Self-Care atau Self-Pressure? Ketika Tren Merawat Diri Justru Membuat Kita Terbebani

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Fenomena Merawat diri malah menjadi Beban. (AI Generated)
Fenomena Merawat diri malah menjadi Beban. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Merawat diri belakangan tidak lagi sekadar tentang beristirahat ketika tubuh lelah.

Self-care kini bisa berarti membeli skincare, pergi ke spa, berolahraga, menjaga pola makan, melakukan journaling, meditasi, hingga mengambil waktu untuk me time.

Di media sosial, berbagai aktivitas tersebut sering tampil dalam kemasan yang begitu menarik.

Kamar rapi, lilin aromaterapi menyala, skincare tersusun di meja, tubuh berolahraga, makanan sehat tersaji, lalu ditutup dengan secangkir kopi.

Sekilas, semuanya terlihat seperti gambaran kehidupan yang tenang dan ideal.

Namun, muncul pertanyaan lain. Apakah merawat diri benar-benar membuat kita lebih nyaman, atau justru menciptakan standar baru yang harus terus dipenuhi?

Pada dasarnya, self-care merupakan upaya seseorang untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan dirinya.

Masalahnya, konsep tersebut bisa berubah ketika mulai dipenuhi dengan terlalu banyak aturan.

Harus olahraga setiap pagi, harus menggunakan skincare tertentu, harus tidur delapan jam, harus makan sehat, harus meditasi, harus punya waktu untuk diri sendiri.

Bahkan, kegiatan untuk beristirahat pun terkadang terasa seperti tugas yang harus diselesaikan.

Alih-alih merasa tenang, seseorang justru merasa bersalah ketika tidak mampu menjalankan semua rutinitas tersebut. Ketika me time, media sosial turut mengubah cara orang melihat self-care.

Kita melihat orang lain bangun pagi, berolahraga, membuat sarapan sehat, membaca buku, menggunakan skincare, bekerja dengan produktif, lalu mengakhiri hari dengan meditasi, Semua terlihat sempurna. 

Baca Juga: Tornado, Lokomotif Uap yang Dibangun di Era Modern

Tanpa disadari, rutinitas tersebut dapat menjadi standar baru yang dibandingkan dengan kehidupan sendiri.
“Kenapa aku belum bisa serajin itu?”
“Kenapa hidupku tidak serapi mereka?”
“Apa aku kurang merawat diri?”

Padahal, apa yang muncul di media sosial hanyalah bagian tertentu dari kehidupan seseorang.

Penelitian tentang social comparison di media sosial menunjukkan adanya hubungan antara kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain secara daring dan berbagai persoalan psikologis.

Meta-analisis yang terbit pada 2026 menemukan bahwa upward social comparison , membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih baik atau lebih berhasil, berkaitan dengan kecemasan, emosi negatif, depresi, rendahnya kesejahteraan, dan harga diri yang lebih rendah.

Tren self-care juga tidak jarang dikaitkan dengan konsumsi, ada produk skincare baru, parfum, lilin aromaterapi, peralatan olahraga, suplemen, jurnal khusus, staycation, atau spa. Daftar tersebut bisa terus bertambah.

Padahal, merawat diri tidak selalu membutuhkan pengeluaran besar.

Tidur yang cukup, berjalan santai, berbicara dengan orang yang dipercaya, membaca buku, menikmati waktu tanpa gawai, atau sekadar memberikan diri sendiri waktu untuk tidak melakukan apa pun juga dapat menjadi bentuk perhatian terhadap diri.

Self-care seharusnya tidak membuat seseorang merasa harus terus membeli sesuatu agar dirinya merasa lebih baik. 

Saat Tubuh Dirawat, Pikiran Justru Tertekan Persoalan lain muncul ketika perawatan diri terlalu berfokus pada penampilan, Media sosial dipenuhi gambar tubuh ideal, kulit sempurna, makanan sehat, dan rutinitas kebugaran.

Seseorang yang terus melihat konten tersebut dapat mulai mempertanyakan tubuhnya sendiri, kulit dianggap kurang bagus, tubuh dianggap kurang ideal, pola makan dianggap belum cukup sehat, hingga olahraga dianggap belum maksimal.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Body Image pada 2025 menganalisis 83 studi dengan lebih dari 55 ribu peserta.

Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara kecenderungan melakukan perbandingan sosial di media sosial dengan kekhawatiran terhadap citra tubuh dan gejala gangguan makan. 

Baca Juga: Badai Absen Didera Persib! 14 Pemain Absen Lawan Sabah FC di Dewata Challenge, Ini Prediksi Susunan Pemain

Temuan tersebut tidak berarti media sosial otomatis menyebabkan masalah tersebut.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa cara seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan. 

“Kalau Tidak Produktif, Berarti Aku Gagal?”

Ada pula bentuk self-pressure yang lebih halus, Hari libur seharusnya digunakan untuk beristirahat.

Namun, seseorang justru merasa harus melakukan sesuatu, membersihkan kamar, berolahraga, membaca, belajar keterampilan baru, membuat konten, atau mengatur jadwal minggu berikutnya.

Bahkan waktu istirahat pun harus terasa produktif.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya produktivitas dapat masuk ke dalam konsep self-care.

Istirahat tidak lagi dilakukan karena tubuh membutuhkannya, Istirahat dilakukan agar besok bisa kembali produktif.
Padahal, manusia bukan mesin yang harus selalu menghasilkan sesuatu.

Rutinitas yang berhasil untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain.

Ada orang yang merasa lebih tenang setelah berolahraga, ada yang justru menikmati membaca buku sendirian, ada yang merasa rileks setelah berbicara dengan teman, ada pula yang hanya ingin tidur lebih awal setelah menjalani hari yang melelahkan.

Karena itu, self-care tidak seharusnya berubah menjadi perlombaan, tidak perlu mengikuti seluruh tren yang muncul di media sosial.

Tidak perlu memiliki rutinitas yang terlihat sempurna, yang penting adalah memahami apa yang memang dibutuhkan diri sendiri. 

Media sosial juga tidak sepenuhnya buruk.

Banyak orang justru menemukan komunitas, informasi, inspirasi olahraga, resep sehat, atau dukungan sosial melalui platform digital, masalahnya terletak pada bagaimana seseorang menggunakannya.

Penelitian mengenai media sosial dan kesejahteraan menunjukkan hasil yang tidak selalu seragam.

Sebuah umbrella review yang merangkum berbagai tinjauan dan meta-analisis menemukan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan kesejahteraan sangat kompleks serta dapat berbeda berdasarkan pola penggunaan dan konteksnya.

Artinya, bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan media sosial, yang juga penting adalah apa yang dilihat dan bagaimana seseorang meresponsnya.

Coba Tanyakan Kembali yaitu Ini Merawat atau Membebani? Sebelum mengikuti rutinitas self-care yang sedang viral, ada pertanyaan sederhana yang bisa diajukan kepada diri sendiri.

“Setelah melakukan ini, apakah aku merasa lebih baik?” Jika jawabannya iya, mungkin kegiatan tersebut memang memberikan manfaat.

Namun jika yang muncul justru rasa bersalah, kecemasan, atau tekanan karena merasa harus memenuhi standar tertentu, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak. 

Tidak apa-apa jika hari ini tidak produktif. Ada hari ketika seseorang mampu berolahraga.

Ada hari ketika memasak makanan sehat terasa menyenangkan.

Namun, ada pula hari ketika tubuh hanya ingin berbaring dan beristirahat.

Keduanya bukan berarti seseorang lebih baik atau lebih buruk, merawat diri juga berarti mampu mengenali batas diri, tidak memaksakan tubuh ketika lelah, tidak terus membandingkan diri. tidak merasa gagal hanya karena rutinitas hari ini berbeda dari kemarin.

Pada akhirnya, self-care bukan tentang memiliki rutinitas paling lengkap. Bukan pula tentang memiliki produk paling mahal atau kehidupan paling estetik. 

Baca Juga: Bagaimana Orang Indonesia Merayakan Kemerdekaan Sebelum Ada Lomba 17 Agustus?

Self-care adalah tentang memberikan perhatian terhadap kebutuhan diri tanpa menjadikan perawatan tersebut sebagai sumber tekanan baru.

Jika olahraga membuat tubuh terasa lebih segar, lakukan. Jika membaca membuat pikiran lebih tenang, atau luangkan waktu.

Jika tidur lebih awal membuat tubuh terasa lebih baik, tidak perlu merasa bersalah.

Dan jika hari ini yang mampu dilakukan hanyalah beristirahat. Sebab merawat diri tidak harus selalu terlihat indah di kamera.

Kadang-kadang, self-care justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana yaitu berhenti sejenak, menarik napas, dan mengakui bahwa kita tidak harus selalu baik-baik saja. (Siti Putri Lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Self Care Siti putri lestari self presure beban perawatan