SOLOBALAPAN.COM - Pernahkah melihat anak kecil tiba-tiba menirukan kata, kebiasaan, atau ekspresi orang dewasa di sekitarnya?
Padahal, mungkin tidak ada yang secara khusus mengajarinya.
Anak yang belum lancar berbicara pun sering kali sudah memperhatikan banyak hal, mulai dari cara orang tuanya berbicara hingga suasana yang ia rasakan setiap hari.
Dari situlah muncul anggapan bahwa pada masa kecil, anak seperti bisa “menyerap apa saja”.
Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi perlu dipahami dengan tepat.
Baca Juga: Dongker Gelar Perayaan Musik Dan Aksi Sosial Jelang Rilis Melankolia Radikal
Bukan berarti anak mampu memahami seluruh informasi seperti orang dewasa, melainkan pada masa awal kehidupannya, otak sedang berkembang sangat pesat dan responsif terhadap pengalaman serta lingkungan di sekitarnya.
Periode ini dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan atau 1.000 HPK, yang kerap disebut sebagai masa emas atau golden age.
Menariknya, 1.000 hari ini tidak dimulai ketika bayi lahir, melainkan sejak masa kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.
Artinya, perkembangan anak sudah menjadi perhatian bahkan sejak masih berada dalam kandungan.
Kesehatan dan nutrisi ibu selama kehamilan menjadi bagian dari masa penting tersebut.
Setelah lahir, kebutuhan anak berkembang semakin luas, mulai dari nutrisi, kesehatan, rasa aman, kasih sayang, hingga stimulasi dan interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Pada masa awal kehidupan, perkembangan otak berlangsung dengan sangat cepat.
UNICEF menyebut otak anak pada periode awal dapat membentuk lebih dari satu juta koneksi baru setiap detik.
Koneksi-koneksi inilah yang menjadi bagian penting dari kemampuan anak untuk belajar, berkomunikasi, bergerak, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Itulah sebabnya anak yang belum bisa banyak bicara bukan berarti belum belajar.
Sejak kecil, mereka sudah menerima berbagai pengalaman melalui apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan.
Baca Juga: Biodata Ayu Zhafira Amalia Kynbråten: Finalis Miss Norway 2026 yang Bangga Berdarah Indonesia
Suara orang tua, ekspresi wajah, sentuhan, ajakan berbicara, permainan sederhana, hingga respons ketika mereka menangis menjadi bagian dari proses tersebut.
Namun, kalimat “anak bisa menerima apa saja” tidak berarti orang tua harus terus-menerus memberikan stimulasi tanpa henti.
Masa emas bukan perlombaan untuk membuat anak secepat mungkin bisa membaca, berhitung, atau menguasai banyak kemampuan.
Justru, anak membutuhkan pengalaman yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Hal-hal sederhana seperti diajak berbicara, bermain, mendengarkan cerita, atau mendapatkan respons ketika mencoba berkomunikasi juga memiliki arti penting.
Misalnya, ketika bayi mengoceh dan orang tua meresponsnya, mungkin percakapan itu terlihat sederhana.
Padahal, interaksi seperti itu menjadi bagian dari proses anak belajar berkomunikasi.
Begitu pula ketika anak bermain dan mencoba menyentuh atau mengenali benda-benda di sekitarnya, ia sedang belajar melalui pengalaman.
Karena itu, masa 1.000 HPK bukan hanya berbicara tentang makanan.
Baca Juga: Sering Dianggap Gengsi, Benarkah Pengguna iPhone agar Terlihat Lebih Berkelas?
WHO juga menekankan pentingnya pengasuhan yang responsif, kesempatan belajar sejak dini, keamanan, dan perlindungan bagi tumbuh kembang anak.
Lingkungan yang diterima anak pun ikut menjadi perhatian. Anak membutuhkan rasa aman dan hubungan yang penuh kasih.
Pengalaman sehari-hari yang terus berulang dapat menjadi bagian dari fondasi perkembangan sosial dan emosionalnya.
Meski begitu, istilah golden age sebaiknya tidak membuat orang tua merasa harus sempurna.
Tidak setiap kesalahan akan langsung menentukan masa depan anak.
Orang tua bisa lelah, sibuk, atau melakukan kesalahan. Yang penting adalah adanya upaya untuk memenuhi kebutuhan anak dan membangun lingkungan yang aman serta responsif.
Jadi, mungkin lebih tepat jika mengatakan bahwa anak pada masa 1.000 hari pertama sedang belajar dari banyak hal di sekelilingnya.
Sebelum mengenal sekolah dan pelajaran, mereka lebih dulu mengenal dunia melalui orang-orang terdekat dan pengalaman sehari-hari.
Pada akhirnya, masa emas bukan tentang memberikan sebanyak mungkin hal kepada anak.
Masa ini tentang membangun fondasi melalui nutrisi yang cukup, kesehatan, rasa aman, kasih sayang, interaksi, serta kesempatan untuk perlahan mengenal dunia. (Rstri Rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto