SOLOBALAPAN.COM – Menjadi ibu sekaligus pekerja bukan sekadar menjalani dua aktivitas dalam waktu yang sama.
Di balik rutinitas bekerja, terdapat tanggung jawab domestik dan pengasuhan yang tetap harus dijalankan.
Kondisi ini membuat banyak ibu bekerja harus membagi waktu, energi, dan perhatian antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan keluarga.
Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam berbagai riset mengenai perempuan bekerja dan pembagian peran dalam keluarga.
Baca Juga: Usia 27 Tahun Kembali Jadi Mahasiswa, Fanny Soegi Segera Jalani PKKMB
Ibu bekerja kerap menghadapi apa yang disebut sebagai double burden atau beban ganda, yakni kewajiban menjalankan pekerjaan profesional sekaligus tanggung jawab rumah tangga.
Beban tersebut dapat muncul mulai dari mengurus anak, menyiapkan kebutuhan rumah, hingga memastikan pekerjaan kantor tetap selesai tepat waktu.
Dalam praktiknya, pembagian peran tersebut tidak selalu berjalan seimbang.
Ketika pekerjaan menuntut waktu lebih panjang, perhatian terhadap keluarga dapat berkurang.
Sebaliknya, ketika anak atau keluarga membutuhkan perhatian lebih, pekerjaan profesional dapat ikut terdampak.
Situasi inilah yang membuat ibu bekerja harus terus melakukan penyesuaian dalam kehidupan sehari-hari.
Persoalannya bukan hanya mengenai banyaknya pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga beban mental yang menyertainya.
Ibu sering kali menjadi pihak yang memikirkan berbagai kebutuhan keluarga, bahkan ketika sedang berada di tempat kerja.
Memastikan anak sudah makan, mengingat jadwal sekolah, menyiapkan kebutuhan rumah, hingga memikirkan kondisi anggota keluarga menjadi pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tetapi membutuhkan energi dan perhatian.
Di sisi lain, dunia kerja juga memiliki tuntutan tersendiri.
Target pekerjaan, tenggat waktu, rapat, hingga kebutuhan untuk tetap produktif membuat ibu bekerja harus menjaga profesionalitas.
Tidak sedikit yang akhirnya membawa persoalan pekerjaan ke rumah atau sebaliknya, memikirkan persoalan keluarga ketika sedang bekerja.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ibu bekerja tidak semestinya hanya dipandang sebagai kemampuan individu dalam mengatur waktu.
Dukungan dari lingkungan kerja dan keluarga memiliki peran penting.
Pembagian pekerjaan rumah tangga yang lebih adil, fleksibilitas kerja, serta lingkungan kerja yang memahami kebutuhan pekerja dengan tanggung jawab keluarga dapat membantu mengurangi beban yang harus ditanggung seorang ibu.
Perubahan cara pandang juga diperlukan. Pekerjaan domestik dan pengasuhan bukan semata-mata tanggung jawab perempuan.
Ketika tugas rumah tangga dan pengasuhan dibebankan hampir seluruhnya kepada ibu, sementara ia juga dituntut berprestasi dalam pekerjaan, ketimpangan peran semakin besar.
Baca Juga: Korpus Uterus, Cerita tentang Perempuan dan Tubuh yang Tidak Pernah Sederhana
Menjadi ibu bekerja pada akhirnya bukan persoalan memilih antara keluarga atau karier.
Banyak perempuan berusaha mempertahankan keduanya karena pekerjaan memberikan kemandirian dan kesempatan berkembang, sementara keluarga tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Tantangannya adalah bagaimana menciptakan kondisi yang memungkinkan kedua peran tersebut dapat dijalankan tanpa membuat salah satunya harus selalu dikorbankan.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang ibu tidak seharusnya diukur dari seberapa banyak hal yang mampu ia tanggung sendirian.
Dukungan pasangan, keluarga, tempat kerja, dan kebijakan yang ramah keluarga menjadi bagian penting agar ibu bekerja tidak terus-menerus berada dalam situasi harus memilih antara menjadi pekerja yang produktif dan ibu yang hadir bagi keluarganya. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto