SOLOBALAPAN.COM - Di banyak tempat, jalan raya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mobil digunakan untuk pergi bekerja, mengantar anak ke sekolah, berbelanja, hingga mengunjungi tetangga.
Namun, ada sebuah desa di Belanda yang memiliki pemandangan berbeda.
Di Giethoorn, kendaraan bermotor bukanlah satu-satunya cara untuk berpindah tempat. Desa yang berada di Provinsi Overijssel ini terkenal dengan kanal-kanalnya yang membelah permukiman, jembatan-jembatan kecil, serta rumah-rumah tradisional yang berdiri di sepanjang tepian air.
Karena karakter tersebut, Giethoorn sering mendapat julukan Venice of the Netherlands atau “Venesia dari Belanda”. Meski begitu, menyebut Giethoorn sebagai desa yang sama sekali tidak memiliki jalan atau mobil sebenarnya kurang tepat.
Jalan dan kendaraan bermotor tetap dapat ditemukan di beberapa bagian desa, terutama di kawasan luar permukiman tua.
Yang membuat Giethoorn unik adalah kawasan pusat desa yang lebih banyak mengandalkan kanal, jembatan, jalan setapak, dan jalur sepeda dibandingkan jalan raya untuk kendaraan.
Keunikan Giethoorn tidak muncul begitu saja. Desa ini memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan air sejak awal perkembangannya.
Baca Juga: Kia Picanto Terjun ke Jurang di Tawangmangu, Satu Orang Meninggal dan Tiga Luka
Giethoorn didirikan oleh kelompok Flagellants, sebuah komunitas yang datang ke wilayah tersebut sekitar abad ke-13. Mereka kemudian mengembangkan permukiman di kawasan yang memiliki banyak rawa dan saluran air.
Penggalian kanal serta saluran air menjadi bagian dari perkembangan desa. Lingkungan alam tersebut kemudian ikut menentukan bagaimana Giethoorn dibangun.
Alih-alih berkembang dengan jaringan jalan besar seperti banyak permukiman modern, rumah-rumah di kawasan lama Giethoorn tumbuh mengikuti kanal dan jalur air. Jembatan-jembatan kecil kemudian digunakan untuk menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya.
Hasilnya adalah lanskap yang sangat berbeda dari desa pada umumnya.
Kanal di Giethoorn bukan sekadar pemandangan yang membuat desa ini terlihat indah dalam foto. Air telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Kanal digunakan sebagai jalur transportasi dan pada masa lalu juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan serta pengangkutan hasil pertanian dan berbagai bahan lainnya.
Perahu pun kemudian menjadi salah satu alat transportasi yang melekat dengan identitas Giethoorn. Hingga sekarang, wisatawan dapat menyewa perahu untuk menjelajahi kanal dan melihat desa dari sisi yang berbeda.
Salah satu jenis perahu yang populer adalah whisper boat, yaitu perahu bermotor listrik yang relatif tenang ketika digunakan di kanal. Perahu tersebut memungkinkan pengunjung menikmati kawasan desa tanpa suara mesin yang terlalu mengganggu suasana.
Baca Juga: Kekeringan di Sukoharjo Meluas di 3 Kecamatan dan 9 Desa, 1,26 Juta Liter Air Bersih Disalurkan
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan. Giethoorn sering digambarkan di internet sebagai desa yang “tidak memiliki jalan” atau “tidak memiliki mobil”. Gambaran tersebut sebenarnya terlalu sederhana.
Desa ini tetap memiliki jalan, dan kendaraan bermotor dapat ditemukan di beberapa bagian Giethoorn. Namun, kawasan pusat desa yang paling terkenal memang memiliki karakter yang berbeda.
Di kawasan tersebut, kanal, jembatan, jalan setapak, dan jalur sepeda lebih dominan dibandingkan jalan raya. Karena itu, wisatawan yang datang akan lebih sering melihat orang berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan perahu daripada lalu-lalang mobil.
Inilah yang membuat kawasan tua Giethoorn terasa begitu tenang.
Selain kanal, salah satu ciri khas Giethoorn adalah rumah-rumah tradisional dengan atap jerami. Banyak rumah berada di sepanjang kanal dan dihubungkan dengan jembatan-jembatan kecil. Sebagian jembatan berada di area pribadi, sementara lainnya menjadi bagian dari jalur yang dapat digunakan masyarakat dan wisatawan.
Pemandangan tersebut membuat perjalanan melewati Giethoorn terasa seperti memasuki permukiman yang berkembang mengikuti kondisi alam di sekitarnya.
Rumah-rumah tradisional juga menjadi salah satu alasan desa ini menarik perhatian wisatawan. Kombinasi antara air, jembatan, tanaman hijau, dan arsitektur tradisional menciptakan lanskap yang sangat mudah dikenali.
Popularitas Giethoorn membuat desa ini menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup dikenal di Belanda. Pengunjung dapat menjelajahi kanal menggunakan perahu, berjalan kaki menyusuri jalur desa, atau bersepeda untuk melihat kawasan di sekitarnya.
Namun, popularitas tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Ketika jumlah wisatawan meningkat, ketenangan yang menjadi salah satu daya tarik Giethoorn dapat ikut terganggu.
Baca Juga: Live Shopping Ubah Cara Orang Berjualan, Trik Mudah Gaet Pembeli
Karena itu, kehidupan Giethoorn tidak hanya berkaitan dengan bagaimana mempertahankan kanal dan rumah-rumah tradisional, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara kehidupan penduduk lokal dan aktivitas pariwisata.
Salah satu hal menarik dari Giethoorn adalah desa ini tidak harus menghilangkan karakter lamanya untuk berkembang menjadi tujuan wisata. Kanal yang dahulu memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat justru menjadi salah satu daya tarik utama desa hingga sekarang.
Perahu yang dahulu digunakan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari kini juga menjadi sarana bagi wisatawan untuk mengenal Giethoorn. Rumah-rumah tradisional tetap menjadi bagian dari lanskap, sementara jembatan dan jalur air mempertahankan karakter permukiman lama.
Dengan kata lain, hal yang membuat Giethoorn berbeda justru berasal dari cara desa tersebut tumbuh sejak awal.
Di tengah dunia yang semakin bergantung pada kendaraan bermotor, Giethoorn memberikan gambaran tentang bentuk permukiman yang berkembang dengan cara berbeda.
Di sini, air bukan penghalang yang harus dilewati. Air justru menjadi bagian dari jalan.
Mobil tetap ada, tetapi bukan menjadi pusat dari kawasan desa yang paling terkenal. Orang dapat berjalan melewati jembatan kecil, bersepeda di sepanjang jalan, atau menaiki perahu untuk menyusuri kanal.
Mungkin itulah alasan Giethoorn begitu menarik.
Desa ini bukan benar-benar tempat tanpa mobil seperti yang sering digambarkan, melainkan sebuah tempat di mana kanal masih memiliki peran besar dalam kehidupan dan lanskap permukiman.
Dan ketika perahu menjadi salah satu cara paling menyenangkan untuk menjelajahi sebuah desa, Giethoorn terasa seperti pengingat bahwa sebuah tempat tidak harus mengikuti pola kota modern untuk tetap hidup dan berkembang. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber