SOLOBALAPAN.COM - Ada orang tua yang tak pernah sekalipun berkata, "Ayah bangga sama kamu."
Namun setiap pagi, ia memastikan kendaraan anaknya siap digunakan sebelum berangkat bekerja.
Ada ibu yang jarang memuji hasil kerja anaknya, tetapi diam-diam menyimpan foto wisuda, piagam penghargaan, atau hasil gambar yang dibuat anaknya sejak kecil.
Mereka mencintai, hanya saja tidak selalu melalui kata-kata.
Baca Juga: Maverick Vinales Bantah Bakal Didepak KTM, Tegaskan Tetap Balapan hingga Akhir Musim
Di banyak keluarga Indonesia, kalimat seperti "aku bangga sama kamu", "terima kasih", atau "aku sayang kamu" terasa begitu mahal untuk diucapkan.
Padahal, bukan berarti perasaan itu tidak ada.
Sering kali, kasih sayang justru hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: sepiring makanan yang sudah disiapkan, pertanyaan "udah makan belum?", pesan "hati-hati di jalan", atau diam-diam mentransfer uang ketika tahu anaknya sedang kesulitan.
Lalu, mengapa pujian dan validasi terasa begitu sulit diucapkan?
Dalam psikologi, bentuk kasih sayang setiap orang memang bisa berbeda.
Konselor hubungan Gary Chapman melalui konsep The Five Love Languages menjelaskan bahwa sebagian orang lebih mudah mengekspresikan perhatian melalui acts of service, yakni tindakan nyata untuk membantu orang lain, dibandingkan dengan words of affirmation, yaitu memberikan pujian, dukungan, atau ungkapan kasih sayang secara verbal.
Meski teori ini awalnya ditujukan untuk hubungan interpersonal, konsep tersebut juga banyak digunakan untuk memahami dinamika dalam keluarga.
Tak hanya itu, budaya juga memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang mengungkapkan perasaan.
Penelitian lintas budaya yang dilakukan psikolog budaya Geert Hofstede menunjukkan bahwa masyarakat kolektivistik, termasuk Indonesia, cenderung lebih mengutamakan keharmonisan kelompok dan ekspresi yang tidak langsung.
Dalam lingkungan seperti ini, kasih sayang sering kali diwujudkan melalui tanggung jawab, perhatian, atau pengorbanan, bukan melalui kata-kata yang diucapkan secara terbuka.
Baca Juga: Independent Woman Bukan Selalu Tentang Gaji Besar
Itulah mengapa banyak orang Indonesia tumbuh dengan kalimat-kalimat seperti, "Belajar yang rajin," "Jangan pulang malam," atau "Kalau sudah sampai kabari." Sekilas terdengar seperti nasihat biasa.
Namun di baliknya, tersimpan bentuk perhatian yang mungkin sulit mereka ucapkan dengan kalimat "Aku sayang kamu" atau "Aku bangga sama kamu."
Bukan berarti semua orang tua sengaja menahan pujian. Dalam banyak kasus, mereka sendiri dibesarkan dalam lingkungan yang juga minim validasi verbal.
Mereka belajar bahwa tugas orang tua adalah bekerja keras, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memastikan anak-anaknya hidup lebih baik.
Sementara ungkapan kasih sayang dianggap tidak terlalu penting untuk diucapkan karena diyakini sudah tercermin lewat tindakan.
Cara pandang ini perlahan mulai berubah. Generasi yang lebih muda kini lebih terbiasa mengungkapkan apresiasi secara langsung.
Kalimat seperti "aku bangga sama kamu", "kamu hebat", atau "terima kasih sudah berusaha" mulai lebih sering terdengar, baik kepada pasangan, teman, maupun anggota keluarga.
Bukan karena generasi sebelumnya kurang menyayangi, melainkan karena semakin banyak orang menyadari bahwa kata-kata juga memiliki kekuatan untuk menguatkan.
Berbagai penelitian dalam psikologi juga menunjukkan bahwa validasi dan apresiasi yang diberikan secara tulus dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri, memperkuat hubungan, serta mendukung kesehatan emosional seseorang.
Mendengar bahwa usaha kita dihargai sering kali menjadi dorongan sederhana yang mampu bertahan dalam ingatan selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, mungkin bukan cinta yang kurang di banyak keluarga Indonesia, melainkan kebiasaan untuk mengucapkannya. Kita tumbuh di lingkungan yang lebih sering menunjukkan kasih sayang melalui tindakan daripada kata-kata.
Namun bukan berarti keduanya harus dipertentangkan. Tindakan tetap penting, begitu pula ucapan.
Sebab bagi sebagian orang, satu kalimat sederhana seperti, "Aku bangga sama kamu," mungkin terdengar biasa.
Tetapi bagi orang lain yang belum pernah mendengarnya seumur hidup, kalimat itu bisa menjadi hadiah yang paling berharga. rastri rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto