Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terjebak Standar Sempurna Media Sosial, Generasi Z Hadapi Tantangan Penurunan Self-Esteem

S
Penulis: Siti Putri Lestari❯
Fenomena Self-Esteem. (AI Generated)
Fenomena Self-Esteem. (AI Generated)
SOLOBALAPAN.COM - Perkembangan teknologi digital dan meningkatnya penggunaan media sosial membawa perubahan besar terhadap kehidupan Generasi Z.

Advertisement

Di balik kemudahan berkomunikasi dan memperoleh informasi, muncul fenomena baru berupa menurunnya tingkat self-esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri pada sebagian anak muda.

Self-esteem merupakan cara seseorang menilai, menghargai, dan menerima dirinya sendiri. Namun, banyak Generasi Z menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan diri akibat tingginya paparan standar kehidupan ideal yang ditampilkan melalui media sosial.

Advertisement

Platform digital sering menampilkan pencapaian, penampilan, gaya hidup, hingga kesuksesan seseorang dalam bentuk yang terlihat sempurna.

Kondisi tersebut dapat memicu kebiasaan membandingkan diri (social comparison) sehingga sebagian individu merasa kurang percaya diri, tidak cukup baik, atau tertinggal dibandingkan orang lain.

Advertisement

Sejumlah ahli kesehatan mental menyebutkan bahwa tekanan sosial digital menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kondisi psikologis generasi muda.

Dorongan untuk mendapatkan pengakuan melalui jumlah pengikut, komentar, dan tanda suka (likes) dapat membuat seseorang lebih bergantung pada validasi eksternal dibandingkan menerima nilai dirinya sendiri.

Selain media sosial, faktor lain seperti tekanan akademik, tuntutan karier, hubungan sosial, serta ekspektasi keluarga juga dapat memengaruhi tingkat self-esteem Generasi Z.

Ketika seseorang memiliki penghargaan diri yang rendah, risiko mengalami stres, kecemasan, hingga kesulitan dalam membangun hubungan sosial dapat meningkat.

Namun, berbagai upaya mulai dilakukan untuk meningkatkan kesehatan mental Generasi Z. Edukasi mengenai literasi digital, penerapan pola pikir positif (positive mindset), pengembangan kemampuan diri, serta dukungan dari lingkungan sekitar menjadi langkah penting dalam membangun self-esteem yang sehat.

Psikolog juga mendorong anak muda untuk memahami bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pencapaian, penampilan, atau pengakuan orang lain. Mengenali kelebihan diri, menerima kekurangan, dan menghargai proses perkembangan pribadi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.

Fenomena self-esteem pada Generasi Z menjadi perhatian karena kelompok ini merupakan generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Dengan pendekatan yang tepat, Generasi Z dapat membangun kepercayaan diri yang lebih kuat dan memiliki kemampuan menghadapi tekanan sosial di era modern. (siti putri lestari)

Advertisement
Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com

Artikel Terkait

Compare Culture: Ketika Generasi Digital Mengukur Hidup Melalui Layar Orang Lain

Compare Culture: Ketika Generasi Digital Mengukur Hidup Melalui Layar Orang Lain

Compare Culture ketika seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain yang ada di sosial media.

Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Indonesia di Forum PBB, Sepak Bola Jadi Sarana Kampanye Kesehatan Mental

Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Indonesia di Forum PBB, Sepak Bola Jadi Sarana Kampanye Kesehatan Mental

Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha Destria memperkenalkan Liga Universitas Indonesia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Program tersebut memanfaatkan sepak bola

Air Lemon dan Tren Hidup Sehat, Benarkah Bisa Membantu Mengecilkan Perut?

Air Lemon dan Tren Hidup Sehat, Benarkah Bisa Membantu Mengecilkan Perut?

Manfaat Air lemon ternyata dapat membantu kebutuhan cairan tubuh sehingga mendukung metabolisme tubuh sehari-hari.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer