Cherry Pop 2026 Hadir di Candi Prambanan, Usung Tema “Repelita Musik”

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:51 WIB
Foto poster dari acara Cherry Pop (sumber foto by akun Instagram resmi @cherrypopfest)
Foto poster dari acara Cherry Pop (Instagram @cherrypopfest)

SOLOBALAPAN.COM - Festival musik tahunan Cherry Pop kembali hadir pada 2026.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Cherry Pop akan digelar selama dua hari pada 22–23 Agustus 2026. 

Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, festival musik yang dikenal sebagai salah satu ruang pertemuan bagi musisi dan komunitas ini akan menghadirkan pengalaman baru dengan mengambil lokasi di kawasan Candi Prambanan, Jogja.

Pada penyelenggaraan tahun kelimanya, Cherry Pop mengusung tema “Repelita Musik”.

Baca Juga: Kehebohan Bakal Disajikan The Kick, The Jeblogs, Dan The Skit Saat Tampil Satu Panggung

Tema tersebut merepresentasikan perjalanan festival dalam melihat musik sekaligus budaya populer yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Perjalanan tersebut kemudian diterjemahkan melalui rangkaian pertunjukan dan program yang mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang.

Pemilihan tema “Repelita Musik” juga menjadi bagian dari perjalanan Cherry Pop yang selama beberapa tahun terakhir berupaya membangun identitas sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik. 

Festival ini turut memberikan ruang bagi berbagai komunitas, pelaku industri kreatif, serta ekosistem musik yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Pertama Kali Digelar di Candi Prambanan

Salah satu hal yang menjadi pembeda Cherry Pop 2026 adalah lokasi penyelenggaraannya. 

Untuk pertama kalinya, festival tersebut akan digelar di kawasan Candi Prambanan.

Pemilihan kawasan candi sebagai lokasi festival memberikan warna tersendiri bagi penyelenggaraan Cherry Pop tahun ini.

Ruang pertunjukan musik akan berpadu dengan salah satu kawasan bersejarah di Yogyakarta, menciptakan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung.

Perubahan lokasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana Cherry Pop terus berkembang dari tahun ke tahun. 

Festival yang sebelumnya lekat dengan ruang-ruang pertunjukan dan komunitas musik kini mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih luas dengan memanfaatkan ruang budaya sebagai bagian dari penyelenggaraan.

Baca Juga: Absence Seizures Itu Apa? Jamal Musiala Divonis Gangguan Neurologis, Dua Kali Tumbang di Lapangan

Selama dua hari, puluhan musisi akan tampil di empat panggung yang telah disiapkan.

Keempat panggung tersebut terdiri dari Cherry Stage, Nanaba Stage, Yayapa Stage, dan Chili Stage.

Keberadaan empat panggung tersebut membuat Cherry Pop tidak hanya menghadirkan satu jenis musik.

Para pengunjung dapat menemukan pertunjukan dari musisi dengan latar belakang, karakter, dan generasi yang beragam.

Ruang Pertemuan Musisi Lintas Generasi

Cherry Pop dikelola oleh Swasembada Kreasi. Festival ini menjadi salah satu perhelatan yang memberikan ruang bagi musisi lintas generasi sekaligus berbagai pelaku industri kreatif.

Konsep tersebut menjadi salah satu karakter yang membedakan Cherry Pop dari festival musik pada umumnya.

Musik menjadi pintu masuk untuk mempertemukan berbagai kelompok yang berada di dalam maupun di sekitar ekosistem kreatif.

Tidak hanya musisi yang tampil di atas panggung, keberadaan komunitas dan pelaku kreatif juga menjadi bagian dari suasana festival. 

Cherry Pop kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap musik, budaya populer, dan berbagai aktivitas kreatif.

Baca Juga: Mata Pegal Gara-Gara Seharian Menatap Layar HP dan Laptop? Atasi Segera dengan 4 Cara Mudah Ini!

Bagi sebagian kalangan muda, Cherry Pop bahkan memiliki julukan “Lebaran Skena”. 

Sebutan tersebut menggambarkan momentum berkumpulnya berbagai pelaku dan penikmat musik dari berbagai latar belakang.

Istilah “Lebaran Skena” juga merujuk pada suasana ketika berbagai komunitas yang selama ini bergerak di ruang masing-masing dapat bertemu dalam satu perhelatan. 

Musisi, penonton, komunitas, hingga pelaku industri kreatif menjadi bagian dari pertemuan tersebut.

Mempertemukan Musik dan Budaya Populer

Memasuki tahun kelima, perjalanan Cherry Pop menunjukkan bagaimana sebuah festival musik dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem budaya populer.

Musik tidak ditempatkan sebagai satu-satunya daya tarik, tetapi menjadi medium untuk mempertemukan berbagai gagasan, komunitas, dan generasi.

Melalui tema “Repelita Musik”, Cherry Pop 2026 mencoba melihat kembali perjalanan musik dan budaya populer sekaligus membawa pengalaman tersebut ke ruang yang baru.

Penyelenggaraan di Candi Prambanan juga menjadi momentum penting bagi Cherry Pop. 

Perpaduan antara pertunjukan musik, komunitas, dan latar kawasan bersejarah diharapkan memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang datang selama dua hari festival.

Baca Juga: Solo Safari Ungkap Kronologi Orang Utan Lepas, Pengamanan Bakal Diperketat

Dengan puluhan musisi yang tersebar di empat panggung, Cherry Pop 2026 diproyeksikan menjadi salah satu agenda musik dan budaya populer yang mempertemukan berbagai elemen skena kreatif di Jogja.

Festival ini sekaligus menjadi penanda perjalanan Cherry Pop yang memasuki usia lima tahun. 

Dari sebuah festival musik, Cherry Pop terus membawa gagasan mengenai ruang pertemuan antara musik, komunitas, budaya populer, dan industri kreatif.

Pada 22–23 Agustus 2026 mendatang, seluruh elemen tersebut akan kembali dipertemukan dalam satu lokasi, yakni kawasan Candi Prambanan.

Tahun kelima Cherry Pop pun menjadi babak baru bagi festival tersebut untuk melanjutkan perjalanannya bersama para musisi, komunitas, dan penikmat musik dari berbagai generasi. (ramadhan pujo kusumo)

Editor : Ferry Ardi Susanto
solobalapan cherrypop musik candi prambanan hiburan