya.
Apa itu telogen effluvium?
Telogen effluvium merupakan salah satu bentuk kerontokan rambut yang biasanya bersifat sementara. Kondisi ini dapat terjadi setelah tubuh mengalami tekanan, baik secara emosional maupun fisik.
Selain stres psikologis, pemicunya bisa berupa sakit berat, demam tinggi, operasi, perubahan berat badan yang cepat, kekurangan nutrisi, atau perubahan hormonal tertentu.
Ciri yang cukup umum adalah rambut rontok lebih banyak ketika mandi, menyisir, atau saat rambut disentuh. Penipisan biasanya terjadi secara menyeluruh di kulit kepala, bukan hanya pada satu bagian tertentu.
Kabar baiknya, kerontokan jenis ini umumnya tidak bersifat permanen. Setelah faktor pemicunya teratasi, pertumbuhan rambut biasanya akan kembali secara bertahap. Cleveland Clinic menyebutkan bahwa rambut pada banyak kasus dapat kembali tumbuh dalam beberapa bulan.
Tidak semua rambut rontok disebabkan stres
Meski stres memang dapat memicu kerontokan, bukan berarti setiap rambut rontok pasti disebabkan oleh stres.
Ada berbagai penyebab lain, seperti faktor keturunan, perubahan hormon, kondisi kesehatan tertentu, kekurangan nutrisi, efek obat, hingga kebiasaan perawatan rambut. Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan penyebab kerontokan hanya berdasarkan kondisi psikologis.
Apa yang bisa dilakukan?
Jika merasa rambut rontok semakin banyak setelah melewati periode yang penuh tekanan, langkah pertama adalah memperhatikan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan mencari cara yang sehat untuk mengelola stres dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan rambut. Hindari pula kebiasaan perawatan rambut yang dapat menyebabkan kerusakan, seperti penggunaan alat panas secara berlebihan atau mengikat rambut terlalu kencang.
Jadi, stres memang bisa menyebabkan rambut rontok, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Pada banyak kasus, kerontokan yang berkaitan dengan stres bersifat sementara dan rambut dapat kembali tumbuh setelah tubuh pulih serta pemicunya teratasi. (cindy amelia putri).
Editor : Kabun Triyatno