Menu Serba Manis Yang Mulai Ditinggalkan: Ketika Gula Tak Lagi Jadi Sahabat

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:50 WIB
Ilustrasi tantangan berhenti memakan atau minum gula untuk kesehatan. (AI Generated)
Ilustrasi tantangan berhenti memakan atau minum gula untuk kesehatan. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pagi itu, secangkir kopi datang tanpa gula. Rasanya asing.

Siang harinya, minuman boba yang biasanya menemani waktu istirahat diganti dengan air putih.

Sore menjelang, godaan sepotong kue di meja kantor hanya bisa dipandangi dari kejauhan.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti pengorbanan kecil.

Baca Juga: Komentar Adem Dr. Gia, Tanggapi Nakes Yang Dirujak Netizen Gara-Gara Komentar Miring Kepada Yurizal, Pasien BPJS Yang Meninggal Dunia

Namun, bagi mereka yang mengikuti No Sugar Challenge, setiap keputusan untuk menolak rasa manis adalah pertarungan melawan kebiasaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Dalam beberapa bulan terakhir, media sosial dipenuhi video orang-orang yang mengaku berhasil menjalani tujuh hari, tiga puluh hari, bahkan berbulan-bulan tanpa gula tambahan.

Wajah mereka tampak lebih segar, berat badan disebut turun, kulit terlihat lebih bersih, dan energi diklaim meningkat drastis.

Tantangan ini kemudian berkembang menjadi tren gaya hidup. Tagar #NoSugarChallenge tidak lagi sekadar ruang berbagi pengalaman, melainkan juga panggung yang menghadirkan janji-janji tentang tubuh yang lebih sehat dan hidup yang lebih berkualitas.

Namun, di balik ribuan unggahan tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibahas: apakah tantangan ini benar-benar lahir dari kesadaran menjaga kesehatan, atau hanya mengikuti arus yang sedang viral?

Tidak dapat dimungkiri, konsumsi gula berlebihan memang menjadi perhatian dunia kesehatan.

Minuman berpemanis, camilan kemasan, hingga makanan cepat saji membuat gula hadir hampir di setiap menu harian.

Tanpa disadari, tubuh menerima asupan gula jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan.

Kondisi inilah yang dikaitkan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga gangguan metabolisme.

Dari sudut pandang ini, mengurangi gula tentu merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun, mengurangi bukan berarti menghilangkan sepenuhnya.

Baca Juga: Balasan Komentarnya Terlalu Baku, Apris Devita Sampai Bikin Warganet Bercanda: "Kayaknya AI"

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh kalangan medis.

Dokter spesialis anak sekaligus pemerhati gizi dr. Siska Mayasari Lubis menegaskan, masyarakat tidak perlu menghindari seluruh jenis gula.

Melainkan lebih bijak dalam membatasi konsumsi gula tambahan yang banyak ditemukan pada minuman kemasan, makanan olahan, dan camilan manis.

Menurutnya, rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar asupan gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan akan memberikan manfaat kesehatan yang lebih optimal jika jumlahnya berada di bawah 5 persen.

Kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti obesitas, diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan metabolisme.

Di sinilah letak kesalahan yang sering terjadi. Banyak orang menganggap semua jenis gula adalah musuh.

Buah-buahan mulai dihindari karena dianggap mengandung gula. Susu tidak lagi diminum karena dinilai dapat menggagalkan tantangan.

Bahkan, ada yang rela hanya mengonsumsi makanan hambar demi mendapatkan label "bebas gula".

Padahal, tubuh tetap membutuhkan karbohidrat dan gula alami sebagai sumber energi. Yang menjadi masalah bukanlah gula secara keseluruhan, melainkan konsumsi gula tambahan secara berlebihan.

Ketika informasi kesehatan dipotong menjadi slogan singkat di media sosial, pesan penting itu sering kali hilang.

Fenomena ini menunjukkan sisi lain dari budaya digital. Kesehatan perlahan berubah menjadi tantangan yang harus dipamerkan.

Hari pertama tanpa gula diunggah ke Instagram. Hari ketujuh dijadikan konten TikTok.

Hari ketiga puluh dirayakan dengan foto before-after. Tidak ada yang salah dengan membagikan perjalanan hidup sehat.

Namun, ketika tujuan utama bergeser dari membangun kebiasaan menjadi mengejar validasi, tantangan kesehatan justru kehilangan maknanya.

Tubuh bukanlah proyek yang harus selesai dalam hitungan minggu, melainkan investasi yang memerlukan proses panjang dan konsisten.

Baca Juga: Pencairan PKH dan BPNT Dikebut Bulan Ini, Kemensos Beberkan Alasan Jutaan Penerima Dialihkan

Ironisnya, banyak peserta No Sugar Challenge justru mengganti gula dengan produk berlabel "bebas gula" tanpa memahami kandungannya.

Minuman rendah gula, camilan diet, hingga pemanis buatan dikonsumsi dalam jumlah berlebihan karena dianggap aman.

Padahal, hidup sehat tidak ditentukan oleh satu label pada kemasan.

Pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan pengelolaan stres tetap menjadi fondasi utama kesehatan.

Tidak ada satu tantangan pun yang mampu menggantikan kebiasaan baik yang dilakukan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, No Sugar Challenge seharusnya tidak dipahami sebagai perlombaan tentang siapa yang paling lama menolak rasa manis.

Tantangan ini akan bermakna jika menjadi pintu masuk untuk mengenali apa yang dikonsumsi setiap hari dan bagaimana makanan memengaruhi tubuh.

Sebab, hidup sehat bukan tentang menghapus gula dari kehidupan, melainkan tentang belajar menempatkannya pada porsi yang tepat.

Di tengah derasnya tren kesehatan di media sosial, mungkin yang paling dibutuhkan bukan tantangan baru, melainkan kesadaran bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan. (siti putri)

Editor : Ferry Ardi Susanto
hidup sehat No sugar challenge makanan manis gizi gula