SOLOBALAPAN.COM- Ada cara lain untuk menikmati suasana Solo pada malam hari. Setiap Jumat terakhir dalam sebulan, sejumlah pesepeda berkumpul untuk menyusuri jalanan kota lewat Solo Last Friday Ride (SLFR).
SLFR merupakan kegiatan gowes bersama yang terbuka untuk berbagai kalangan dan jenis sepeda. Pesertanya tidak harus berasal dari komunitas tertentu. Berbagai jenis sepeda bisa ikut dalam kegiatan yang sudah rutin digelar tersebut.
Baca Juga: Tiga Era Spider-Man: Alasan Penonton Lintas Generasi Tetap Memadati Bioskop
Sebelum berangkat, peserta biasanya berkumpul di titik yang telah ditentukan. Setelah rombongan siap, perjalanan dimulai dengan menyusuri sejumlah ruas jalan. Tidak ada target untuk menjadi yang paling cepat karena SLFR bukan perlombaan.
Rute menjadi salah satu bagian yang membuat perjalanan ini tidak selalu sama. Setiap pelaksanaan dapat membawa peserta melewati kawasan yang berbeda. Dalam beberapa kegiatan, rutenya bahkan pernah mencapai kawasan Patung Sapi di Boyolali hingga Lapangan Klumprit.
Dengan rute yang berubah, peserta tidak hanya berputar di satu kawasan. Perjalanan bisa melewati jalan-jalan di Kota Solo maupun wilayah di sekitarnya. Jarak yang ditempuh pun mengikuti rute yang dipilih pada masing-masing pelaksanaan.
Baca Juga: Kocaknya Amanda Manopo Unboxing Isi Tas, Ternyata Ada Tas Mini untuk Dot Baby Zac
Bersepeda pada malam hari juga memberikan suasana yang berbeda. Lampu jalan mulai memenuhi ruas kota, kendaraan masih berlalu-lalang, dan sejumlah tempat tetap ramai oleh aktivitas warga. Pemandangan yang biasa dilihat pada siang hari bisa terlihat lain ketika dilewati malam hari dengan sepeda.
Kecepatan perjalanan yang tidak terlalu dipaksakan membuat peserta punya waktu untuk menikmati rute. Mereka tetap harus memperhatikan kondisi jalan, kendaraan yang melintas, serta pengguna jalan lainnya. Karena itu, keselamatan dan sikap saling menghargai menjadi bagian penting selama perjalanan.
Selain berkeliling, SLFR juga menjadi tempat bertemu bagi para penghobi sepeda. Peserta dari berbagai kalangan dapat berada dalam satu rombongan meski tidak berasal dari komunitas yang sama. Bagi sebagian peserta, pertemuan seperti ini menjadi bagian dari kegiatan selain bersepeda itu sendiri.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa bersepeda tidak selalu harus dilakukan pada pagi atau sore hari. Malam justru memberikan pilihan waktu lain untuk menikmati perjalanan. Suasana jalan yang lebih gelap, lampu kota, dan perjalanan bersama membuat pengalaman gowes memiliki karakter tersendiri.
SLFR sendiri sudah berlangsung cukup lama dan tetap digelar hingga sekarang. Konsistensinya terlihat dari agenda yang kembali hadir setiap Jumat terakhir. Bahkan ketika memasuki Ramadan, waktu pelaksanaan pernah disesuaikan menjadi setelah salat tarawih.
Baca Juga: Pemuda Bikin Onar di Masjid Shofa Solo, Diduga Terpengaruh Obat Terlarang Langsung Diamankan Polisi
Bagi peserta yang sudah terbiasa mengikuti SLFR, jadwal Jumat terakhir menjadi salah satu waktu untuk kembali bertemu dan bersepeda bersama. Rute boleh berubah, begitu juga kawasan yang dilewati, tetapi kegiatan tetap berangkat dari hal sederhana, yakni berkumpul dan mengayuh sepeda.
Di tengah aktivitas malam Kota Solo, rombongan pesepeda yang melintas menjadi pemandangan tersendiri. Mereka tidak sekadar menuju satu tempat, tetapi menikmati perjalanan dari satu ruas jalan ke ruas lainnya.
Dari situlah SLFR menjadi salah satu cara untuk melihat Solo dengan ritme yang berbeda. Kota tidak hanya dinikmati ketika berhenti di suatu tempat, tetapi juga ketika perjalanan itu sendiri menjadi bagian dari pengalaman. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber