SOLOBALAPAN.COM – Belajar bagi anak tidak selalu berarti duduk diam di depan buku selama berjam-jam.
Bagi anak, belajar bisa terjadi ketika bermain, berbicara dengan orang tua, menggambar, memasak, membaca cerita, berolahraga, bahkan ketika membantu pekerjaan sederhana di rumah.
Cara anak memperoleh pengalaman tersebut kemudian melahirkan gagasan mengenai multi learning, yaitu pendekatan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui berbagai aktivitas dan pengalaman.
Konsep ini dapat menjadi salah satu cara orang tua menciptakan suasana belajar yang lebih fleksibel di rumah.
Tidak semua anak menunjukkan perkembangan dengan cara yang sama.
Ada anak yang senang bertanya, Ada yang lebih suka mencoba sesuatu secara langsung.
Baca Juga: Ternyata Kata “Pengemis” Punya Kaitan dengan Tradisi Kemisan di Solo
Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami sebuah konsep.
Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dalam proses perkembangan anak.
Karena itu, orang tua tidak perlu memaksakan satu metode belajar kepada semua anak.
Yang lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai aktivitas dan melihat respons mereka terhadap pengalaman tersebut.
Istilah “multi learning” terkadang dikaitkan dengan pembagian gaya belajar seperti visual, auditori, atau kinestetik.
Namun, orang tua perlu berhati-hati agar konsep tersebut tidak berubah menjadi pelabelan.
Penelitian yang meninjau teori learning styles menemukan belum ada bukti yang cukup untuk membenarkan praktik pendidikan yang mengharuskan metode pembelajaran dicocokkan dengan satu gaya belajar tertentu.
Artinya, jangan sampai orang tua mengatakan, “Anak saya tipe visual, jadi tidak perlu belajar dengan cara lain.”
Baca Juga: Barang Mewah Ternyata Bukan Milik Sendiri: Ketika Ego Gaya Hidup Melebihi Kemampuan Finansial
Sebaliknya, anak tetap dapat memperoleh manfaat dari berbagai pengalaman, melihat gambar bisa dilakukan, mendengarkan cerita juga bisa, atau mencoba langsung pun dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Orang tua sebenarnya tidak perlu menyediakan kegiatan yang mahal untuk menerapkan pendekatan belajar yang beragam.
Aktivitas sehari-hari di rumah sudah dapat menjadi media pembelajaran.
Ketika memasak bersama, misalnya, anak dapat diajak menghitung jumlah bahan.
Saat berbelanja, anak dapat belajar mengenal angka, harga, dan konsep memilih kebutuhan.
Ketika merapikan mainan, anak dapat belajar mengelompokkan benda berdasarkan warna, bentuk, atau ukuran.
UNICEF juga menjelaskan bahwa pengalaman sehari-hari seperti mandi, memilah pakaian, memasak, dan menjalankan aktivitas rumah dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar.
Dengan begitu, rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, Rumah juga dapat menjadi ruang belajar pertama bagi anak.
Salah satu bagian penting dari multi learning adalah memberikan ruang untuk bermain.
Bagi orang dewasa, bermain mungkin terlihat seperti kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Baca Juga: Sering Dengar K-Pop? Kenali Arti Title Track, B-Side, Tracklist, dan Pre-release Single
Namun bagi anak, bermain merupakan bagian penting dari proses mengenal dunia.
Ketika bermain, anak dapat belajar berkomunikasi, menyelesaikan masalah, mengembangkan kreativitas, serta memahami lingkungan di sekitarnya.
UNICEF menyebut bermain sebagai bagian penting dari perkembangan kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak, Karena itu, bermain tidak harus selalu dipisahkan dari belajar.
Permainan justru dapat menjadi salah satu bentuk belajar yang paling dekat dengan kehidupan anak.
Dalam menerapkan pola asuh multi learning, peran orang tua bukan hanya memberikan instruksi.
Orang tua juga perlu menjadi teman berdiskusi, Ketika anak bertanya, misalnya, orang tua tidak harus selalu memberikan jawaban secara langsung.
Cobalah bertanya kembali.
“Menurut kamu, kenapa bisa begitu?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat mendorong anak untuk berpikir.
Anak kemudian belajar menyampaikan pendapat, membuat dugaan, dan mencari jawaban.
Pendekatan interaktif semacam ini sejalan dengan konsep Serve and Return, yaitu Interaksi dua arah antara anak dan orang dewasa yang responsif.
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi bolak-balik tersebut berperan penting dalam perkembangan bahasa, sosial, dan kognitif anak.
Baca Juga: Jokowi Hadir di Sidang Tahunan MPR, Megawati dan SBY Absen: Ada Apa?
Di era digital, orang tua juga memiliki lebih banyak pilihan media belajar.
Video edukasi, aplikasi interaktif, permainan digital, hingga buku elektronik dapat digunakan sebagai sumber tambahan.
Namun, teknologi sebaiknya tidak menggantikan interaksi langsung antara anak dan orang tua.
Misalnya, setelah menonton video tentang hewan, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi.
“Hewan apa yang paling kamu suka?”
“Menurut kamu, kenapa ikan bisa hidup di air?”
Dari satu video, dapat muncul percakapan yang jauh lebih panjang.
Dengan demikian, teknologi menjadi pemantik rasa ingin tahu, bukan sekadar alat untuk membuat anak diam di depan layar.
Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan, Memberikan pengalaman belajar yang beragam bukan berarti anak harus mengikuti banyak kegiatan setiap hari.
Baca Juga: Prichard Colon Meninggal, Harapan yang Dipelihara Hampir 11 Tahun Akhirnya Terhenti
Anak tidak harus mengikuti les matematika, musik, olahraga, bahasa, menggambar, dan berbagai aktivitas lainnya hanya karena orang tua ingin memberikan pengalaman sebanyak mungkin.
Terlalu banyak aktivitas justru dapat membuat anak kehilangan waktu untuk bermain bebas dan beristirahat.
UNICEF menekankan pentingnya free play, yaitu kesempatan bagi anak untuk memilih dan mengeksplorasi permainan mereka sendiri. Aktivitas tersebut dapat mendukung kreativitas, imajinasi, rasa percaya diri, dan kemandirian.
Karena itu, multi learning sebaiknya tidak dipahami sebagai “semakin banyak kegiatan, semakin pintar anak.”
Yang lebih penting adalah kualitas pengalaman yang diberikan.
Orang tua juga dapat menggunakan minat anak sebagai pintu masuk pembelajaran.
Jika anak menyukai kendaraan, misalnya, orang tua dapat mengenalkan konsep berhitung melalui jumlah roda.
Anak yang menyukai tanaman dapat diajak mengamati pertumbuhan biji, Sementara anak yang senang bercerita dapat diajak membuat cerita sendiri.
Dengan cara tersebut, pembelajaran terasa lebih dekat dengan dunia anak, Anak tidak hanya menerima informasi.
Baca Juga: Bukan Kereta Biasa, Jungfraubahn Menembus Gunung Alpen hingga 3.454 Meter
Mereka juga memiliki kesempatan untuk bertanya, mencoba, dan menemukan sesuatu berdasarkan rasa ingin tahunya.
Pola asuh multi learning juga mengajak orang tua untuk melihat perkembangan anak secara lebih luas.
Nilai akademik memang penting, Namun, perkembangan anak tidak hanya dapat dilihat dari angka di atas kertas.
Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan masalah, mengelola emosi, berkreasi, dan mencoba hal baru juga merupakan bagian dari proses tumbuh kembang.
Karena itu, orang tua dapat mulai mengubah pertanyaan.
Bukan hanya “Berapa nilai kamu?”
Tetapi juga:
“Hari ini kamu belajar apa?”
“Apa yang paling menyenangkan?”
“Apa yang menurut kamu sulit?”
Pertanyaan semacam ini membuka ruang bagi anak untuk bercerita.
Baca Juga: Smartwatch dan Obsesi Sehat: Ketika Jumlah Langkah Justru Menjadi Beban Baru
Kesalahan juga merupakan bagian dari proses belajar.
Ketika anak salah menghitung, salah menggambar, atau gagal menyelesaikan permainan, orang tua tidak harus langsung mengambil alih.
Berikan kesempatan untuk mencoba kembali.
Alih-alih mengatakan, “Salah, caranya begini,” orang tua dapat mengatakan, “Coba kita cari cara lain.”
Kalimat sederhana tersebut dapat membuat anak melihat kesalahan sebagai bagian dari proses, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Anak pun belajar bahwa kegagalan tidak selalu berarti dirinya tidak mampu.
Pada akhirnya, pola asuh multi learning bukan hanya tentang metode belajar.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu hubungan antara anak dan orang tua.
Anak membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan, merespons, dan terlibat dalam proses eksplorasinya.
Baca Juga: Viral Rincian Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta Per Bulan, Sempat Diisukan Tembus Rp16 Juta
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa hubungan yang responsif dan penuh perhatian membantu membangun dasar perkembangan otak serta kemampuan sosial dan bahasa anak.
Karena itu, orang tua tidak perlu merasa harus menjadi guru sempurna di rumah.
Terkadang, duduk bersama anak sambil membaca buku sudah cukup, Bermain bersama juga cukup.
Mendengarkan cerita anak tentang sesuatu yang menurut orang dewasa sepele pun memiliki nilai.
Inilah inti dari pendekatan multi learning dalam pengasuhan.
Belajar tidak harus selalu berupa buku dan tugas.
Anak dapat belajar ketika bertanya, belajar ketika bermain, belajar ketika membantu orang tua, belajar ketika gagal, belajar ketika mencoba kembali, dan belajar ketika berbicara dengan orang yang membuatnya merasa aman.
Karena itu, tugas orang tua bukan membuat setiap menit anak menjadi sesi pembelajaran.
Tugas orang tua adalah menciptakan lingkungan yang aman, responsif, dan kaya pengalaman, sehingga anak memiliki ruang untuk tumbuh sesuai tahap perkembangannya.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu memiliki jawaban.
Mereka membutuhkan orang tua yang bersedia menemani mereka mencari jawaban.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari multi learning yaitu bukan membuat anak belajar lebih banyak, tetapi memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk belajar dari kehidupan. (Siti Putri Lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto