Fenomena Almond Mom: Ketika Obsesi Pola Makan Sehat Justru Tidak Disukai Anak

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Fenomena Almond Mom. (AI Generated)
Fenomena Almond Mom. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM -  Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup sehat, muncul sebuah istilah yang ramai diperbincangkan di media sosial yaitu almond mom.

Sebuah fenomena ketika orang tua, khususnya ibu, menerapkan aturan makan yang sangat ketat kepada anak dengan alasan menjaga kesehatan dan bentuk tubuh.

Istilah ini dikenal luas setelah sebuah potongan video lama dari acara televisi realitas menjadi viral kembali.

Dalam video itu, seorang ibu menyarankan anaknya yang merasa lemas untuk mengonsumsi kacang almond.

Ini sempat memicu perdebatan tentang batas antara perhatian terhadap kesehatan dan pembatasan makan yang berlebihan.

Baca Juga: Klarifikasi Niken Salindry Soal Isu Perjodohan dengan Aditya Halindra Bupati Tuban: Masih 18 Tahun 

Fenomena ini kemudian berkembang menjadi simbol kritik terhadap budaya diet yang terlalu menekankan tubuh kurus, pengendalian berat badan, serta anggapan bahwa makanan tertentu harus selalu dianggap “baik” atau “buruk”.

Di Indonesia, istilah ini mulai mendapatkan perhatian seiring meningkatnya diskusi mengenai pola asuh, kesehatan mental anak, dan hubungan seseorang dengan makanan yang dibentuk sejak masa kecil.

Baca Juga: Karhutla Meluas Tembus 1.500 Ha! Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Kalimantan hingga Bekukan Izin PT MPK

Sejumlah orang tua mungkin memiliki niat positif ketika mengatur makanan anak, seperti mengurangi konsumsi gula berlebih atau memperbanyak makanan bergizi, tetapi masalah muncul ketika aturan tersebut berubah menjadi larangan ekstrem tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh anak.

Pola makan yang terlalu membatasi dapat membuat anak melihat makanan bukan lagi sebagai sumber energi dan kenikmatan, melainkan sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau dikendalikan secara berlebihan.

Ahli kesehatan menilai bahwa anak membutuhkan pola makan seimbang yang mencakup berbagai kelompok makanan sesuai kebutuhan pertumbuhan, bukan sekadar mengikuti standar diet tertentu yang diterapkan orang dewasa.

Komentar sederhana seperti melarang anak mengambil makanan tambahan, mempertanyakan rasa lapar, atau mengaitkan makanan dengan bentuk tubuh dapat memengaruhi cara anak memahami dirinya sendiri.

Baca Juga: Cetak Gol Perdana di Al Qadsiah! Unggahan Tijjani Reijnders Justru Panen Komentar Pedas Fans

Dalam jangka panjang, pola komunikasi seperti itu berpotensi membentuk hubungan yang kurang sehat dengan makanan karena anak dapat merasa bersalah ketika menikmati makanan tertentu atau merasa takut terhadap perubahan tubuhnya.

Fenomena almond mom juga memperlihatkan bagaimana budaya diet di media sosial dapat masuk ke ruang keluarga dan memengaruhi cara orang tua mendefinisikan kesehatan.

Tidak semua orang tua yang menerapkan pola makan sehat dapat disebut sebagai almond mom, karena perbedaan utamanya terletak pada cara pendekatan, yaitu apakah makanan diperkenalkan sebagai kebutuhan tubuh atau sebagai alat untuk mengontrol penampilan.

Pola pengasuhan yang lebih sehat adalah membantu anak memahami rasa lapar, rasa kenyang, serta pentingnya variasi makanan tanpa menanamkan rasa takut terhadap makanan tertentu.

Di era ketika informasi kesehatan mudah menyebar melalui media sosial, masyarakat perlu lebih kritis dalam memilah tren gaya hidup agar tidak menerapkan aturan yang terlihat sehat tetapi justru memberikan tekanan psikologis.

Pada akhirnya, tujuan utama membangun kebiasaan makan bukanlah menciptakan anak yang selalu mengikuti aturan diet, melainkan membantu mereka memiliki hubungan yang positif, seimbang, dan sadar terhadap makanan.

Fenomena almond mom menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak hanya berbicara tentang apa yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga bagaimana seseorang membangun hubungan emosional dengan makanan sejak usia dini. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Obsesi almond mom kesehatan pola makan anak