Solo Traveling Mulai Digemari Gen Z, Ini Alasan Mereka

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:15 WIB
Tak punya teman untuk diajak liburan bukan berarti harus membatalkan perjalanan. Solo traveling mulai dipilih sebagian anak muda untuk mencari kebebasan, pengalaman baru, hingga kesempatan mengenal diri sendiri. (Pinterest)
Tak punya teman untuk diajak liburan bukan berarti harus membatalkan perjalanan. Solo traveling mulai dipilih sebagian anak muda untuk mencari kebebasan, pengalaman baru, hingga kesempatan mengenal diri sendiri. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Punya rencana liburan, tapi teman-teman malah sibuk dengan urusannya masing-masing?

Bagi sebagian anak muda, kondisi seperti ini sekarang bukan lagi alasan untuk membatalkan perjalanan.

Mereka memilih tetap berangkat, meski harus pergi sendirian.

Solo traveling atau bepergian seorang diri memang semakin sering dilakukan anak muda.

Ada yang pergi ke kota lain untuk sekadar jalan-jalan, mencoba makanan lokal, mengunjungi tempat wisata, sampai mencari suasana baru.

Menariknya, perjalanan seperti ini justru dianggap memberikan pengalaman yang berbeda karena semua keputusan ada di tangan sendiri.

Baca Juga: Anak Muda Suka Berburu Tempat Estetik, Tidak Melulu Soal Foto

Tren tersebut juga terlihat dalam pemberitaan mengenai kebiasaan wisata anak muda di Indonesia.

RRI misalnya, menyoroti solo traveling sebagai salah satu pilihan liburan anak muda.

Bepergian sendiri dianggap memberikan kebebasan untuk menentukan tujuan, waktu, dan kegiatan selama perjalanan.

Hal serupa terlihat dalam laporan Tourism Industry Outlook 2025. Dalam survei tersebut, sekitar 17 persen responden mengaku melakukan perjalanan seorang diri.

Gen Z juga disebut lebih banyak memilih solo traveling dibanding kelompok usia lainnya, salah satunya karena perjalanan tersebut dianggap sebagai bentuk self reward.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat anak muda berani bepergian sendirian? Salah satu jawabannya adalah kebebasan.

Baca Juga: Keliling Amerika bareng Anjing Pudel, Intip Sinopsis Buku Perjalanan 'Travels with Charley' Karya John Steinbeck

Saat liburan bersama teman, hampir semua keputusan perlu dibicarakan.

Mau makan di mana, pergi ke mana, bangun jam berapa, bahkan menentukan berapa lama berada di sebuah tempat bisa menjadi bahan pertimbangan bersama.

Berbeda ketika pergi sendirian.

Kalau ingin bangun pagi dan langsung jalan-jalan, bisa.

Kalau ingin menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah museum atau kedai kopi, juga tidak perlu menunggu siapa pun. Bahkan ketika tiba-tiba ingin mengubah rencana, keputusan tersebut bisa dibuat saat itu juga.

Buat sebagian anak muda, kebebasan seperti ini justru menjadi bagian paling menyenangkan dari solo traveling.

Penelitian mengenai Generasi Z Indonesia juga menemukan beberapa alasan yang mendorong mereka melakukan solo traveling.

Selain menikmati destinasi wisata, ada keinginan mencari inspirasi, berinteraksi dengan masyarakat lokal, melakukan healing, mendapatkan pengalaman baru, hingga mengaktualisasikan diri.

Pengaruh media sosial juga ikut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan.

Media sosial memang punya peran yang cukup besar dalam membuat solo traveling terlihat semakin dekat dengan kehidupan anak muda.

Coba saja lihat berbagai konten perjalanan di TikTok atau Instagram.

Ada orang yang membagikan perjalanan naik kereta seorang diri, menginap di hostel, menjelajahi kota baru, sampai membuat travel diary selama beberapa hari.

Konten-konten tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa pergi sendirian bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.

Baca Juga: Roti Kijing, Jajanan Jadul Yang Legit Di Setiap Gigitan

Orang lain yang melihatnya pun bisa mendapatkan inspirasi untuk mencoba pengalaman serupa.

Namun, ada alasan lain yang membuat solo traveling menarik, yaitu kesempatan untuk mengenal diri sendiri.

Ketika pergi sendirian, seseorang harus menentukan banyak hal sendiri.

Mulai dari memilih transportasi, membaca peta, mengatur uang, menentukan tempat makan, sampai mencari jalan ketika tersesat.

Hal-hal sederhana tersebut bisa menjadi pengalaman yang membuat seseorang merasa lebih mandiri.

Karena itu, solo traveling bagi sebagian orang bukan sekadar perjalanan untuk melihat tempat baru.

 Ada rasa puas ketika berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit.

Misalnya, seseorang yang awalnya takut bepergian sendiri akhirnya berani naik kereta ke kota lain.

Setelah sampai, ia harus mencari penginapan sendiri, menentukan tempat yang ingin dikunjungi, dan mengatur waktu sampai kembali pulang.

Pengalaman seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa memberikan rasa percaya diri.

Meski begitu, pergi sendirian juga bukan berarti selalu mudah.

Salah satu pertimbangan terbesar tentu saja soal keamanan.

Ketika bepergian bersama teman, ada orang lain yang bisa membantu ketika terjadi sesuatu. Saat sendirian, semua persoalan harus dihadapi sendiri.

Hal ini menjadi perhatian khusus bagi perempuan yang melakukan solo traveling.

Penelitian mengenai solo female travelers menunjukkan bahwa rasa takut, risiko keamanan, dan berbagai kendala selama perjalanan menjadi bagian penting dalam pengalaman mereka.

Di Indonesia, penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2024 bahkan secara khusus membahas pengalaman rasa takut perempuan ketika melakukan solo traveling di Daerah Istimewa Jogjakarta.

Penelitian tersebut melibatkan 10 perempuan yang memiliki pengalaman bepergian seorang diri di Jogja.

Jadi, berani pergi sendirian bukan berarti seseorang sama sekali tidak merasa takut.

Justru, keberanian itu bisa muncul karena mereka belajar mempersiapkan perjalanan dengan lebih matang.

Memilih tempat yang aman, mencari informasi mengenai destinasi, menyimpan kontak penting, memberi tahu keluarga atau teman tentang rencana perjalanan, hingga memahami kondisi transportasi menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Menariknya lagi, pergi sendirian ternyata tidak selalu berarti benar-benar sendirian sepanjang perjalanan.

Baca Juga: Dikenal dengan Nama Berbeda, 5 Kuliner Ini Punya Banyak Sebutan di Berbagai Daerah

Ada wisatawan yang bertemu orang baru di penginapan, berbincang dengan warga lokal, mengikuti tur, atau bahkan mendapatkan teman baru secara tidak sengaja.

Penelitian tentang motivasi gen Z Indonesia juga menemukan bahwa interaksi dengan masyarakat lokal menjadi salah satu hal yang dicari dalam perjalanan solo.

Hal inilah yang membuat pengalaman solo traveling bisa terasa berbeda.

Ketika pergi bersama teman, kita biasanya sudah memiliki kelompok sendiri.

Sementara ketika bepergian sendirian, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang baru justru bisa menjadi lebih besar.

Pada akhirnya, alasan anak muda memilih solo traveling ternyata cukup beragam.

Ada yang ingin bebas menentukan perjalanan, mencari pengalaman baru, menikmati waktu sendiri, mencoba keluar dari zona nyaman, atau sekadar ingin memberikan hadiah kepada diri sendiri setelah melewati rutinitas yang melelahkan.

Dan tentu saja, tidak semua anak muda harus menyukai perjalanan seorang diri.

Ada yang merasa lebih nyaman bepergian bersama teman atau keluarga. Ada juga yang mencoba sekali dan ternyata lebih menikmati liburan bersama orang lain. Solo traveling hanyalah salah satu cara untuk menikmati perjalanan.

Baca Juga: Detik-detik Gunung Merapi Muntahkan Awan Panas 2 Kilometer, Durasi Capai 116 Detik!

Namun, semakin banyaknya anak muda yang tertarik mencoba perjalanan seorang diri menunjukkan bahwa cara menikmati liburan juga ikut berubah.

Sekarang, tidak harus menunggu semua teman punya waktu yang sama. Tidak harus selalu punya rombongan untuk bisa mengunjungi tempat baru.

Terkadang, cukup dengan satu ransel, sebuah tujuan, dan keberanian untuk memulai perjalanan.

Karena mungkin, liburan sendirian bukan tentang benar-benar sendiri. Melainkan tentang belajar menikmati perjalanan dengan keputusan yang sepenuhnya kita buat sendiri. (Luthfiana Sekar)

Editor : Ferry Ardi Susanto
solo travelling anak muda traveling