SOLOBALAPAN.COM – Tanggal 9 September mungkin hanya terlihat seperti tanggal biasa di kalender. Namun, bagi penggemar belanja online, angka 9.9 bisa berarti lain. Notifikasi promo mulai bermunculan, voucher diklaim, harga barang dipotong, dan keranjang belanja yang semula hanya berisi satu barang tiba-tiba bertambah.
Di tengah situasi seperti itu, muncul satu logika yang mungkin terdengar familiar: membeli barang Rp200 ribu dengan diskon Rp100 ribu dianggap sebagai bentuk penghematan. Bahkan, jika sebelumnya tidak berniat membeli barang tersebut, diskonnya bisa menjadi alasan untuk tetap checkout.
Dalam bahasa internet, cara berpikir seperti itu sering disebut “girl math”.
Baca Juga: Dari FYP ke Checkout: Ketika Algoritma Mulai Mengatur Selera Belanja Anak Muda
Istilah ini menggambarkan cara seseorang menggunakan perhitungan yang tidak sepenuhnya masuk akal untuk membuat sebuah pengeluaran terasa lebih murah, lebih menguntungkan, atau bahkan seperti tidak mengeluarkan uang sama sekali.
Apa Itu Girl Math?
Girl math merupakan istilah slang dan meme internet yang populer di media sosial pada 2023. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut berbagai “perhitungan” lucu dalam membenarkan keputusan belanja.
Contohnya, barang seharga Rp50 ribu dianggap “hampir gratis”, membeli barang yang sedang diskon dianggap sama dengan menghemat uang, atau uang hasil refund diperlakukan seperti uang tambahan yang bisa digunakan untuk belanja lagi.
Istilah tersebut mulai populer setelah segmen pada program radio Selandia Baru Fletch, Vaughan & Hayley pada Juli 2023 membahas cara-cara jenaka dalam membenarkan pengeluaran. Tren itu kemudian berkembang luas di TikTok dan platform media sosial lainnya.
Baca Juga: Saat Belanja Jadi Cara Memanjakan Diri, Kenali Bedanya Self Reward dan Self Sabotage
Meski disebut girl math, cara berpikir semacam ini sebenarnya bukan kemampuan berhitung khusus perempuan. Istilah tersebut merupakan lelucon internet yang menggunakan kata girl sebagai bagian dari tren bahasa populer di media sosial.
Ketika Diskon Tanggal Kembar Terasa Seperti “Menghasilkan Uang”
Fenomena girl math menjadi semakin mudah ditemukan ketika memasuki momen belanja seperti 9.9.
Dalam berbagai double-date sale, platform e-commerce biasanya menawarkan kombinasi potongan harga, voucher, gratis ongkir, cashback, atau promosi terbatas. Konsep double-date sale seperti 9.9 sendiri telah menjadi salah satu pola promosi besar dalam perdagangan elektronik di Asia.
Di sinilah logika girl math dapat bekerja.
Misalnya, seseorang melihat sepatu yang awalnya seharga Rp600 ribu kemudian turun menjadi Rp400 ribu. Alih-alih berpikir “aku baru saja mengeluarkan Rp400 ribu”, pikirannya bisa berubah menjadi, “aku menghemat Rp200 ribu.”
Padahal, jika sepatu tersebut tidak dibeli sebelumnya, tidak ada uang Rp200 ribu yang benar-benar masuk ke rekening.
Di sinilah letak kelucuannya sekaligus jebakannya.
Mental Accounting
Meski terdengar seperti matematika yang salah, girl math sebenarnya berkaitan dengan cara manusia memberikan makna berbeda pada uang.
Dalam psikologi ekonomi, terdapat konsep mental accounting atau akuntansi mental. Konsep ini menjelaskan bahwa manusia cenderung mengelompokkan dan menilai uang berdasarkan sumber, tujuan, atau konteks penggunaannya, bukan selalu memperlakukannya sebagai satu kesatuan.
Konsep tersebut juga digunakan untuk menjelaskan mengapa seseorang dapat merasa berbeda ketika membelanjakan uang tunai, saldo hadiah, uang refund, atau uang yang sebelumnya dianggap sebagai “bonus”.
Dengan kata lain, seseorang sebenarnya mengetahui bahwa Rp100 ribu tetap bernilai Rp100 ribu. Namun, konteks dari mana uang itu berasal atau bagaimana uang tersebut digunakan dapat membuat pengeluaran terasa berbeda.
Kenapa Belanja Digital Memudahkan 'Girl Math?'
Ada alasan lain mengapa fenomena seperti ini terasa semakin dekat dengan kebiasaan belanja sekarang.
Ketika berbelanja secara langsung, seseorang dapat melihat uang tunai berpindah dari tangan ke kasir. Dalam transaksi digital, proses tersebut menjadi lebih abstrak. Cukup menekan beberapa tombol, memasukkan kode promo, memilih metode pembayaran, lalu transaksi selesai.
Apalagi ketika harga ditampilkan bersama berbagai angka lain seperti harga awal, persentase diskon, voucher, cashback, dan gratis ongkir.
Perhatian pembeli akhirnya dapat berpindah dari pertanyaan “berapa uang yang keluar?” menjadi “berapa banyak yang berhasil dihemat?”
Padahal, kedua pertanyaan tersebut menghasilkan cara pandang yang berbeda.
Girl Math Bukan Alasan untuk Boros
Meski awalnya hadir sebagai candaan, girl math tetap perlu dipahami sebagai lelucon, bukan metode mengatur keuangan.
Masalah muncul ketika logika tersebut benar-benar digunakan untuk membenarkan pembelian yang tidak diperlukan. Diskon tetap membuat seseorang mengeluarkan uang. Cashback bukan berarti mendapatkan seluruh harga barang secara cuma-cuma. Begitu pula gratis ongkir tidak otomatis membuat barang yang dibeli menjadi gratis.
Karena itu, istilah girl math menarik bukan hanya karena kelucuannya, tetapi juga karena memperlihatkan bagaimana bahasa internet dapat membungkus perilaku ekonomi sehari-hari menjadi sebuah lelucon yang mudah dikenali.
Saat promo tanggal kembar datang dan keranjang belanja mulai penuh, mungkin girl math akan kembali muncul dalam berbagai bentuk. (inayah choirunisa)
Editor : Inayah Choirunisa