SOLOBALAPAN.COM - Ada satu fase dalam kehidupan seorang ibu yang sulit dijelaskan hanya dengan kata “lelah”.
Ia masih menyayangi anaknya, merasa bahagia melihat tumbuh kembangnya, tetapi di saat yang sama mulai bertanya-tanya, “Aku yang dulu ke mana?”
Dulu mungkin ada waktu untuk berdandan tanpa terburu-buru, bertemu teman, mengejar pekerjaan, melakukan hobi, atau sekadar menikmati waktu sendirian.
Setelah memiliki anak, banyak hal berubah.
Waktu lebih banyak diberikan untuk mengurus keluarga, sementara kebutuhan diri sendiri perlahan ditempatkan di urutan belakang.
Baca Juga: Social Withdrawal di Era Digital: Ketika Terhubung Justru Melelahkan
Di media sosial, kondisi seperti ini kemudian memiliki istilah yang terdengar cantik tetapi menyimpan cerita yang cukup dalam: “Flamingo Era.”
Istilah tersebut ramai digunakan para perempuan, khususnya ibu, untuk menggambarkan fase perubahan setelah memiliki anak.
Tren ini salah satunya mendapat perhatian setelah unggahan di TikTok memperlihatkan transformasi beberapa perempuan dari sebelum memiliki anak hingga menjalani kehidupan sebagai ibu.
Lantas, mengapa harus flamingo?
Jawabannya justru ada pada kehidupan burung tersebut.
Flamingo dikenal dengan bulunya yang berwarna merah muda.
Warna itu bukan sekadar bawaan lahir, melainkan berasal dari karotenoid yang diperoleh dari makanan mereka. Flamingo muda bahkan tidak langsung memiliki warna merah muda seperti induknya.
Yang kemudian membuat analoginya terasa kuat adalah cara flamingo merawat anak.
Induk flamingo menghasilkan cairan bernutrisi yang disebut crop milk untuk diberikan kepada anaknya.
Cairan tersebut kaya akan nutrisi dan juga mengandung pigmen karotenoid. Selama musim berkembang biak, pigmen yang sebelumnya membantu mempertahankan warna tubuh induknya ikut dialihkan untuk memenuhi kebutuhan anak.
Baca Juga: Berburu Kuliner Walang Goreng di Car Free Night Gemolong, Ada Tiga Varian Rasa
Akibatnya, warna bulu induk dapat memudar dan mereka terlihat lebih pucat.
Smithsonian National Zoo bahkan menggambarkan perubahan tersebut sebagai sesuatu yang dapat terlihat jelas.
Ketika musim berkembang biak berlangsung, induk flamingo bisa menjadi lebih putih, sementara anak-anaknya justru mulai mendapatkan warna merah muda seiring pertumbuhan mereka.
Fenomena alam tersebut kemudian digunakan sebagai gambaran tentang pengalaman sebagian ibu.
Bukan berarti seorang ibu benar-benar kehilangan kecantikan atau identitasnya setelah memiliki anak.
“Kehilangan warna” dalam istilah Flamingo Era lebih merupakan metafora tentang bagaimana seseorang bisa memberikan begitu banyak energi kepada keluarganya hingga kebutuhan dirinya sendiri nyaris tidak mendapatkan tempat.
Ada ibu yang berhenti melakukan hobinya karena tidak punya waktu. Ada yang menunda karier.
Ada yang jarang bertemu teman. Ada pula yang bahkan tidak sempat memikirkan hal-hal sederhana seperti kapan terakhir kali ia melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri.
Yang menarik, Flamingo Era tidak selalu digambarkan sebagai fase yang buruk.
Menjadi ibu bisa membawa kebahagiaan yang sangat besar.
Baca Juga: Sering Lelah Saat Bangun Pagi? Coba 5 Langkah Sederhana Ini untuk Memperbaiki Kualitas Tidur
Tetapi kebahagiaan tersebut tidak menghapus kenyataan bahwa perubahan peran juga membutuhkan penyesuaian. Seseorang bisa sangat mencintai anaknya sekaligus merindukan sebagian dirinya yang dulu.
Di situlah istilah ini terasa dekat bagi banyak perempuan.
Sebab kehilangan waktu untuk diri sendiri tidak selalu terjadi karena ada yang memaksa.
Kadang-kadang seorang ibu memang memilih memberikan hampir seluruh energinya kepada anak karena merasa itulah yang paling dibutuhkan.
Hari demi hari berlalu, anak tumbuh, sementara sang ibu baru menyadari bahwa dirinya sudah lama tidak melakukan sesuatu yang membuatnya merasa seperti dirinya sendiri.
Namun, metafora flamingo memiliki bagian lain yang tidak kalah penting.
Warna itu tidak hilang selamanya.
Ketika anak mulai tumbuh dan kebutuhan mereka terhadap induknya berkurang, flamingo kembali mendapatkan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya sendiri.
Dengan asupan karotenoid yang cukup, warna merah muda pada bulu mereka dapat kembali.
Karena itu, Flamingo Era juga bisa dibaca sebagai cerita tentang kembali menemukan diri sendiri.
Baca Juga: Ketika Media Sosial Membuat Kita Merasa Tidak Pernah Cukup
Bukan berarti seorang ibu harus kembali menjadi orang yang sama seperti sebelum memiliki anak.
Bisa jadi ia justru menemukan versi dirinya yang baru—dengan pengalaman, prioritas, dan cara melihat kehidupan yang berbeda.
Kembali bekerja, mulai menekuni hobi, bertemu teman, merawat diri, belajar sesuatu yang baru, atau sekadar memiliki waktu sendirian mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang selama bertahun-tahun selalu menempatkan kebutuhan keluarga di depan, hal-hal tersebut bisa menjadi cara untuk mengambil kembali sedikit demi sedikit ruang yang pernah ia tinggalkan.
Maka, Flamingo Era bukan sekadar istilah estetik yang memakai nama burung berwarna merah muda.
Di baliknya ada cerita tentang perempuan yang pernah memberikan begitu banyak hal untuk keluarganya, sampai merasa dirinya sendiri perlahan memudar.
Dan mungkin pesan paling menarik dari metafora ini bukan tentang bagaimana seorang ibu kehilangan warnanya.
Melainkan tentang keyakinan bahwa warna itu masih ada dan bisa kembali. (Rastri Rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto