Self-Care Tak Harus Mahal, Bisa Dimulai dari Cara Kita Bicara pada Diri Sendiri

Adi Pras • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:10 WIB
Merawat diri juga berarti belajar lebih lembut kepada diri sendiri. (AI Generated)
Merawat diri juga berarti belajar lebih lembut kepada diri sendiri. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Satu kesalahan kecil kadang bisa membuat seseorang lupa pada banyak hal yang sudah dikerjakan dengan baik. Pekerjaan yang selesai, tugas yang berhasil dituntaskan, atau target yang tercapai seolah tidak berarti ketika pikiran terus terpaku pada satu hal yang berjalan keliru.

Situasi seperti ini cukup akrab dalam keseharian. Bukan hanya kejadian yang membuat lelah, tetapi juga suara di dalam kepala yang terus mengulang kesalahan yang sama.

Self-care selama ini lebih sering dibayangkan lewat sesuatu yang bisa dilakukan untuk memanjakan diri.

Membeli skincare, pergi ke salon, menikmati makanan favorit, atau mengambil waktu untuk berlibur menjadi beberapa pilihan yang umum dilakukan.

Baca Juga: Julie Estelle Tampil Anggun di Maternity Shoot, Aura Bumil Bikin Warganet Terpukau

Semua itu sah saja. Hanya saja, merawat diri sebenarnya tidak berhenti pada apa yang kita lakukan untuk tubuh.

Ada bagian lain yang sering luput diperhatikan, yaitu bagaimana kita berbicara kepada diri sendiri saat sedang kecewa, gagal, atau merasa tidak cukup baik.

Self-Care Bukan Sekadar Memanjakan Diri

Merawat diri tidak harus selalu hadir dalam bentuk aktivitas yang menyenangkan. Ada kalanya self-care justru berarti berhenti sejenak ketika tubuh sudah lelah, menolak sesuatu yang memang tidak sanggup dilakukan, atau memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Persoalannya, banyak orang justru merasa bersalah ketika melakukan hal-hal tersebut. Waktu untuk istirahat dianggap tidak produktif, sementara kegagalan kecil bisa langsung diterjemahkan sebagai tanda bahwa diri sendiri tidak cukup mampu.

Baca Juga: Tepis Rumor Keretakan Rumah Tangga, Siti Badriah dan Krisjiana Pamer Kemesraan Saat Liburan Berdua d

Di titik inilah cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri menjadi penting. Sebab, perlakuan kepada diri tidak hanya terlihat dari apa yang dilakukan di luar, tetapi juga dari kalimat yang muncul ketika tidak ada orang lain yang mendengarnya.

Perhatikan Suara di Dalam Kepala

Setiap orang memiliki self-talk, yaitu percakapan yang berlangsung dengan diri sendiri. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari mempertimbangkan sebuah keputusan hingga menanggapi kesalahan yang baru saja terjadi.

Masalahnya muncul ketika percakapan tersebut selalu dipenuhi kalimat yang menyudutkan. “Aku memang ceroboh.” “Aku selalu gagal.” “Kenapa orang lain bisa, sementara aku tidak?”

Baca Juga: Bukan Malas, Ini Alasan Tubuh Terasa Ingin Rebahan Terus

Kalimat seperti itu mungkin hanya muncul beberapa detik. Namun, jika terus menjadi kebiasaan, seseorang bisa semakin terbiasa melihat dirinya melalui kekurangan.

Bukan berarti semua pikiran negatif harus dipaksa berubah menjadi kalimat positif. Saat kecewa, seseorang tetap boleh merasa kecewa. Saat gagal, rasa sedih juga tidak perlu disangkal.

Yang bisa diubah adalah cara merespons perasaan tersebut. “Aku gagal” dapat menjadi “hasil kali ini belum sesuai harapan”. “Aku tidak bisa” bisa bergeser menjadi “aku belum bisa”.

Perbedaannya memang tipis jika hanya dilihat dari kata-kata. Namun, kalimat kedua memberi ruang untuk memperbaiki keadaan tanpa menjadikan satu kegagalan sebagai ukuran atas seluruh kemampuan diri.

Baca Juga: 5 Manfaat Pure Matcha untuk Kulit Wajah, Bantu Cerahkan Kulit hingga Atasi Jerawat

Tidak Harus Selalu Baik-Baik Saja

Keinginan untuk selalu produktif juga sering membuat seseorang sulit memberikan jeda kepada dirinya sendiri. Ketika pekerjaan belum selesai atau target belum tercapai, waktu istirahat justru terasa seperti sesuatu yang harus ditebus dengan rasa bersalah.

Padahal, manusia tidak bisa terus berjalan dengan tenaga yang sama setiap hari. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk berhenti, dan keduanya sama-sama dibutuhkan.

Hari yang tidak menghasilkan pencapaian besar pun bukan berarti hari yang sia-sia. Menyelesaikan satu tugas, merapikan kamar, memasak untuk diri sendiri, atau tidur lebih awal setelah hari yang panjang tetap merupakan bagian dari menjaga diri.

Tidak semua hal harus selesai dalam satu hari. Tidak semua rencana harus berjalan sesuai keinginan. Memberi diri sendiri ruang untuk menerima kenyataan tersebut juga termasuk bentuk perawatan.

Baca Juga: Pernah Merasa Tidak Punya Waktu? Bisa Jadi Kamu Mengalami Time Blindness

Memaafkan Diri Tanpa Mengabaikan Kesalahan

Kesalahan yang sudah berlalu sering kali tidak benar-benar selesai di kepala. Seseorang mungkin sudah meminta maaf atau memperbaiki keadaan, tetapi tetap kembali menyalahkan dirinya setiap kali mengingat kejadian tersebut.

Memaafkan diri bukan berarti menghapus kesalahan atau menganggapnya tidak penting. Kesalahan tetap perlu diakui karena dari sanalah seseorang bisa mengetahui apa yang perlu diperbaiki.

Setelah itu, ada waktunya untuk berhenti menghukum diri sendiri. Apa yang sudah terjadi mungkin tidak bisa diubah, tetapi cara kita membawa pengalaman tersebut ke depan masih bisa dipilih.

Baca Juga: Raisa Bawa Srikandi ke Panggung Pagelaran Sabang Merauke 2026

Kesalahan dapat menjadi pelajaran tanpa harus berubah menjadi label. Pernah gagal bukan berarti akan selalu gagal. Pernah membuat keputusan buruk juga tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai pribadi yang buruk.

Bentuk Self-Care yang Sering Terlupakan

Pada akhirnya, self-care tidak harus selalu terlihat dari luar. Tidak semua bentuk perawatan diri membutuhkan produk baru, tempat yang nyaman, atau pengeluaran tertentu.

Kadang, bentuknya justru sederhana: tidur ketika tubuh membutuhkan istirahat, mengambil jeda ketika pikiran mulai penuh, mengatakan tidak ketika memang tidak sanggup, atau berhenti membandingkan perjalanan diri dengan orang lain.

Hal yang sama berlaku pada cara berbicara kepada diri sendiri. Jika kepada seorang teman kita bisa mengatakan, “Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha,” kalimat yang sama seharusnya tidak terasa asing ketika ditujukan kepada diri sendiri.

Baca Juga: Sule Tampil Beda Saat Pemotretan, Gaya Hip-Hop hingga Cornrows Bikin Netizen Salfok Ada Poryek Apa?

Merawat diri bukan berarti menganggap semua masalah selesai atau memaksa diri untuk selalu berpikir positif. Ada kalanya self-care hanya berarti memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk merasa lelah, kecewa, melakukan kesalahan, lalu perlahan mencoba lagi.

Skincare, salon, makanan favorit, dan liburan tetap bisa menjadi bagian dari self-care. Namun, ada satu bentuk perawatan yang tidak perlu dibeli dan bisa dilakukan setiap hari: berbicara kepada diri sendiri dengan sedikit lebih lembut.

Sebab, setelah semua aktivitas selesai dan orang-orang di sekitar kita pulang dengan urusannya masing-masing, suara yang masih tinggal adalah suara dari diri sendiri. Akan jauh lebih ringan jika suara itu tidak selalu datang untuk menyalahkan. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Rahma Azra Calista self-care Self-Talk Penerimaan Diri kesehatan mental