Fase Grieving: Ketika Kehilangan Menjadi Perjalanan Hati, Temukan Kembali Makna Hidup

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:40 WIB
Fenomena Grieving. (AI Generated)
Fenomena Grieving. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Tidak semua kehilangan datang dengan suara keras, karena sebagian besar justru hadir dalam kesunyian yang perlahan mengubah cara seseorang melihat dunia dan dirinya sendiri.

Di balik aktivitas yang tetap berjalan seperti biasa, terdapat banyak individu yang sedang melewati perjalanan emosional panjang bernama grieving, yaitu proses manusia dalam menghadapi, memahami, dan menerima sebuah kehilangan.

Fase grieving bukan hanya tentang kehilangan seseorang yang dicintai, tetapi juga tentang kehilangan hubungan, harapan, impian, kesehatan, pekerjaan, maupun bagian kehidupan yang pernah memberikan makna.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering dituntut untuk segera kembali kuat setelah mengalami kehilangan, padahal proses penyembuhan emosional tidak dapat diukur dengan waktu yang sama bagi setiap orang.

Baca Juga: Beneran Nih!!! Desta Resmi Pamit dari Vindes Corp, Tulis Pesan Haru untuk Vincent Rompies

Duka memiliki bahasa yang berbeda pada setiap manusia, karena ada yang memilih menangis, ada yang memilih diam, dan ada pula yang menyimpan luka dalam dirinya sambil tetap menjalani kehidupan sehari-hari.

Fenomena grieving memperlihatkan bahwa kehilangan bukan sekadar peristiwa akhir, melainkan sebuah perjalanan psikologis yang membawa seseorang berhadapan dengan emosi terdalam yang selama ini mungkin tersembunyi.

Dalam kajian psikologi, proses berduka sering dikaitkan dengan tahapan emosional yang diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross, yaitu penolakan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance).

Namun, fase tersebut bukanlah jalan lurus yang harus dilewati secara berurutan, karena setiap individu dapat mengalami proses yang berbeda sesuai dengan pengalaman, hubungan emosional, serta kemampuan dalam menghadapi kehilangan.

Pada tahap awal, seseorang mungkin mengalami penolakan karena pikirannya masih berusaha memahami kenyataan yang terasa sulit diterima.

Perasaan marah kemudian dapat muncul sebagai bentuk pergulatan batin ketika seseorang mencoba mencari alasan atas kejadian yang telah mengubah kehidupannya.

Dalam perjalanan berikutnya, seseorang dapat mengalami fase tawar-menawar ketika hati masih berharap adanya kemungkinan untuk mengubah kenyataan yang sudah terjadi.

Kesedihan mendalam dapat hadir ketika seseorang mulai memahami bahwa kehilangan tersebut benar-benar terjadi dan tidak dapat dikembalikan seperti sebelumnya.

Namun, perlahan manusia memiliki kemampuan untuk menemukan penerimaan, bukan berarti melupakan kehilangan, melainkan belajar menjalani kehidupan dengan membawa kenangan tersebut sebagai bagian dari dirinya.

Baca Juga: Hanum Mega Terseret Isu "Penitipan Uang" Gara-Gara Spekulasi Netizen, Langsung Chat Lucinta Luna unt

Salah satu hal yang sering dilupakan masyarakat adalah bahwa grieving bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk alami dari cinta, keterikatan, dan nilai penting sesuatu yang pernah hadir dalam kehidupan seseorang.

Seseorang yang sedang berduka tidak selalu membutuhkan nasihat panjang, terkadang mereka hanya membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa harus merasa dipaksa untuk segera pulih.

Di era digital saat ini, cara manusia mengekspresikan duka juga mengalami perubahan karena banyak orang membagikan pengalaman kehilangan melalui ruang publik seperti media sosial.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mencari hubungan, dukungan, dan pengakuan bahwa rasa kehilangan yang dialaminya merupakan pengalaman yang nyata.

Meski demikian, setiap proses Grieving tetap menjadi perjalanan pribadi yang tidak dapat dibandingkan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Sebab, ukuran kedukaan bukan terletak pada seberapa cepat seseorang kembali tersenyum, tetapi pada bagaimana seseorang mampu berdamai dengan perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

Pada akhirnya, fase grieving mengajarkan bahwa kehilangan memang meninggalkan ruang kosong, tetapi dari ruang tersebut manusia dapat menemukan kekuatan baru, pemahaman baru, dan makna baru tentang kehidupan.

Karena terkadang, sesuatu yang hilang tidak benar-benar pergi, melainkan berubah menjadi bagian dari cerita yang membentuk siapa kita hari ini. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
grieving luka mental proses