Berkeliling ke Chiang Mai, Kota Wisata di Thailand yang Sebelumnya Ibu Kota Kerajaan

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:07 WIB
Lebih dari 700 tahun lalu, Chiang Mai dibangun sebagai pusat Kerajaan Lanna. Kini, kota ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata Thailand. Menariknya, jejak masa lalunya masih hidup di tengah kota modern. (Pinterest)
Lebih dari 700 tahun lalu, Chiang Mai dibangun sebagai pusat Kerajaan Lanna. Kini, kota ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata Thailand. Menariknya, jejak masa lalunya masih hidup di tengah kota modern. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Di balik suasana Chiang Mai yang kini dipenuhi kafe, pasar malam, penginapan, dan wisatawan dari berbagai negara, kota ini menyimpan sejarah yang sudah berlangsung lebih dari 700 tahun. Di kawasan kota tuanya, jejak masa lalu masih terlihat dari kuil, tembok, parit, dan bangunan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Chiang Mai didirikan pada 1296 oleh Raja Mangrai sebagai pusat politik, ekonomi, sosial, dan budaya Kerajaan Lanna. Nama Chiang Mai sendiri berarti “kota baru”, karena kota tersebut dibangun sebagai pusat baru bagi kerajaan yang sedang berkembang di wilayah utara.

Dari sebuah pusat kerajaan di utara Thailand, Chiang Mai kemudian berkembang menjadi salah satu kota yang paling dikenal wisatawan. Perjalanannya tidak selalu berjalan mulus. Kota ini pernah mengalami peperangan, ditinggalkan penduduknya, kemudian dibangun kembali hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.

Kota Baru untuk Kerajaan Lanna

Sebelum Chiang Mai berdiri, Raja Mangrai telah beberapa kali memindahkan pusat pemerintahannya. Ia sebelumnya memimpin dari beberapa wilayah seperti Ngeonyang, Chiang Rai, Fang, Lamphun, hingga Wiang Kum Kam.

Pada akhir abad ke-13, Mangrai mencari lokasi yang dianggap cocok untuk membangun pusat kerajaan baru. Setelah mempertimbangkan kondisi geografis dan masukan dari para penguasa sekutunya, lokasi di lembah Sungai Ping dipilih untuk menjadi tempat berdirinya Chiang Mai.

Pembangunan kota dilakukan dengan perencanaan yang cukup matang. Tembok kota, gerbang, menara pengawas, dan parit dibangun untuk melindungi kawasan tersebut. Pusat pasar juga ditempatkan di bagian tengah kota.

Dalam waktu sekitar empat bulan, pembangunan awal kota tersebut selesai. Chiang Mai kemudian menjadi pusat penting Kerajaan Lanna dan berkembang sebagai pusat pemerintahan sekaligus kebudayaan di wilayah utara.

Jejak Kerajaan Lanna Masih Terlihat

Lebih dari tujuh abad setelah didirikan, jejak Lanna masih menjadi bagian penting dari Chiang Mai.

Arsitektur kuil, seni Buddha, tradisi masyarakat, kerajinan tangan, hingga berbagai kebudayaan lokal masih memperlihatkan pengaruh peradaban Lanna. UNESCO mencatat bahwa kawasan Chiang Mai memiliki ratusan kuil Buddha dan berbagai peninggalan yang memperlihatkan perkembangan peradaban Lanna dari masa ke masa.

Baca Juga: Guncang JIS! Launching Persija Jakarta Bakal Dimeriahkan Grup Musik Internasional Far East Movement

Salah satu kawasan yang paling mudah melihat jejak tersebut adalah kota tua Chiang Mai.

Kawasan ini masih memiliki bentuk kota yang dipengaruhi perencanaan pada masa pendiriannya. Tembok dan parit yang dahulu berfungsi sebagai pertahanan kini menjadi bagian dari lanskap kota yang berdampingan dengan jalan, toko, restoran, dan tempat wisata.

Artinya, peninggalan sejarah di Chiang Mai bukan hanya berada di dalam museum. Sebagian masih berada di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pernah Mengalami Masa yang Sulit

Sejarah Chiang Mai tidak selalu dipenuhi perkembangan dan kemakmuran.

Pada periode konflik antara kerajaan-kerajaan di kawasan tersebut, Chiang Mai berada di posisi yang strategis sekaligus rentan. Kota ini kemudian berada di bawah pengaruh Burma selama periode yang panjang.

Peperangan membuat penduduk Chiang Mai meninggalkan kota. Pada akhir abad ke-18, kota tersebut bahkan sempat berada dalam kondisi hampir kosong dan mengalami kerusakan.

Kebangkitan Chiang Mai kemudian dimulai pada 1796 ketika Pangeran Kawila, dengan dukungan dari Bangkok, membangun kembali kota tersebut sebagai pusat Lanna.

Penduduk dari berbagai wilayah dipindahkan kembali ke Chiang Mai. Bangunan penting, termasuk sejumlah kuil, diperbaiki dan dipugar.

Dari proses inilah Chiang Mai kembali berkembang sebagai pusat penting di wilayah utara.

Baca Juga: Sunday Scaries, Rasa Cemas yang Datang Menjelang Senin

Dari Pusat Kerajaan Menjadi Kota Modern

Perubahan Chiang Mai tidak berhenti setelah masa Kerajaan Lanna berakhir.

Kota tersebut secara perlahan berkembang menjadi bagian dari Thailand modern. Perannya sebagai pusat pemerintahan regional, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan semakin kuat.

Di sisi lain, warisan Lanna tetap dipertahankan dan menjadi salah satu karakter utama kota.

Hal tersebut kemudian menjadi salah satu daya tarik Chiang Mai bagi wisatawan.

Saat ini, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat bangunan bersejarah. Chiang Mai juga dikenal karena lanskap pegunungan, kuliner, kerajinan, pasar tradisional, festival, serta suasana kota yang memadukan budaya lama dengan kehidupan modern.

Tourism Authority of Thailand menyebut Chiang Mai sebagai wilayah yang memadukan alam, budaya Lanna, dan kehidupan kontemporer. Beberapa tempat yang menjadi daya tarik wisata antara lain Wat Phra That Doi Suthep, Thapae Walking Street, Doi Inthanon, Doi Ang Khang, serta kawasan Nimmanhaemin.

Kuil, Pegunungan, dan Kehidupan Kota

Salah satu hal yang membuat Chiang Mai berbeda dari kota wisata lain di Thailand adalah kedekatan antara pusat kota dan alam.

Di satu sisi, wisatawan dapat berjalan menyusuri kawasan kota tua dan mengunjungi kuil-kuil bersejarah. Di sisi lain, kawasan pegunungan berada tidak jauh dari pusat kota.

Doi Suthep menjadi salah satu landmark yang paling dikenal. Dari kawasan tersebut, wisatawan dapat melihat pemandangan Chiang Mai dari ketinggian sekaligus mengunjungi Wat Phra That Doi Suthep yang memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat.

Di luar pusat kota, terdapat pula Doi Inthanon yang merupakan titik tertinggi di Thailand.

Kombinasi antara sejarah, budaya, dan alam inilah yang membuat Chiang Mai memiliki karakter berbeda dari Bangkok yang lebih identik dengan gedung tinggi, pusat perbelanjaan, dan kehidupan metropolitan.

Baca Juga: Kenapa NDX AKA Batalkan Konser 'Pati Full Vibes'? Singgung Situasi dan Kondisi Warga

Kota Tua yang Tetap Hidup

Hal menarik lainnya adalah bagaimana kawasan bersejarah Chiang Mai tidak sepenuhnya berubah menjadi area wisata yang hanya dikunjungi turis.

Kota tua masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di sekitar kuil dan bangunan lama, tetap terdapat rumah, toko, restoran, penginapan, hingga tempat usaha yang mengikuti perkembangan zaman.

Kondisi tersebut membuat batas antara “kota bersejarah” dan “kota modern” menjadi tidak terlalu jelas.

Seseorang bisa saja menghabiskan pagi dengan mengunjungi kuil berusia ratusan tahun, kemudian berjalan beberapa menit dan menemukan kedai kopi dengan interior modern.

Perpaduan seperti inilah yang menjadi salah satu karakter Chiang Mai.

Lebih dari Sekadar Kota Wisata

Popularitas Chiang Mai sebagai tujuan wisata memang semakin besar. Namun, menyebut kota ini hanya sebagai tempat liburan membuat sejarah panjangnya menjadi terlewat.

Chiang Mai pernah menjadi pusat Kerajaan Lanna, mengalami peperangan, kehilangan sebagian besar penduduknya, kemudian dibangun kembali dan berkembang menjadi kota penting di Thailand utara.

Warisan dari masa tersebut masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari tata kota, kuil, seni, tradisi, hingga kebudayaan masyarakatnya. UNESCO bahkan memasukkan “Monuments, Sites and Cultural Landscape of Chiang Mai, Capital of Lanna” ke dalam Tentative List Warisan Dunia Thailand.

Pada akhirnya, daya tarik Chiang Mai justru terletak pada kemampuannya mempertahankan masa lalu sambil terus berkembang.

Kota yang dahulu dibangun sebagai pusat Kerajaan Lanna itu kini dipenuhi wisatawan, kafe, pasar, dan kehidupan modern. Namun, di balik semua itu, bentuk kota dan budaya Lanna masih menjadi bagian dari identitasnya.

Chiang Mai bukan sekadar kota wisata di Thailand. Ia adalah kota yang tumbuh dari sejarah kerajaan dan berhasil membawa sebagian masa lalunya hingga ke kehidupan modern. (luthfiana sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : UNESCO, Tourism Authority of Thailand
luthfiana sekar chiang mai thailand lifestyle kota