SOLOBALAPAN.COM – Hujan turun saat malam mulai sepi. Air terdengar berjatuhan di atap, jendela, atau halaman. Bagi sebagian orang, bunyi yang terus mengalir itu justru membuat suasana kamar terasa nyaman dan mata perlahan mulai berat.
Tak sedikit yang sengaja memutar rekaman hujan ketika sulit tidur. Suara kipas atau white noise juga sering dipilih untuk menemani beberapa menit sebelum akhirnya terlelap.
Lantas, mengapa bunyi yang terus terdengar justru bisa terasa menenangkan?
Baca Juga: Buka Suara Soal Status Tersangka, Ruben Onsu Ungkap Kendala Kumpulkan Bukti
Ketika Hujan Menjadi Latar
Bunyi hujan tidak selalu sama sepanjang malam. Kadang terdengar pelan, kemudian lebih deras ketika air mengenai atap atau permukaan lain.
Meski berubah-ubah, pergeserannya biasanya tidak terlalu mengejutkan. Berbeda dengan pintu yang tiba-tiba terbanting atau suara motor yang melintas dekat rumah, bunyi hujan tidak banyak membuat perhatian tersentak.
Baca Juga: Singapura, Kota yang Hampir Tidak Pernah Kehilangan Jejak Masa Lalunya
Hujan terus mengisi suasana. Lama-kelamaan, kita tidak lagi sibuk mendengarkan setiap tetesnya dan mulai menganggap bunyi tersebut sebagai bagian dari kamar.
Keadaan seperti ini membuat malam terasa lebih stabil. Tidak banyak suara mendadak yang memaksa perhatian kembali tertuju ke luar.
Saat Bunyi Lain Tidak Terlalu Menonjol
Coba bayangkan sedang berusaha tidur di rumah yang berada dekat jalan. Ketika suara motor lewat sesekali, perhatian bisa langsung kembali ke keadaan di luar kamar.
Jika pada saat yang sama terdengar hujan atau kipas secara terus-menerus, bunyi-bunyi kecil tadi bisa terasa lebih samar. Bukan hilang sepenuhnya, tetapi tidak selalu menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Konsep seperti ini sering dikaitkan dengan white noise, yaitu suara latar yang terdengar terus-menerus dengan pola yang relatif stabil. Bentuknya beragam, mulai dari kipas, pendingin ruangan, hingga rekaman suara tertentu.
Suara hujan sendiri tidak persis sama dengan white noise. Namun, keduanya sama-sama dapat menjadi bunyi latar yang membuat suasana sekitar terasa lebih konsisten.
Bayi Juga Sering Ditemani White Noise
White noise juga kerap digunakan orang tua ketika menidurkan bayi. Suara hujan, kipas, atau bunyi lain yang stabil diperdengarkan sebagai latar saat si kecil mulai mengantuk.
Tujuannya bukan membuat kamar menjadi berisik. Justru volumenya dibuat rendah agar suara tersebut hanya menjadi bagian dari suasana tidur.
Namun, tidak semua bayi membutuhkan white noise. Ada yang lebih mudah tenang dengan suara tertentu, sementara bayi lainnya justru nyaman dalam kamar yang sunyi.
Jika digunakan, sumber bunyi juga sebaiknya tidak diletakkan terlalu dekat dengan bayi dan volumenya tidak perlu keras. Fungsinya cukup sebagai latar, bukan memenuhi kamar dengan suara.
Bukan Berarti Hujan Langsung Membuat Kantuk
Pada orang dewasa, rasa nyaman ketika mendengar hujan juga tidak selalu berarti bunyi tersebut langsung mendatangkan kantuk. Bisa jadi, suasana yang tercipta membuat perhatian lebih mudah lepas dari suara-suara kecil di sekitar.
Hal serupa dapat dirasakan ketika tidur ditemani kipas atau pendingin ruangan. Setelah beberapa waktu, bunyinya mungkin tidak lagi benar-benar didengarkan, tetapi tetap menjadi bagian dari suasana kamar.
Namun, pengalaman ini tidak sama bagi semua orang. Hujan deras, angin kencang, atau petir justru bisa membuat seseorang terjaga.
Karena itu, suara hujan bukan semacam tombol tidur yang bekerja untuk semua orang. Bagi sebagian orang, bunyi air yang terus mengalir hanya membantu membuat malam terasa lebih nyaman.
Mungkin yang dicari bukan hujannya, melainkan suasana yang ikut datang bersamanya. Ketika bunyi dari luar tidak lagi terasa mengganggu, tubuh pun lebih mudah beristirahat. (rahma azra calista)
Editor : Kabun Triyatno