SOLOBALAPAN.COM – Tawa riang anak-anak yang berlarian di lapangan sambil bermain gobak sodor, petak umpet, atau engklek kini semakin sulit dijumpai. Permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil perlahan tergeser oleh gawai dan permainan digital.
Perubahan gaya hidup menjadi salah satu penyebab utama memudarnya permainan tradisional di kalangan anak-anak. Jika dulu sore hari identik dengan anak-anak berkumpul di halaman rumah atau lapangan untuk bermain bersama, kini banyak yang lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar ponsel, tablet, maupun konsol gim.
Kemajuan teknologi memang menghadirkan beragam hiburan yang praktis dan mudah diakses. Berbagai permainan digital menawarkan grafis menarik, tantangan beragam, hingga fitur bermain secara daring yang membuat anak-anak semakin betah berlama-lama di dunia virtual.
Selain perkembangan teknologi, semakin terbatasnya ruang terbuka juga ikut mempercepat hilangnya permainan tradisional. Banyak lapangan dan lahan kosong yang dulu menjadi tempat bermain kini berubah menjadi kawasan permukiman, pertokoan, maupun gedung bertingkat.
Padahal, permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang kaya akan nilai-nilai sosial. Anak-anak belajar bekerja sama, berkomunikasi, bersikap jujur, sportif, serta melatih ketangkasan dan kemampuan memecahkan masalah.
Baca Juga: Sentuhan Kreatif dalam Pembelajaran Agama, SkeNU Hadirkan Buku Panduan Salat Anak Skena
Berikut beberapa permainan tradisional yang kini mulai jarang dimainkan.
1. Gobak Sodor
Gobak sodor merupakan permainan beregu yang dimainkan di lapangan dengan garis-garis sebagai pembatas. Satu tim bertugas menjaga garis agar lawan tidak bisa melewati area permainan, sedangkan tim lainnya berusaha menembus hingga garis terakhir lalu kembali ke titik awal tanpa tersentuh penjaga. Permainan ini melatih strategi, kerja sama, dan kekompakan.
2. Engklek
Permainan ini dilakukan dengan melompat menggunakan satu kaki pada kotak-kotak yang digambar di tanah. Sebelum melompat, pemain melempar penanda berupa pecahan genting atau batu kecil ke salah satu kotak. Engklek melatih keseimbangan, konsentrasi, dan koordinasi tubuh.
Baca Juga: Mengenal Main Character Energy yang Ngetren di Media Sosial
3. Petak Umpet
Petak umpet dimainkan oleh satu orang pencari dan beberapa pemain yang bersembunyi. Tugas pencari adalah menemukan seluruh pemain dalam waktu tertentu. Permainan ini melatih kemampuan mengamati, berpikir cepat, dan menyusun strategi.
4. Congklak (Dakon)
Congklak atau dakon dimainkan menggunakan papan berlubang dan biji-bijian. Pemain memindahkan biji sesuai aturan tertentu untuk mengumpulkan sebanyak mungkin biji di lumbung miliknya. Permainan ini melatih kemampuan berhitung, strategi, dan kesabaran.
5. Egrang
Egrang dimainkan menggunakan sepasang tongkat bambu yang dilengkapi pijakan kaki. Pemain harus menjaga keseimbangan agar mampu berjalan tanpa terjatuh. Selain menyenangkan, permainan ini melatih keberanian dan koordinasi tubuh.
6. Bakiak
Bakiak menggunakan alas kaki panjang dari kayu yang dipakai bersama oleh tiga hingga lima orang. Seluruh pemain harus melangkah secara serempak agar dapat berjalan dengan baik. Permainan ini mengajarkan kekompakan, komunikasi, dan kerja sama tim.
Meski mulai jarang dimainkan, permainan tradisional tetap memiliki nilai budaya yang tinggi. Selain mempererat interaksi sosial, permainan-permainan tersebut juga menjadi warisan budaya yang membentuk karakter anak melalui aktivitas yang sehat dan menyenangkan.
Melestarikan permainan tradisional bukan sekadar mengenang masa lalu. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan cara menjaga identitas budaya Indonesia agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Editor : Kabun Triyatno