Morning Person vs Night Owl: Mana Waktu Paling Produktif Berdasarkan Jam Biologis Tubuh?

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:01 WIB
Ilustrasi morning person yang menikmati pagi dengan suasana tenang dan segar. (AI Generated)
Ilustrasi morning person yang menikmati pagi dengan suasana tenang dan segar. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Saat alarm berbunyi, ada orang yang bisa langsung bangun tanpa banyak drama. Mata terbuka, kaki segera turun dari tempat tidur, lalu hari pun dimulai.

Namun, ada juga yang harus menekan tombol snooze berkali-kali. Tubuh masih terasa berat, kepala belum sepenuhnya siap diajak berpikir, dan pagi rasanya datang terlalu cepat.

Menariknya, perbedaan ini tidak selalu soal malas atau rajin. Ada orang yang memang secara alami lebih mudah aktif pada pagi hari, sementara yang lain baru merasa benar-benar siap beraktivitas ketika hari mulai siang.

Kecenderungan tersebut berkaitan dengan chronotype, yaitu pola alami yang membuat seseorang lebih mudah mengantuk atau lebih aktif pada waktu tertentu. Pola ini menjadi salah satu alasan mengapa jam tidur dan waktu paling produktif seseorang bisa berbeda dengan orang lain.

Baca Juga: Air Lemon dan Tren Hidup Sehat, Benarkah Bisa Membantu Mengecilkan Perut?

Seperti Apa Orang yang Disebut Morning Person?

Morning person biasanya adalah orang yang lebih mudah bangun pagi dan merasa segar pada jam-jam awal. Mereka juga cenderung lebih nyaman mengerjakan sesuatu ketika hari baru dimulai.

Bagi sebagian orang, pagi justru menjadi waktu terbaik untuk belajar, bekerja, berolahraga, atau sekadar menata rencana sebelum kesibukan datang.

Kondisinya berbeda dengan night owl. Mereka biasanya lebih nyaman tidur dan bangun lebih larut, kemudian merasakan energi dan konsentrasi yang lebih baik pada waktu yang lebih siang atau malam.

Perbedaan tersebut bukan berarti salah satunya lebih baik. Setiap orang memiliki pola tubuh yang bisa membuat waktu paling nyaman untuk beraktivitas tidak selalu sama.

Ada Jam Biologis di Balik Kebiasaan Bangun

Tubuh manusia memiliki sistem pengatur waktu yang mengikuti siklus sekitar 24 jam. Sistem ini dikenal sebagai ritme sirkadian dan ikut memengaruhi pola tidur serta waktu tubuh merasa terjaga atau mengantuk.

Cahaya menjadi salah satu sinyal penting bagi sistem tersebut. Cahaya yang diterima mata membantu tubuh mengenali waktu siang, sedangkan kondisi gelap menjadi tanda bahwa malam dan waktu istirahat telah tiba.

Pada malam hari, tubuh meningkatkan produksi melatonin yang membantu mempersiapkan diri untuk tidur. Ketika pagi datang dan tubuh kembali mendapat cahaya, sinyal untuk tetap terjaga menjadi lebih kuat.

Karena itu, sulit bangun pagi tidak selalu sesederhana persoalan niat. Waktu tidur, kebiasaan sehari-hari, paparan cahaya, dan jam biologis bisa ikut memengaruhi bagaimana tubuh merespons pagi hari.

Baca Juga: Fenomena Outfit The Nuruls: Ketika Gaya Hijab Santai Menjadi Identitas Baru Gen Z

Morning Person dan Night Owl, Mana yang Lebih Produktif?

Bangun pagi sering dianggap sebagai bagian dari rutinitas produktif. Ada anggapan bahwa semakin cepat seseorang memulai hari, semakin banyak pula pekerjaan yang bisa diselesaikan.

Padahal, waktu terbaik untuk berkonsentrasi tidak selalu sama. Bagi morning person, pagi mungkin terasa sebagai waktu paling nyaman untuk bekerja atau belajar.

Sementara itu, night owl bisa saja baru mendapatkan fokus ketika hari mulai lebih tenang. Mereka tidak otomatis kurang produktif hanya karena tidak terbiasa bangun pagi.

Hal yang lebih penting justru adalah kecukupan waktu tidur. CDC menyebutkan bahwa orang dewasa umumnya membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam.

Artinya, bangun pukul 05.00 bukan pencapaian jika malam sebelumnya baru tidur beberapa jam. Tubuh tetap membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar bisa berfungsi dengan baik sepanjang hari.

Bisa Dilatih Menjadi Morning Person?

Kecenderungan jam biologis memang tidak bisa diubah begitu saja. Namun, kebiasaan tidur yang lebih teratur dapat membantu tubuh menyesuaikan diri dengan jadwal tertentu.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menjaga waktu tidur dan bangun tetap konsisten. Jadwal tersebut sebaiknya tidak berubah terlalu jauh ketika akhir pekan agar ritme tidur-bangun tetap terjaga.

Cahaya alami juga bisa dimanfaatkan pada pagi hari. Mendapatkan paparan cahaya lebih awal membantu tubuh mengenali bahwa hari sudah dimulai dan mendukung pengaturan ritme sirkadian.

Sebaliknya, cahaya terang pada malam hari dapat mengganggu proses tubuh dalam mempersiapkan tidur. Mengurangi paparan cahaya terang menjelang waktu tidur bisa menjadi salah satu kebiasaan sederhana yang membantu.

Baca Juga: Kekuatan Alami dari Buah Nanas: Mengenal Peran Bromelain dan Antioksidan bagi Tubuh

Perubahan pun tidak harus dilakukan secara mendadak. Jika ingin bangun lebih pagi, memajukan jadwal tidur secara bertahap akan lebih masuk akal daripada langsung memaksa tubuh bangun beberapa jam lebih awal.

Yang paling penting, jangan sampai keinginan menjadi morning person justru membuat waktu tidur berkurang.

Tidak Harus Bangun Pagi untuk Menjadi Produktif

Rutinitas pagi memang punya daya tarik tersendiri. Jalanan belum terlalu ramai, suasana masih tenang, dan seseorang punya waktu untuk mempersiapkan diri sebelum menjalani aktivitas.

Namun, produktivitas tidak memiliki satu jadwal yang berlaku untuk semua orang. Ada yang bisa menyelesaikan pekerjaan sejak pagi, sementara yang lain justru menemukan fokus terbaik beberapa jam setelahnya.

Perbedaan itu tidak perlu dijadikan perlombaan. Bangun lebih awal bukan bukti bahwa seseorang lebih rajin, begitu pula bangun lebih siang tidak otomatis berarti malas.

Mengenali pola tubuh justru dapat membantu seseorang menyusun jadwal yang lebih realistis. Waktu bekerja, belajar, berolahraga, dan beristirahat bisa diatur dengan mempertimbangkan kapan tubuh terasa paling siap.

Jadi, jika alarm pagi selalu terasa seperti musuh, tidak perlu buru-buru menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi tubuh memang memiliki ritme yang berbeda.

Sebab, menjadi produktif bukan tentang siapa yang paling cepat bangun. Yang lebih penting adalah mendapatkan tidur yang cukup dan menemukan ritme yang membuat tubuh siap menjalani hari. (Rahma Azra Calista)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Rahma Azra Calista Morning Person produktivitas tidur lifestyle