Makan Belakangan, Konten Nomor Satu: Ketika Estetika Mengalahkan Selera

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 08:45 WIB
Fenomena Foto Dulu Baru makan yang sering terjadi. (AI Generated)
Ilustrasi pengunjung restoran mengabadikan foto menu makan sebelum disantap. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Di kafe yang ramai atau resto yang menyediakan menu-menu makanan unik, sering kita lihat pengunjung memfotonya dulu sebelum di santap.

Pemandangan seperti itu kini terasa begitu akrab.

Semangkuk ramen masih mengepul, secangkir kopi masih memancarkan aroma khas, dan sepotong kue baru saja diantar ke meja.

Namun, tak ada satu pun yang langsung menyentuh sendok atau garpu.

Sebaliknya, beberapa tangan sibuk mengatur sudut pengambilan gambar, menggeser posisi gelas, menyalakan lampu kilat, hingga merekam video dari berbagai arah.

Baca Juga: Tradisi yang Dulu Menjadi Bagian Kehidupan Masyarakat, Kini Tak Lagi Seramai Dulu 

Makanan yang seharusnya dinikmati selagi hangat, justru harus menunggu.

Di era media sosial (medsos), makan tampaknya bukan lagi tentang rasa, melainkan bagaimana tampil di layar ponsel.

Fenomena "foto makanan dulu, baru makan" semakin melekat dalam keseharian Generasi Z.

Aktivitas sederhana seperti menikmati hidangan kini sering kali berubah menjadi proses produksi konten.

Sebelum suapan pertama, ada ritual yang dianggap tak kalah penting, yakni mengambil foto atau video yang dinilai estetik untuk diunggah ke Instagram, TikTok, atau platform digital lainnya.

Makanan bukan lagi sekadar santapan, melainkan materi visual yang harus memenuhi standar algoritma dan selera audiens.

Perubahan ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, tetapi juga membentuk kebiasaan baru dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Hidangan yang tersaji di atas meja kini memiliki dua fungsi sekaligus: memenuhi kebutuhan biologis dan memenuhi kebutuhan eksistensi digital.

Tidak sedikit orang yang rela makanan menjadi dingin, es mencair, bahkan tekstur hidangan berubah hanya demi memperoleh hasil foto yang dianggap sempurna.

Baca Juga: Tak Selalu Harus Berat, Ini Pilihan Sarapan Rendah Kalori yang Praktis

Budaya tersebut lahir dari dorongan untuk membangun citra diri di ruang digital.

Foto makanan yang tertata rapi sering kali dimaknai sebagai simbol gaya hidup, selera, hingga status sosial.

Semakin menarik tampilan unggahan, semakin besar peluang memperoleh tanda suka, komentar, atau dibagikan kembali oleh pengguna lain.

Dalam kondisi ini, pengalaman menikmati makanan perlahan bergeser menjadi pengalaman memperoleh validasi dari ruang virtual.

Ironisnya, proses mengabadikan makanan sering kali berlangsung lebih lama dibandingkan proses menyantapnya.

Restoran yang awalnya dirancang sebagai tempat menikmati hidangan kini berubah menjadi studio mini.

Lampu tambahan, tripod, hingga pengaturan komposisi menjadi perlengkapan yang tak lagi asing. Bahkan, beberapa pengunjung rela memesan ulang makanan yang sama apabila hasil foto pertama dianggap kurang memuaskan.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pengalaman nyata semakin sering disesuaikan dengan kebutuhan konten digital.

Di sisi lain, tren tersebut juga membawa dampak positif bagi industri kuliner.

Banyak pelaku usaha mulai merancang interior restoran, penyajian makanan, hingga pencahayaan ruangan agar lebih "Instagramable".

Strategi ini terbukti mampu menarik pelanggan baru melalui promosi organik yang dilakukan pengunjung di media sosial.

Dalam konteks pemasaran digital, setiap unggahan pelanggan dapat menjadi media promosi gratis yang menjangkau ribuan pengguna tanpa biaya iklan yang besar.

Baca Juga: Isi Cerita Ruben Onsu di Podcast Deddy Corbuzier, Buka-Bukaan Ngaku Keuangan Drop Hingga Ditipu Mantan Karyawan

Namun, ketika estetika menjadi tujuan utama, muncul pertanyaan yang layak direnungkan.

Apakah seseorang masih benar-benar menikmati makanan yang disajikan, atau justru lebih menikmati respons yang muncul setelah unggahan dipublikasikan?

Ketika rasa tidak lagi menjadi prioritas pertama, melainkan visual yang harus dipertontonkan, maka fungsi makanan sebagai pengalaman personal mulai bergeser menjadi komoditas digital yang diproduksi untuk konsumsi publik.

Fenomena ini mencerminkan karakter masyarakat digital yang semakin akrab dengan budaya show before experience—menampilkan sebelum menikmati.

Nilai sebuah pengalaman tidak lagi hanya diukur dari apa yang dirasakan secara langsung, tetapi juga dari seberapa menarik pengalaman tersebut ketika dikemas menjadi konten.

Akibatnya, momen sederhana seperti makan bersama keluarga atau sahabat kerap terpotong oleh jeda panjang untuk mengambil gambar yang "sempurna", sehingga interaksi antarmanusia justru menjadi nomor dua.

Pada akhirnya, tidak ada yang keliru dengan mengabadikan makanan sebelum disantap.

Baca Juga: Mengapa Soekarno-Hatta Dibawa ke Rengasdengklok? Ini Fakta Penting yang Mengantar Proklamasi 17 Agustus 1945

Dokumentasi merupakan bagian dari perkembangan budaya digital yang tidak dapat dihindari.

Akan tetapi, ketika kamera lebih dahulu "menikmati" hidangan dibandingkan pemiliknya sendiri, barangkali ada yang mulai berubah dalam cara manusia memaknai sebuah pengalaman.

Sebab, makanan sejatinya diciptakan untuk dinikmati selagi hangat, bukan semata-mata untuk menjadi penghuni galeri media sosial.

Di tengah derasnya arus konten, mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali: apakah kita sedang menikmati makanan, atau justru sedang menyajikan hidup untuk dinikmati orang lain? (siti putri) 

Editor : Ferry Ardi Susanto
GenZ viral fenomena lifestyle konten