SOLOBALAPAN.COM - Pernah mendengar seseorang berkata, "Untunge ora luwih parah," atau "Untunge isih slamet," sesaat setelah mengalami musibah? Ungkapan seperti itu cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.
Alih-alih langsung meratapi kejadian yang dialami, sebagian orang justru lebih dulu menyebut hal yang masih bisa disyukuri.Kebiasaan mencari sisi yang masih baik inilah yang kerap dijumpai.
Bagi sebagian orang di luar budaya Jawa, respons tersebut mungkin terdengar unik. Sebab, di tengah situasi yang merugikan, perhatian justru diarahkan pada hal-hal yang masih tersisa atau tidak ikut hilang.
Baca Juga: Tren Browless Look Kembali Ramai, Gaya Alis Botak Bikin Penampilan Makin Edgy
Padahal, di balik ungkapan sederhana itu tersimpan cara pandang hidup yang telah lama dikenal dalam budaya Jawa, yakni nrima ing pandum.
Dalam penelitian berjudul Psikologi "Nrima ing Pandum": Sikap Penerimaan Diri Orang Jawa dalam Menjalani Kehidupan, dijelaskan bahwa nrima ing pandum merupakan sikap menerima berbagai peristiwa dalam kehidupan, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang.
Falsafah tersebut bukan dimaknai sebagai sikap pasrah tanpa usaha, melainkan mengandung nilai menerima, sabar, dan bersyukur sehingga seseorang mampu mengurangi rasa kecewa ketika menghadapi kegagalan atau musibah.
Baca Juga: Tak Selalu Harus Berat, Ini Pilihan Sarapan Rendah Kalori yang Praktis
Cara pandang itu membuat sebagian masyarakat Jawa cenderung lebih dahulu melihat apa yang masih dimiliki daripada berfokus pada kerugian yang dialami. Ungkapan "untunge" menjadi bentuk rasa syukur sederhana atas keadaan yang masih lebih baik dari kemungkinan terburuk.
Meski demikian, tidak semua orang Jawa memiliki kebiasaan yang sama. Ungkapan "untunge" lebih tepat dipahami sebagai salah satu ekspresi yang kerap dijumpai dalam kehidupan masyarakat Jawa. Faktor lingkungan, keluarga, hingga pengalaman hidup turut memengaruhi cara seseorang menyikapi musibah.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, kebiasaan sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa cara seseorang memandang sebuah peristiwa dapat memengaruhi respons yang muncul.
Editor : Adi Pras