Saat Belanja Jadi Cara Memanjakan Diri, Kenali Bedanya Self Reward dan Self Sabotage

Adi Pras • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:11 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang self reward  dengan berbelanja. (AI Generated)
Ilustrasi seseorang yang sedang self reward dengan berbelanja. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Setelah melewati hari yang melelahkan, membeli barang yang sudah lama diincar atau menikmati makanan favorit memang bisa menjadi cara sederhana untuk mengapresiasi diri.

Kebiasaan ini sering disebut sebagai self reward, yaitu memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah melewati usaha atau mencapai sesuatu.

Namun, keinginan untuk memanjakan diri juga perlu diperhatikan. Tanpa disadari, kalimat seperti “sekali-sekali boleh” bisa membuat seseorang terus melakukan checkout, tergoda promo, atau berbelanja hanya untuk memperbaiki suasana hati.

Lantas, kapan belanja masih termasuk self reward dan kapan justru berubah menjadi self sabotage?

Memahami Makna Self Reward

Self reward pada dasarnya merupakan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri setelah melakukan usaha atau mencapai suatu tujuan. Bentuknya tidak selalu harus berupa barang yang dibeli dengan uang.

Baca Juga: Tiga Bulan Jadi Mama, Alyssa Daguise Ingin Waktu Berjalan Lebih Lambat

Misalnya, seseorang yang berhasil menyelesaikan pekerjaan yang cukup berat memilih menikmati makanan favorit, menonton film, mengambil waktu untuk beristirahat, atau membeli barang yang memang sudah lama masuk daftar keinginan.

Konsep ini berkaitan dengan positive reinforcement, yaitu pemberian sesuatu yang menyenangkan setelah munculnya perilaku atau pencapaian tertentu. Pengalaman menyenangkan tersebut dapat membantu seseorang terdorong untuk mengulangi kebiasaan positif.

Karena itu, self reward seharusnya menjadi bentuk apresiasi setelah ada usaha, bukan sekadar alasan untuk terus memenuhi keinginan.

Baca Juga: Saat “Harus Bisa” Mulai Terasa Menekan, Ini yang Harus Dilakukan

Ketika Self Reward Mulai Berubah Menjadi Self Sabotage

Masalahnya muncul ketika belanja tidak lagi dilakukan sebagai penghargaan yang sudah direncanakan, tetapi menjadi cara untuk melarikan diri dari emosi yang sedang dirasakan.

Contohnya, seseorang sedang stres kemudian membuka aplikasi belanja dan melakukan checkout beberapa barang agar suasana hatinya membaik.

Ada pula yang sulit melewatkan promo karena takut ketinggalan atau FOMO, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.

Jika kebiasaan tersebut terus berulang, pengeluaran bisa menjadi sulit dikendalikan. Apalagi ketika pembelian mulai menggunakan cicilan atau paylater hingga mengganggu kebutuhan utama dan rencana keuangan.

Baca Juga: Wajahnya Disebut Mirip Zendaya, Ini Sosok Azizah Atlet Pencak Silat Asal Lombok

Pada kondisi seperti ini, belanja mungkin memang memberikan rasa senang untuk sementara. Namun setelahnya, seseorang justru bisa merasa menyesal karena pengeluaran bertambah dan anggaran yang sudah dibuat menjadi berantakan.

Bedanya Self Reward dan Self Sabotage

Perbedaan keduanya sebenarnya dapat dilihat dari alasan dan dampak setelah melakukan pembelian.

Self reward biasanya dilakukan setelah seseorang menyelesaikan sesuatu atau mencapai target tertentu. Pengeluarannya juga sudah dipertimbangkan dan tetap berada dalam kemampuan finansial.

Sementara itu, self sabotagelebih sering muncul secara impulsif. Keputusan belanja dapat dipicu stres, rasa bosan, kesedihan, atau keinginan untuk mendapatkan kesenangan secara cepat.

Baca Juga: Viral Video Tukang Cukur di Rancabungur Menolak Pasang Bendera Merah Putih, Sebut Belum Merdeka hingga Dibela Warganet

Dampaknya pun berbeda. Self reward seharusnya membuat seseorang merasa senang dan lebih bersemangat tanpa mengorbankan kebutuhan atau tujuan lain. Sebaliknya, self sabotage mungkin memberikan rasa lega sesaat, tetapi kemudian memunculkan penyesalan atau tekanan baru.

Self Reward Tak Harus Selalu dengan Belanja

Memanjakan diri sebenarnya tidak harus selalu dilakukan dengan mengeluarkan uang. Ada banyak bentuk self reward yang lebih sederhana dan tetap memberikan ruang untuk beristirahat setelah menjalani hari yang padat.

Mengambil waktu untuk tidur atau beristirahat, melakukan hobi, menikmati waktu sendiri, hingga menolak aktivitas yang terlalu menguras energi juga bisa menjadi bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.

Baca Juga: Bukan Sekadar di Dapur, Begini Peran Perempuan di Balik Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Jika ingin membeli sesuatu, tidak ada salahnya memilih barang yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Dengan begitu, kegiatan belanja tetap menjadi bentuk penghargaan, bukan keputusan spontan karena sedang terbawa suasana. (Anmer Jilvandis)

 

 

 

Editor : Adi Pras
Anmer Jilvandis Self Sabotage pencapaian apresiasi diri self reward