Saat “Harus Bisa” Mulai Terasa Menekan, Ini yang Harus Dilakukan

Adi Pras • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:05 WIB
Ilustrasi aktivitas mahasiswa mengerjakan tugas di tengah tuntutan akademik. (AI Generated)
Ilustrasi aktivitas mahasiswa mengerjakan tugas di tengah tuntutan akademik. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Ada satu kalimat yang cukup sering muncul di kepala mahasiswa ketika berhadapan dengan tugas, ujian, atau hasil yang tidak sesuai harapan.

“Aku harus bisa.”

Kalimat itu terdengar seperti penyemangat. Ada keinginan untuk mencoba lagi, belajar lebih giat, dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Namun, jika terus muncul setiap kali menghadapi sesuatu, kalimat itu bisa berubah menjadi tuntutan. Keinginan untuk berkembang perlahan bergeser menjadi perasaan bahwa kegagalan tidak boleh terjadi.

Hal seperti ini berkaitan dengan academic pressure atau tekanan akademik.

Baca Juga: Wajahnya Disebut Mirip Zendaya, Ini Sosok Azizah Atlet Pencak Silat Asal Lombok

Tekanan akademik bisa muncul dari tugas, ujian, target nilai, tuntutan keluarga, persaingan dengan teman, maupun standar yang dibuat sendiri.

Sumbernya tidak selalu datang dari luar.

Awalnya mungkin hanya ingin mendapat nilai bagus. Setelah berhasil, muncul keinginan untuk mempertahankannya. Ketika hasilnya turun, ada rasa takut karena pencapaian sebelumnya terasa harus terus dijaga.

Tanpa disadari, standar itu menjadi tuntutan pribadi.

Tidak ada yang mengatakan harus selalu mendapat nilai tinggi. Namun, seseorang bisa merasa tidak boleh turun, tidak boleh tertinggal, bahkan tidak boleh gagal.

Baca Juga: Bukan Cuma Bikin Mabuk, Ini Efek Alkohol pada Tubuh

Memiliki target sebenarnya bukan masalah. Target dapat membantu mahasiswa menentukan arah dan lebih disiplin dalam belajar.

Tekanan mulai terasa ketika hasil yang tidak sesuai target dianggap sebagai tanda bahwa diri sendiri tidak cukup mampu.

Nilai menjadi salah satu contoh yang paling mudah.

Angka bisa dilihat dan dibandingkan. Karena itu, nilai juga mudah dijadikan ukuran kemampuan diri. Ketika hasilnya kurang baik, usaha yang sudah dilakukan kadang ikut terasa sia-sia.

Padahal, satu nilai hanya menunjukkan hasil dari satu tugas atau ujian.

Baca Juga: Gisela Cindy Dipersunting James Nguyen, Mantan Artis Cilik Ini Resmi Menikah di Kanada

Ada proses yang tidak terlihat di baliknya. Mahasiswa yang dulu kesulitan memahami materi mungkin sekarang sudah lebih cepat menangkapnya. Yang sebelumnya bingung menyusun tugas mungkin sudah tahu harus mulai dari mana.

Perubahan seperti itu tidak selalu muncul dalam bentuk angka.

Tekanan juga bisa tumbuh ketika pencapaian orang lain terlalu sering dijadikan pembanding.

Ada teman yang sudah lulus ketika kita masih mengerjakan skripsi. Ada yang mendapat beasiswa, memenangkan lomba, aktif berorganisasi, atau sudah bekerja.

Media sosial membuat pencapaian tersebut semakin mudah terlihat.

Baca Juga: Saat Kasih Sayang dan Kebenaran Berhadapan dalam Ayah, Aku Mau Cerita

Melihat keberhasilan orang lain tentu tidak selalu buruk. Masalahnya muncul ketika pencapaian tersebut dipakai untuk menentukan apakah diri sendiri sudah cukup baik.

“Aku kapan bisa seperti dia?”

Pertanyaan itu bisa membuat kuliah terasa seperti perlombaan. Selalu ada sesuatu yang perlu dikejar karena standar keberhasilan terus berubah.

Padahal, kondisi setiap mahasiswa berbeda. Ada yang harus membagi waktu dengan pekerjaan, ada yang punya tanggung jawab lain, dan ada yang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami sesuatu.

Perbandingan sering kali hanya memperlihatkan hasil, bukan seluruh proses di belakangnya.

Tekanan juga dapat memengaruhi cara seseorang menjalani proses belajar.

Baca Juga: Bukan dari Adonan Tepung, Kini Donat Justru Berbahan Buah dan Cokelat, Berry Choco Donut Ikut Ramaikan Tren Kuliner

Ketika terlalu takut mendapat hasil buruk, belajar bisa berubah menjadi sekadar mengejar nilai. Ketika takut salah, seseorang bisa menjadi ragu untuk mencoba. Waktu istirahat pun kadang terasa seperti kesalahan karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.

Hal serupa bisa terjadi pada mahasiswa yang sulit merasa puas dengan hasil pekerjaannya sendiri.

Tugas sudah selesai, tetapi bagian yang kurang terus dipikirkan. Nilai sudah baik, tetapi satu kesalahan justru lebih diingat.

Keinginan memberikan hasil terbaik memang bisa menjadi dorongan. Namun, jika kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh terjadi, proses belajar justru terasa semakin berat.

Baca Juga: Kimpul Lagi Ramai, Kenali Kandungan dan Manfaatnya

Padahal, belajar memang membutuhkan kesempatan untuk salah.

Ada materi yang baru dipahami setelah beberapa kali mencoba. Ada tugas yang harus direvisi. Ada presentasi yang tidak berjalan sesuai rencana. Ada pula nilai yang belum sesuai harapan.

Semua itu merupakan bagian dari proses kuliah.

Karena itu, memiliki target tetap penting. Tugas harus dikerjakan, ujian perlu dipersiapkan, dan keinginan untuk berkembang tetap diperlukan.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika tuntutan tersebut membuat seseorang merasa tidak punya ruang untuk gagal.

Sebab, “aku ingin bisa” dan “aku harus bisa” membawa beban yang berbeda.

Baca Juga: Andika Sakit dan Tak Bisa Tampil, Praz Teguh Mendadak Jadi Vokalis Kangen Band di The Sounds Project

“Aku ingin bisa” masih memberi kesempatan untuk mencoba lagi ketika belum berhasil.

Sementara “aku harus bisa” dapat membuat kegagalan terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Padahal, menjadi mahasiswa juga berarti pernah berada di tahap belum bisa.

Belum memahami materi bukan berarti tidak mampu. Belum mendapat nilai yang diinginkan bukan berarti tidak berkembang. Belum mencapai sesuatu yang sudah dicapai orang lain juga bukan berarti tertinggal.

Mungkin kita memang perlu terus belajar dan berusaha. Kita boleh punya target dan menginginkan hasil yang baik.

Baca Juga: Suami Gisela Cindy Kerja Apa dan Asal Mana? Mantan Artis Cilik Resmi Menikah di Kanada, Berawal dari Sahabatan

Tetapi tidak semua hal harus langsung dikuasai.

Ada kalanya kita perlu menerima bahwa hari ini belum bisa, lalu mencoba lagi pada kesempatan berikutnya.

Sebab, tekanan akademik tidak hanya muncul dari banyaknya tugas atau tingginya target nilai.

Kadang, tekanan justru tumbuh dari tuntutan yang kita buat sendiri: perasaan bahwa kita harus selalu bisa dan tidak boleh gagal. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Rahma Azra Calista akademik mahasiswa Tekanan kuliah