SOLOBALAPAN.COM – Tiga nama besar death metal Indonesia, Dead Squad, Death Vomit, dan Jasad mengalami situasi kurang mengenakan dalam perjalanan rangkaian tur Eropa bertajuk “Cataclysmic Summer Tour 2026”.
Tur yang semula direncanakan sebagai perjalanan untuk membawa musik ekstrem Indonesia ke sejumlah negara Eropa tersebut, justru menghadapi persoalan setelah ketiga band bersama kru tiba di Benua Biru.
Rencana tur disebut mengalami kendala setelah pihak promotor, Diablo Productions, diduga tidak memenuhi sejumlah tanggung jawab yang sebelumnya telah disepakati.
Bahkan, pihak promotor disebut menghilang ketika para musisi dan kru telah berada di Eropa.
Baca Juga: Ada Yang Cari Penyanyi Bertarif Rp 100 Juta, Meisya Siregar Tawarkan Bebi Romeo
Kondisi tersebut membuat perjalanan ketiga band yang dikenal sebagai raksasa death metal Indonesia itu berada dalam situasi sulit.
Setibanya di Eropa, mereka disebut tidak mendapatkan akomodasi sebagaimana mestinya.
Persoalan tersebut menjadi semakin berat karena para personel dan kru juga harus menghadapi kondisi cuaca Eropa yang jauh lebih dingin dibandingkan dengan Indonesia.
Situasi yang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan tur musik, kemudian berubah menjadi persoalan yang harus mereka hadapi bersama.
Tanpa dukungan akomodasi yang semestinya, para personel dan kru harus mencari berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan selama berada di Eropa.
Untungnya di tengah kondisi tersebut, bantuan datang dari diaspora Indonesia yang berada di Eropa.
Ailtje, salah seorang diaspora Indonesia menyulap rumahnya sebagai tempat beristirahat sementara bagi para musisi dan kru.
Bantuan tersebut menjadi bentuk solidaritas yang cukup berarti bagi ketiga band di tengah situasi yang mereka hadapi.
Kehadiran diaspora Indonesia juga menunjukkan adanya ikatan komunitas yang tetap terjaga, meskipun berada jauh dari tanah air.
Ketika para musisi Indonesia menghadapi persoalan di negeri orang, dukungan dari sesama warga Indonesia menjadi salah satu hal yang membantu mereka melewati situasi tersebut.
Baca Juga: Cherry Pop 2026 Hadir di Candi Prambanan, Usung Tema “Repelita Musik”
Di sisi lain, perjalanan DeadSquad, Death Vomit, dan Jasad di Eropa pun tidak berhenti meski menghadapi kendala.
Ketiga band tersebut tetap berencana melanjutkan rangkaian “Cataclysmic Summer Tour 2026”.
Mulai 20 Agustus 2026, ketiga band dijadwalkan kembali menjalani rangkaian acara di sejumlah kota di Eropa.
Tur tersebut akan menyambangi beberapa negara, termasuk Belanda, Jerman, Belgia dan Swiss.
Keputusan mereka melanjutkan rangkaian pertunjukan menjadi bagian penting dari perjalanan ketiga band dalam membawa nama musik death metal Indonesia ke panggung internasional.
Mereka bertiga memutuskan melanjutkan tur dengan promotor lama sekaligus sahabat mereka, DF Bookings.
DeadSquad, Death Vomit dan Jasad merupakan tiga nama yang memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan musik ekstrem Indonesia.
Masing-masing memiliki karakter dan sejarah tersendiri, tetapi ketiganya sama-sama menjadi bagian penting dari perkembangan death metal di Tanah Air.
Kehadiran mereka dalam satu rangkaian tur Eropa menjadi momen ntuk memperkenalkan tentang musik death metal Indonesia kepada penonton internasional.
Kali ini, Cataclysmic Summer Tour 2026 bukan hanya sedekar tentang musik belaka.
Persoalan mengenai akomodasi dan dugaan hilangnya pihak promotor, solidaritas dari diaspora Indonesia menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama warga Indonesia.
Baca Juga: Absence Seizures Itu Apa? Jamal Musiala Divonis Gangguan Neurologis, Dua Kali Tumbang di Lapangan
Dukungan tersebut membantu para personel dan kru untuk tetap bertahan dan mempersiapkan diri sebelum kembali menuju kota-kota berikutnya.
Kini, Dead Squad, Death Vomit dan Jasad bersiap melanjutkan perjalanan. Setelah melewati masa sulit di awal kedatangan, tiga raksasa tersebut dijadwalkan melanjutkan tur Eropa pada 20 Agustus untuk meneruskan “Cataclysmic Summer Tour 2026”.
Tur tersebut menjadi perjalanan yang tidak hanya membawa musik death metal Indonesia ke luar negeri.
Tetapi juga memperlihatkan bagaimana solidaritas antar komunitas dapat menjadi kekuatan ketika para musisi menghadapi situasi sulit di negeri orang. (ramadhan pujo kusumo)
Editor : Ferry Ardi Susanto