Barang Mewah Ternyata Bukan Milik Sendiri: Ketika Ego Gaya Hidup Melebihi Kemampuan Finansial

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:09 WIB
Ilustrasi Barang Brended Sewaan. (AI Generated)
Ilustrasi Barang Brended Sewaan. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Tas bermerek, mobil mewah, apartemen dengan interior mahal hingga perhiasan bernilai tinggi kerap menjadi simbol keberhasilan di media sosial.

Foto dengan barang-barang tersebut mudah membuat seseorang terlihat memiliki kehidupan yang mapan.

Namun, apa yang terlihat di layar tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya.

Di balik tampilan serba mewah, ada orang yang ternyata hanya Menyewa barang tersebut demi kebutuhan tertentu, bahkan ada yang masih memiliki tunggakan pembayaran sewa.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana citra dan kondisi finansial seseorang terkadang berjalan di dua arah yang berbeda.

Baca Juga: Self-Care atau Self-Pressure? Ketika Tren Merawat Diri Justru Membuat Kita Terbebani

Menyewa barang mewah sebenarnya bukan sesuatu yang salah.

Seseorang dapat menyewa mobil untuk menghadiri acara, menyewa pakaian untuk pesta, atau menggunakan tas bermerek dalam kesempatan tertentu.

Masalah mulai muncul ketika barang sewaan tersebut digunakan untuk menciptakan kesan seolah-olah seseorang benar-benar mampu memilikinya.

Apalagi jika gaya hidup tersebut dipertahankan dengan mengorbankan kebutuhan lain.

Pada akhirnya, barang yang terlihat mahal justru dapat menjadi sumber masalah keuangan.

Media sosial membuat kehidupan seseorang semakin mudah dibandingkan dengan kehidupan orang lain.

Foto liburan, Restoran mahal, Mobil terbaru, Tas bermerek.

Semua dapat muncul dalam hitungan detik di layar ponsel.

Paparan tersebut dapat menciptakan tekanan untuk terlihat sukses.

Seseorang mungkin merasa harus mengikuti standar kehidupan yang ditampilkan orang lain agar tidak dianggap tertinggal.

Baca Juga: Ternyata Kata “Pengemis” Punya Kaitan dengan Tradisi Kemisan di Solo

Dalam kondisi seperti itu, membeli atau menyewa barang bukan lagi semata-mata karena kebutuhan.

Barang tersebut bisa menjadi bagian dari usaha membangun Citra diri. 

Fenomena barang mewah sewaan juga menunjukkan bahwa tampilan visual memiliki keterbatasan.

Sebuah foto tidak dapat menjelaskan apakah mobil yang digunakan merupakan milik pribadi, kendaraan pinjaman, kendaraan perusahaan, atau hasil sewa.

Begitu pula dengan tas, pakaian, perhiasan, hingga tempat tinggal, Orang hanya melihat hasil akhirnya.

Karena itu, membandingkan kondisi ekonomi diri sendiri dengan kehidupan orang lain berdasarkan unggahan media sosial dapat menjadi jebakan.

Yang dibandingkan sering kali adalah kehidupan nyata seseorang dengan Versi terbaik kehidupan orang lain.

Penting untuk membedakan antara menyewa barang sebagai kebutuhan dan menyewa barang demi gengsi.

Menyewa pakaian mahal untuk satu acara, misalnya, dapat menjadi pilihan ekonomis dibandingkan membeli pakaian yang hanya digunakan sekali.

Begitu juga menyewa kendaraan untuk kebutuhan tertentu.

Baca Juga: Smartwatch dan Obsesi Sehat: Ketika Jumlah Langkah Justru Menjadi Beban Baru

Namun, persoalan berbeda muncul ketika seseorang menyewa barang secara terus-menerus tanpa kemampuan finansial yang memadai, Terlebih jika kewajiban pembayaran mulai tertunda.

Barang yang seharusnya menjadi fasilitas akhirnya berubah menjadi beban.

Tunggakan sewa menjadi persoalan yang lebih serius.

Jika pembayaran tidak dilakukan sesuai kesepakatan, penyewa dapat menghadapi konsekuensi sesuai kontrak yang dibuat dengan pemilik atau penyedia jasa.

Masalah tersebut juga dapat berkembang menjadi persoalan hubungan antara kedua pihak.

Di satu sisi, penyewa ingin mempertahankan gaya hidup atau penggunaan barang tersebut.

Di sisi lain, pemilik tentu memiliki hak untuk menerima pembayaran sesuai kesepakatan.

Situasi ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan sebuah barang tidak selalu sama dengan kemampuan untuk mempertahankan biaya penggunaannya.

Ada perbedaan besar antara mampu membayar satu kali dan mampu mempertahankan sebuah gaya hidup.

Seseorang mungkin memiliki cukup uang untuk menyewa mobil mewah selama beberapa hari.

Namun, belum tentu orang tersebut memiliki kondisi keuangan yang memungkinkan untuk membayar biaya tersebut berulang kali.

Baca Juga: Prichard Colon Meninggal, Harapan yang Dipelihara Hampir 11 Tahun Akhirnya Terhenti

Hal yang sama berlaku untuk pakaian, tempat tinggal, perjalanan, hingga barang bermerek.

Kemampuan finansial seharusnya tidak hanya dilihat dari apa yang bisa dibeli atau digunakan hari ini.

Tetapi juga dari kemampuan memenuhi kebutuhan dan kewajiban dalam jangka panjang.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan media sosial.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research menemukan bahwa penggunaan media sosial dapat berkaitan dengan konsumsi yang lebih tinggi melalui peningkatan fokus seseorang terhadap diri sendiri dan pencarian status sosial.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa paparan terhadap konten media sosial dapat memengaruhi perilaku konsumsi dan cara seseorang memandang gaya hidup tertentu.

Artinya, keinginan memiliki atau menggunakan barang tertentu tidak selalu muncul hanya karena kebutuhan.

Lingkungan sosial dan apa yang terus-menerus dilihat di media juga dapat memainkan peran.

Baca Juga: Bukan Kereta Biasa, Jungfraubahn Menembus Gunung Alpen hingga 3.454 Meter

Namun, fenomena ini tidak boleh digunakan untuk menuduh semua orang yang menggunakan barang mewah sebagai orang yang sedang berpura-pura kaya.

Ada banyak orang yang memang mampu membeli dan memiliki barang tersebut.

Ada pula yang memilih menyewa karena alasan praktis.

Yang menjadi persoalan adalah ketika Citra kemewahan sengaja dipertahankan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial dan kewajiban yang menyertainya.

Karena itu, penting untuk tidak menghakimi seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat di media sosial.

Barang mewah memang dapat memberikan kesenangan.

Namun, barang tersebut seharusnya tidak menjadi ukuran utama keberhasilan seseorang.

Kemampuan membayar kebutuhan sehari-hari, memenuhi kewajiban, memiliki dana darurat, dan mengatur keuangan secara sehat jauh lebih penting daripada sekadar terlihat sukses.

Sebab, sebuah tas mungkin dapat membuat seseorang terlihat kaya selama beberapa jam.

Sebuah mobil mewah mungkin dapat menarik perhatian ketika melintas di jalan.

Tetapi tagihan tetap akan datang setelah kamera berhenti merekam.

Baca Juga: Duka di NTT! Gempa M 7,7 Guncang Subuh Hari, 2 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah seseorang boleh menggunakan barang mewah sewaan.

Tentu saja boleh, Yang perlu dipikirkan adalah apakah gaya hidup tersebut masih sesuai dengan kemampuan finansial atau justru membuat seseorang terus mengejar citra yang sebenarnya tidak sanggup dipertahankan.

Karena hidup nyaman bukan tentang seberapa mahal barang yang terlihat, Melainkan seberapa tenang seseorang ketika semua kewajibannya harus dibayar. (Siti Putri Lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
sewaan Gengsi barang mewah gaya hidup